Kamis, 22 Oktober 2015

Panitia Festival Burung Raptor


Ketua: Andri Nugroho
Sekertaris: Diva Aprilia A
Bendahara: Rizky Wulandari

Sie Acara:
-Puput T
-Risna A
Sie Humas:
-Aghnan Pramudihasan
-Christianti E R
-Naning F
-Rahmadiyono Widodo
Sie Konsumsi:
-Annisa Rahmi
-Lanna MP
-Prasetyo Adi Nugroho
Sie Perlengkapan:
-Insiwi P
-Katon Waskito Aji
-M. Hasbi A
Sie PDD:
-Ahmad S Abid
-Gahar Ajeng P

KPB Bionic UNY

Festival Burung Pantai KPB Bionic UNY

Pada tanggal 16-18 Oktober 2015, KPB Bionic UNY mengadakan sebuah event Festival Burung Pantai. Acara ini merupakan acara tahunan yang rutin diadakan untuk melatih anggota baru khususnya dan mahasiswa maupun masyarakat pada umumnya dalam mengenal burung pantai terutama burung pantai yang bermigrasi.

Acara dibuka di FMIPA oleh Ketua Bionic, Ahmad Saiful Abid dilanjutkan Materi I tentang Pengenalan dan Identifikasi Burung Pantai oleh Wahab Febri Andono. Setelah itu, peserta berangkat ke lokasi penginapan yang berada di Desa Banaran Kulon Progo. Lokasi ini dipilih karena dekat dengan pantai dan delta tempat burung-burung pantai migran menetap sementara.

Materi II tentang Pengenalan Trisik dan Potensi Burung Pantai yang disampaikan oleh Shaim Basyari. Diharapkan setelah penyampaian materi ini peserta mengetahui batasan Trisik secara geografis, administrative dan ekologis. Selain itu peserta juga mengetahui kondisi jenis-jenis ekosistem di Trisik beserta karakteristiknya beserta dinamika ekosistemnya.

Pengamatan burung pantai dilakukan tiga kali pada waktu sabtu pagi, sabtu sore, dan minggu pagi. Dari pengamatan yang sudah dilakukan, dijumpai beberapa jenis burung pantai pendatang seperti Terik Asia, Terik Australia, Cerek Pasir-Besar, Cerek Kernyut, Cerek Kalung-Kecil, Trinil Pantai, Trinil Semak, Gajahan Penggala, dll.

Acara ini diikuti sekitar 40 peserta mulai dari perorangan maupun instansi atau kelmpok pengamat burung seperti KPB Bionic UNY, Mapala Silvagama, Biolaska UIN, Kepak Sayap UNS, Banyumas Wildlife, dll. Dalam acara ini juga terdapat peserta termuda yang bernama Kaysan (11 tahun) tetapi sudah lumayan sering melakukan pengamatan burung.

Sebelum pengamatan burung terakhir, peserta juga diberikan Materi III tentang Dinamika Migrasi Burung-burung Pantai oleh Panji Gusti Akbar. Dalam materi ini disampaikan mengenai alasan burung-burung bermigrasi, lokasi dan jalur migrasi yang digunakan burung-burung, serta penyimpangan jalur migrasi yang dilakukan burung-burung migran.

Kepedulian di hari ini, kelestarian di masa depan

Sabtu, 10 Oktober 2015

Panitia Festival Burung Pantai KPB Bionic UNY


Ketua: Aghnan Pramudihasan
Sekertaris: Diva Aprilia A
Bendahara: Rizky Wulandari

Sie Acara:
-Rahmadiyono Widodo
-Risna A
Sie Humas:
-Andri Nugroho
-Insiwi P
-Annisa Rahmi
-Nurrohman EP
Sie Konsumsi:
-Puput T
-Naning F
-Hidayah Ina Q
-Lanna MP
-Arellea RD
Sie Perlengkapan:
-Ahmad S Abid
-Katon Waskito Aji
-M. Hasbi A
-Prasetyo Adi N
Sie PDD:
-Ajeng Narulita
-Gahar Ajeng P
-F Suci W

Minggu, 04 Oktober 2015

Kamis, 01 Oktober 2015

Mersi #5 Pengamatan Burung di Bunder Gunungkidul

Mersi #3 yang dilaksanakan pada hari Senin, 31 Agustus 2015 bisa dikatakan sangat mepet dan mendadak. Bagaimana tidak, informasi tentang pengamatan burung di Bunder, Playen, Gunungkidul ini dishare pada hari Kamis sebelumnya. Beberapa hal yang menunda kegiatan ini antara lain persiapan Bionic untuk berbagai rangkaian acara ospek kemarin. 
Pemilihan tanggal selalu bertabrakan dengan persiapan acara ospek. Selain itu, beberapa pengurus sedang dalam tugas mendalami kuliah serta kegiatan hima yang juga tidak bisa ditinggalkan. Setalah utak-atik dan negosiasi, akhirnya tanggal terakhir bulan Agustus dipilih. Bidang Operasional bernapas lega.

Binokuler yang menjadi gear pokok juga masih jalan-jalan mulai dari untuk pengamatan insidental, mengambil data skripsi, dan survey lokasi untuk kegiatan birdwatching for kids. Ada pula yang masih diopname karena sakit alias tidak berfungsi. Alhasil, Binokuler dari tetangga sebelah mejadi opsi utama. Empat buah Binokuler merk PENTAX siap dipakai.

30 jenis burung berhasil masuk ke dalam list.

Kepedulian di Hari Ini, Kelestarian di Masa Depan.

Senin, 06 Juli 2015

Elang-ular Bido, Si Titipan Tuhan

oleh: Nurrohman Eko Purnomo

Siang itu begitu cerah dengan angin yang cukup kencang. Gesekan dedaunan dari pohon-pohon besar hutan tropis pegunungan semakin menenggelamkan suara kicauan burung yang sedari tadi terdengar samar-samar di bukit yang berada pada ketinggian 1500 m ini. Begitulah suasana di bawah puncak Bukit Plawangan Taman Nasional Gunung Merapi waktu itu.

Ketika terpaan angin semakin kencang menghajar rimbunnya tajuk pohon, tiba-tiba terdengar suara nyaring dan melengking yang membuat rasa penasaran untuk mencari wujudnya. "Kiu-liu", berulang-ulang terdengar semakin keras. Mencari dimana sumber suara tersebut namun tidak juga menemukan karena rapatnya tajuk pohon diatas kami. “Puncak wes sak plintengan engkas, ayo ndang munggah nonton si Elang lagi soaring.”, begitu saya mengajak Arel dan Eky untuk mempercepat langkah kaki. 

Tibalah kami di puncak Bukit Plawangan di lereng selatan Gunung Merapi. Suara yang sebelumnya kami cari terdengar semakin menjauh dari tempat kami berada. “Tidak masalah, kalo cinta pasti datang lagi.” Pikirku. 

Hijaunya tajuk hutan kaliurang sangat jelas terlihat dari atas ini. Puncak Bukit Turgo disebelah barat terlihat sepantaran dengan kami berpijak. Selalu ada bonus cuci mata dan refresh pikiran yang penat bila kita sedang pengamatan burung. Menikmati indah karya Sang Maha Kuasa, mengucap syukur atas karunia-Nya yang diberikan semoga selalu menjadi hal wajib bagi kita semua.

…..

Kami memasang telinga, dan terdengarlah suara khas nyaring nan melengking yang sedari tadi kami cari. "Kiu-liuu……..", berulang-ulang terdengar semakin mendekat ke tempat kami. Dengan sigap kami bertiga mengambil senjata masing-masing (binokuler dan kamera). Dan……benar saja, seekor Elang berwarna abu-abu kecoklatan terbang sepantaran dengan kami berdiri. Yang terlihat waktu itu adalah bagian sayap atasnya. Ternyata Arel teman saya bukan melihat yang saya lihat waktu itu, dia melihat individu lain yang terbang diatas kami berada. Kali ini terlihat dengan jelas sayapnya membulat dengan garis putih khas di bagian bawah sayapnya. Mereka bersuara bersautan memanggil satu sama lain, sungguh romantis pasangan burung pemangsa ini.

Elang-ular bido dengan nama ilmiah Spilornis cheela atau nama inggris Crested serpent-eagle memiliki kebiasaan terbang soaring layaknya elang lain untuk mencari mangsa. Ciri morfologi elang ini yaitu pada wajahnya terdapat kulit kuning tanpa bulu yang seperti topeng. Mackinnon dkk menuliskan, pada waktu terbang terlihat garis putih lebar pada ekor dan garis putih pada pinggir belakang sayap. Remaja: mirip dewasa, tetapi lebih coklat dan lebih banyak warna putih pada bulu. Iris kuning, paruh ­coklat-abu-abu, kaki kuning. Raptor yang tidak selalu memangsa ular ini merupakan jenis elang yang paling umum di daerah berhutan sampai pada ketinggian 1.900 m tulis Mackinnon dkk.

Pasangan elang ini terbang melingkar berkali-kali diatas kami, kira-kira 20 meter diatas kepala kami. Sungguh suguhan yang tidak selalu kami dapatkan ketika setiap kali pengamatan. Beberapa frame berhasil didapat walaupun banyak yang kurang jelas karena grogi (bilang aja newbie) :D

Jujur, dari awal pertama kali melihat elang ini ketika pertama kali saya pengamatan burung, saya langsung cinta dengan si topeng kuning ini. Alasannya sederhana, karena keren. Elang ini tangguh karena tingkat adaptasi cukup kuat di berbagai tipe hutan, jika dibanding dengan rekan se-family Accipitridae penetap di Merapi yaitu Elang jawa/Javan hawk eagle (Nisaetus bartelsi) dan Elang hitam/ black eagle (Ictinaetus malayensis) yang sebarannya terbatas di hutan Merapi saja. 

Meskipun jenis ini masih cukup banyak, namun kita tetap kawatir akan kelestarian hidupnya karena perburuan liar untuk diperdagangkan. Pada tahun yang sudah serba gempar-gemparnya digalakkan konservasi ini masih saja dijumpai perdagangan satwa liar yang dilindungi pemerintah melalui undang-undang. Pemerintah memang melindungi semua jenis burung elang melalui undang-undang. Balai terkait dengan polisi kehutanannya sudah berusaha untuk melindungi semua satwa di dalam kawasannya. Kita sebagai masyarakat umum sudah selayaknya ikut menjaga kelestariannya dengan cara tidak memburunya apalagi merusak habitatnya yang kini semakin tersingkir oleh pembangunan kebutuhan manusia. Tuhan telah menciptakannya untuk dijaga manusia. Manusia adalah khalifah di bumi. Biarlah hutan sebagai sangkar aslinya. Biarlah mereka terbang tinggi bebas mewarnai angkasa. Menebarkan pesan cinta alam kepada seluruh makhluk bumi. Menghiasi langit Jogja, Indonesia.

Salam lestari, salam konservasi.

Kepedulian di hari ini, kelestarian di masa depan.

Sabtu, 27 Juni 2015

Berburu Foto Si Burung Arwah

oleh: Angga N. Cahyanto

Tujuh bulan sudah saya menjalani hidup di kabupaten Ende, sebuah kabupaten yang terletak persis di tengah-tengah pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Saya dibuat takjub dengan perbedaan kehidupan di sini dengan kehidupan di jawa. Selain karena kehidupan di sini mengingatkan saya akan cerita kakek saya di tahun tujuh puluhan yang hidupnya masih sangat amat sederhana, di sini budaya adat juga masih sangat dijaga dengan baik. Baik dipedalaman maupun di kota. Hampir setiap hal besar ada aturan adat yang harus dilalui lebih dahulu seperti pernikahan, panen, tanam, maupun kematian.

Selain acara-acara adat, di Ende juga masih terdapat banyak mitos yang masih bertahan. Hampir berbagai tempat di Ende memiliki mitosnya sendiri-sendiri. tentu saja hampir semua warga Ende yang terdiri dari suku Ende dan Lio mempercayainya, karena memang ada istiadat di Flores secara umumnya dan Ende secara khusunya masih terjaga dengan baik. Karena itulah tidak begitu mengherankan juga apabila di Ende juga ada sebuah mitos tentang burung yang sangat terkenal.

Burung mitos yang saya akan ceritakan kali ini bukannya burung khayalan, tapi burung yang memang ada dikehidupan nyata. Warga Ende mengenal burung ini dengan nama burung Garugiwa . Tapi jika dilihat di fildguide burung-burung Wallacea maka burung ini bernama kancilan flores. Seekor burung endemik dari pulau Flores dan Sumbawa.

Burung yang memiliki nama latin Pachycephala nudigula ini dipercaya sebagai burung arwah penjaga danau Kelimutu. Ya, burung Garugiwa merupakan salah satu flag di kawasan Taman Nasional Kelimutu dan menjadi ikon penting di Kelimutu. Warga Ende percaya bahwa setiap orang yang mati maka arwahnya akan berkumpul di ketiga danau yang terletak di atas gunung kelimutu dan Garugiwa adalah burung penjaga arwah-arwah itu.

Selama di Ende sudah empat kali saya mengunjungi Taman Nasional Kelimutu. Di kunjungan pertama dan kedua saya dibuat gemas dengan kicau merdu burung ini karena waktu itu hanya lensa kit yang saya bawa -itupun dapat pinjam dari teman-. Dikunjungan yang ketiga giliran saya sudah memiliki kamera yang layak untuk pengamatan burung malah cuaca mendung sangat tidak memungkinkan untuk pengamatan. Seharian saya tunggu burung Garugiwa tidak ada sama sekali petunjuk keberadaannya. Malah demam yang saya dapatkan. Akhirnya baru di kunjungan yang ke empat saya berhasil mengangkap burung ini di memori kamera saya.

Cuaca sangat cerah ketika kunjungan ke empat saya ini. Bahkan saya juga sempat mendapat sunrise yang begitu cantik, salah satu andalan di Taman Nasional Kelimutu. Cuaca yang cerah tersebut sangat pas sekali untuk melakukan birdwatching. Apalagi di TN Kelimutu memang sudah disediakan area untuk melakukan birdwatching yang bernama Arbotherium. Di sini pengunjung dapat dengan leluasa memasuki hutan di sekitar kelimutu tanpa harus bersusah-susah blusukan karena di Arbotherium sudah dibangun jalan setapak untuk melakukan birdwatching.

Sekitar pukul 07.00 Wita, setelah menikmati sunrise yang cantik, sayapun memulai petualangan saya di Arbotherium TN Kelimutu dengan misi mendapatkan foto burung mitos Garugiwa . Cuaca yang cerah memang benar-benar menjadi berkah untuk saya. Kicau burung Garugiwa begitu merdu terdengar saling bersahutan laiaknya konser musik disebuah acara festifal musik. Ya, burung Garugiwa memang memiliki kicau yang amat merdu. Menurut keterangan di papan informasi tentang burung Garugiwa di salah satu spot di TN Kelimutu, burung ini memiliki 15 jenis kicauan yang berbeda. Bahkan saya sendiri sampai bingung sendiri memilih burung Garugiwa mana yang akan menjadi buruan saya.

Mengamati burung Garugiwa menuntut kesabaran yang tinggi. Meskipun burung ini berukuran sedang, +- 25 cm, tapi burung ini amat sulit untuk diamati. Selain warna bulunya yang berwarna hijau sangat sesuai untuk kamuflase di antara tajuk tengah dan atas di rimbunnya hutan di TN Kelimutu, pergerakannya yang sangat aktif juga sangat menyulitkan untuk mengamati burung ini. Jadi benar-benar harus menunggu timing yang tepat ketika burung ini keluar dari persembunyiannya di antara dahan-dahan pohon. Ya, sebetulnya percuma saja meskipun kicau burung ini begitu mudah untuk didengar karena burungnya sendiri sangat sulit untuk diamati.

Burung Garugiwa pertama yang saya amati di pagi yang cerah itu benar-benar membuat frustasi. Kicaunya yang merdu dan banyak tersebut terdengar sangat dekat sekali, namun ketika dicari ke sekitar si Garugiwa entah berada di mana. Warna bulunya yang hijau benar-benar menjadi kamuflase yang sempurna. Setelah ia berpindah ke tajuk yang lain baru ketahuanlah posisinya yang sebenarnya berada. Dan ketika tersadar burung tersebut telah berada jauh di dalam hutan. Hal yang sama terjadi untuk burung Garugiwa kedua, ketiga, keempat, hingga entah berpa lagi sayapun sampai lupa menghitungnya. Namun kekecewaan saya akan burung Garugiwa yang gagal tertangkap oleh shoot kamera tidak begitu lama. Burung Garugiwa yang lain siap untuk menggantikan kekecewaan tadi. Setiap kali mendengar kicau burung ini rasanya menambah semangat berkali-kali lipat untuk mengejarnya.

Akhirnya kesempatan itu datang juga. Ini entah burung Garugiwa yang keberapa saya tak begitu mengingatnya. Yang terlintas dikepala saya saat itu adalah begitu bergairahnya saya mendengar kicau merdu si burung mitos yang begitu dekatnya. Namun sama seperti sebelumnya, burung ini entah bersembunyi dimana. Sayapun harus kembali rela untuk keluar dari jalur resmi dan kembali ke kebiasaan lama untuk blusukan ke dalam hutan.

Untuk Garugiwa yang kasekian ini akhirnya saya memutuskan untuk lebih sabar dan berusaha mencari celah dengan berputar-putar mencari sudut yang tepat. Dan mungkin karena memang burung ini sudah berjodoh dengan saya, Garugiwa yang satu ini hanya terbang dari satu pohon satu ke pohon lainnya yang tidak terlalu jauh dan malahan mengarah ke sisi jalan Arbotherium yang lain. Oh ya, jalan setapak di arbhoterium yang sudah disusun dengan sangat rapi dari batuan seperti taman ini tidak hanya satu arah jalan saja, tapi juga memiliki banyak cabang yang intinya untuk menelusuri setiap celah hutan, kecuali jika sudah mentok ke jurang tentunya.

Akhirnya kesabaran saya berbuah manis. Si burung mitos ini terbang ke tajuk pohon lainnya yang kebetulan tepat berada di sebelah jalan resmi Arbotherium. Dan dari sudut tersebut sayapun bisa melihat posisi keberadaan burung. Namun saya harus memutar sedikit untuk mendapatkan sudut yang tidak terhalang dedaunan. Setelah beberapa kali melancarkan shoot akhirnya saya mendapat beberapa foto yang memuaskan. Yah, well, akhirnya perjuangan saya mendapatkan hasilnya. Rupanya untuk mendapatkan si burung arwah memang harus dengan perjuangan yang besar.

Akhirnya kali ini saya bisa keluar dari TN Kelimutu dengan kepala tegak karena telah berhasil mendapatkan foto burung Garugiwa , burung yang dipercaya sebagai arwah penjaga danau Kelimutu. Ah, saya justru berfikir kalau mitos inilah yang telah berhasil menjaga keberadaan burung Garugiwa dari perburuan liar. Burung dengan kicau yang beraneka jenis dan merdu ini bisa dengan tenangnya mendiami suatu wilayah adalah sebuah hal yang patut dibanggakan. Dan sekali lagi bagaimana berhasilnya kearifan lokal telah berhasil menjaga keberedaan satwa liar dari tangan kotor manusia. Grugiwa si burung arwah pejaga yang telah berhasil dijaga di TN Kelimutu. Semoga kicau merdunya bisa bertahan meramaikan suasana sunyi G. Kelimutu.





Mersi #4 (Pendataan Burung Kampus)

Pendataan burung kampus merupakan kegiatan rutin tiap tahun yang dilakukan Kelompok Pengamat Burung Bionic Universitas Negeri Yogyakarta. Kegiatan yang sudah dilaksaksanakan sejak tahun 2004 ini bertujuan untuk mendata jenis-jenis burung dan kelimpahannya di Universitas Negeri Yogyakarta.

Pendataan burung kampus diaksanakan pada hari Sabtu-Minggu, 20-21 Juni 2015 memasuki bulan puasa. Pelaksanaannya dilakukan dua kali pengamatan setiap harinya yaitu pagi dan sore hari. Pengamatan pagi hari dimulai pukul 07.00 - 09.00 WIB dan pengamatan sore hari pukul 15.30 - 17.30 WIB.

Beberapa catatan menarik dalam pendataan burung kampus bulan Juni 2015 yaitu dijumpai tiga ekor Celepuk reban / Sunda Scops-Owl di Taman Pancasila, Gelatik jawa / Javan Sparrow di FBS, Remetuk laut / Golden-bellied Gerygone dan Kareo padi / White-breasted Waterhen. Namun, terdapat beberapa jenis burung yang tercatat di pendataan burung kampus sebelumnya tetapi tidak dijumpai di pendataan burung kampus tahun ini. Salah satunya adalah Gemak loreng / Barred Buttonquail yang biasanya terdapat di sekitar kebun dekat GOR UNY.

Pengamatan dilakukan dengan membagi area UNY menjadi lima blok pengamatan yaitu FMIPA-FE-FIS-FIP, LPPM-LPPMP-FT, Rektorat UNY-Auditorium UNY-Lapangan Sepak Bola FIK-Lapangan Tenis FIK, Kebun Biologi-FBS, dan Laboratorium FMIPA-GOR UNY. Pada kegiatan ini tercatat ada 38 jenis burung yang dijumpai. Hasil dari pendataan burung kampus ini akan dipublikasikan dalam bentuk poster dan banner.

Mersi #3 (Kaderisasi Lanjutan) di SM Sermo

Kadalan (Kaderisasi Lanjutan)
Dahulu kala, acara ini bernama Follow Up Gelatik lalu karena perekrutan anggota diganti menjadi Pergam, namanya pun berubah menjadi Follow Up Pergam. Karena dirasa terlalu panjang dan orang-orang Bionic lebih suka memakai nama jenis burung sebagai akronim, munculah Kadalan dengan kepanjangan Kaderisasi Lanjutan.

Tidak jauh berbeda dengan Follow Up Gelatik di tahun sebelumnya, acara ini fokus untuk menindaklanjuti kegiatan Pergam dimana peserta sudah diberikan bekal mengenai cara pengamatan burung, cara menggunakan alat, cara identifikasi burung, dan lainnya. Di kegiatan ini, peserta diberikan materi mengenai Dokumentasi dan Kepenulisan. Harapannya hasil pengamtan burung yang telah dilakukan dapat terdokumentasi dan tertulis menjadi lebih baik.

Materi Dokumentasi disampaikan oleh Ahmad S Abid sebagai Ketua Bionic 2013. Dalam materi ini disampaikan beberapa poin penting cara dokumentasi brung mulai dari ngelist dan sketsa burung, foto, dan video.

Materi selanjutnya tentang Kepenulisan disampaikan oleh Shaim Basyari. Untuk materi yang satu ini, sebenarnya banyak sekali poin-poin yang perlu dicatat mulai dari pentingnya menulis, mencatat hal-hal mengenai burung, membuat proposal penelitian, mengirimkan jurnal, cara mendapatkan inspirasi menulis, dan masih banyak lagi. Dari sekian slide yang ditampilkan, terdapat sebuah kalimat berbahasa Inggris yang artinya “Jika ingin melihat ke depan dengan lebih luas, berdirilah di atas bahu raksasa”. Semoga bisa menafsirkannya sendiri.

Pengamatan Burung
Perlu diketahui bahwa peserta pada acara Kadalan ini semuanya adalah perempuan.

Pengamatan burung dimulai Minggu pagi. Peserta dibagi menjadi 3 kelompok besar ditambah beberapa pemandu. Pengamatan dimulai sekitar pukul 07:00 sampai 10:00 wib. Setelah acara diskusi, diperoleh hasil kompilasi dari 3 jalur yang dilalui ditambah 1 jalur tambahan ditemukan 17 jenis burung yang menghuni Suaka Margasatwa Sermo.

Mersi #2 di Tlogo Nirmolo

Mersi #2 merupakan lanjutan dari program kerja Bidang Operasional. Sebelumnya sempat adu pendapat dengan Bidang Pemberdayaan Anggota mengenai agenda ini, apakah akan menjadi Mersi #2 atau Pelatihan Sketsa. Dua proker itu sama-sama melakukan pengamatan burung, namun berbeda tujuan. Sesuai rapat kerja, Mersi bertujuan untuk menambah list burung, menambah list tempat, maupun hanya sekedar pengamatan biasa dan kegiatan ini menjadi tanggungjawab Bidang Operasional. Sedangkan Mersi dari Pemberdayaan Anggota harus memiliki tujuan yang jelas, misalkan pelatihan sketsa.

Sebagai jalan tengahnya, Mersi #2 tetap dilaksanakan tetapi di hari sebelumnya diadakan pelatihan sketsa. Harapannya, setelah pelatihan sketsa ini, cikalang segera dapat mengaplikasikannya secara langsung teknik sketsa yang telah diberikan pada saat Mersi #2.

Setelah dibagi menjadi 3 kelompok besar, pengamatan dimulai. Jalur pertama menuju Goa Jepang, jalur kedua menuju Tlaga Putri, dan jalur ketiga menuju Puncak Plawangan. Sekitar pukul 08:30 pengamatan dimulai secara serentak.

Jalur Goa Jepang bersama Mas Hasbi, dkk; jalur Tlogo Putri bersama Rahamdiyono, dkk; dan jalur Puncak Plawangan bersama saya dan cikalang dari kelompok yang saya pandu sendiri, Dicaeidae dan tambahan dari kelompok Diva.

Pengamatan dengan kelompok terakhir itu bisa dikatakan sering "gagal fokus", mungkin efek pemandunya. Biasanya tujuan pengamatan burung menjadi prioritas kedua setelah tujuan lokasinya, sebut saja ingin ke air terjun atau ke puncak. Bukan hanya itu saja, pengamatan sering terhenti karena beberapa hal, biasanya sih lokasi bagus lalu selfie, ada anggrek, jamur, tupai, dan lain-lain. Namun itu semua bukan masalah bahkan menjadi bonus tersendiri selain memperoleh list burung guna mendapatkan nomor keramat.

Nah, Puncak Plawangan menjadi target utama saat itu. Mersi #2 dimulai. Berjalan cukup lama, tak satu pun burung terlihat, hanya terdengar suara. Burung-burung yang biasanya terlihat di beberapa titik tidak muncul. Beruntungnya, di salah satu spot kami menjumpai beberapa burung yang aktif bergerak. Dimulai dari Sikatan belang, Cabai gunung, Burungmadu sriganti, Kacamata biasa, Wergan jawa, dll.

Semuanya dalam satu spot, mungkin sampai sekitar 15 menit kami terhenti di spot ini mengamati burung-burung yang silih berganti bermunculan. Sayangnya, Bondol hijau-binglist tertinggal dan luput dari pengamatan. Kelompok lain yang menemukan. PR buat pemandunya karena juga belum pernah melihat.

Waktu yang semakin sedikit dan cuaca yang semakin panas sempat membuat semangatmuncak mereka hilang dan hampir menyerah. Iyo ra, cah? Namun, karena sedikit kebohongan dengan kata-kata seperti Kurang 10 menit tekan, kurang 7 belokan, dan lainnya, satu persatu dari mereka muncul di puncak. Terduduk. Itu yang saya lihat ketika mereka tiba dipuncak. Baru beberapa saat kemudian mereka berdiri dan mengucap kagum dengan pemandangan yang disajikan dari puncak.

Tak berapa lama kemudian kelompok Rahmadiyono, dkk yang seharusnya ke arah Tlogo Putri datang. Jalur mereka tertutup longsor sehingga berubah tujuan. Tiba-tiba kami dikejutkan dengan seekor burung yang terbang cepat melewati kami, lalu dengan anggunnya bertengger di dahan pohon yang berda di Puncak Plawangan.

Warna tubuh dominan biru dengan perut putih dan sekitar mata hitam. Dialah Sikatan ninon / Indigo flycatcher yang umum dijumpai di ketinggian. Hanya dua frame saja yang saya dapatkan sebelum burung ini terbang kembali.

Minggu, 05 April 2015

Mersi #1 Bionic Bulan Maret 2015

Kampus FMIPA UNY masih tampak sepi pagi ini. Tidak ada aktifitas kuliah karena hari ini hari Sabtu. Sesuai rencana, hari ini ada Mersi (Mersani peksi) atau pengamatan burung di sekitar kampus dan lembah UGM. Di depan Sekre Bionic baru ada beberapa orang, seperti biasa.
Mersi #1 Bionic Bulan Maret 2015 di Lembah UGM - Foto dari Hasbi
Pukul 07:00 pengamatan burung dimulai. Dua ekor burung Bondol haji dan Bondol peking mengawali list kami. Keduanya sedang mencari material sarang. Dilanjutkan beberapa Cucak kutilang di berbagai tempat mulai dari ranting, kabel, dahan kelapa, dan di atap bangunan.

Seekor Kerak ungu juga sempat terlihat di bangunan perpustakaan. Menurut buku panduan MacKinnon, burung ini hanya tersebar di Sumatera dan Kalimantan. Burung ini dimungkinkan lepasan tetapi mampu beradaptasi dan berkembang biak di Jawa khususnya di kampus UNY.

Di lembah UGM, kurang afdol jika belum melihat burung air. Tiga Kowak-malam abu terlihat bersembunyi di antara rimbunan dahan pohon yang berada di tengah air lembah. Dua ekor dewasa dan satu ekor masih remaja, terlihat dari warna bulunya yang masih kotor.

Di tempat lain, seekor Takur ungkut-ungkut sedang membangun sarang. Burung ini terlihat tidak merasa terganggu dengan kehadiran kami. Tidak jauh dari tempat Takur ungkut-ungkut, kami disuguhi pertunjukan dari Kipasan belang yang aktif bergerak dan mengingibaskan ekornya. "Nggaya tenan buntute!" celetuk salah seorang cikalang.

Sebelum sesi diskusi dan rekap data, gerombolan Punai gading terbang sekitar 20 individu ke arah barat daya. Dari hasil diskusi, tercatat 25 jenis burung. Sesaat sebelum diskusi ditutup, seekor burung ghaib menampakkan diri. Wiwik uncuing immature dengan warna burik atau loreng-loreng, lingkar mata kuning dan mata hitam yang membedakannya dengan Wiwik kelabu immature. List pun bertambah menjadi 26 jenis burung (Aghnan).

Berikut list burung Mersi #1
Pengamat: Bionicers dan Cikalang
Hari: Sabtu, 28 Maret 2015
Waktu: 07.00-10:30 WIB
Lokasi: Taman Pancasila - Foodcourt - FBS - Lembah UGM
  1. Bondol jawa
  2. Bondol peking
  3. Bondol haji
  4. Cucak kutilang
  5. Merbah cerukcuk
  6. Burunggereja erasia
  7. Burungmadu sriganti
  8. Layang-layang api
  9. Layang-layang rumah
  10. Walet linci
  11. Kapinis rumah
  12. Cangak abu
  13. Kerak kerbau
  14. Kerak ungu
  15. Kowak-malam abu
  16. Kareo padi
  17. Wiwik uncuing immature
  18. Cipoh kacat
  19. Cabai jawa
  20. Raja-udang meninting
  21. Cekakak sungai
  22. Takur ungkut-ungkut
  23. Punai gading
  24. Tekukur biasa
  25. Perkutut jawa
  26. Kipasan belang
Kepedulian dihari ini, kelestarian dimasa depan.

Tunggu Mersi #2 di Bulan April 2015.

Selasa, 03 Februari 2015

Panitia Pergam 2015


No
Amanah
Nama
PENGURUS INTI
1
Ketua
Rahmadiyono Widodo
2
Sekretaris
Diva Aprilia Afifah
3
Sekretaris II
Maulita Wulan N.
4
Bendahara
Rizky Wulandari
SIE ACARA
1
Koordinator
Muhammad Hasbi A.
2
Staf
Aghnan Pramudihasan
3
Staf
Christianti Elis Rahayu
4
Staf
Annisa Rahmi
5
Staf
Andri Nugroho
SIE PDD
1
Koordinator
Febrina Suci Wulandari
2
Staf
Dwiana Muflihah
3
Staf
Gahar Ajeng Prawesthi
SIE KONSUMSI
1
Koordinator
Insiwi Purwiansari
2
Staf
Arellea Revina Dewi
3
Staf
Naning Imroatul Faizah
4
Staf
Puput Triambar
5
Staf
Risna Aprilia
SIE HUMAS
1
Koordinator
Lanna Murphi Pertiwi
2
Staf
Nurrohman EP
3
Staf
Hidayah Ina
4
Staf
Ajeng Narulita
SIE PERKAP
1
Koordinator
Satrio Haryo Pamungkas
2
Staf
Katon Waskito Aji
3
Staf
Prasetyo Adi Nugroho


TEMU PERDANA AKAN DIINFORMASIKAN MENYUSUL

KPB Bionic UNY

Jumat, 16 Januari 2015

Pengurus UKMF KPB BIONIC UNY 2015

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

DENGAN MENYEBUT ASMA ALLAH YANG MAHA PENGASIH LAGI MAHA PENYAYANG

SUSUNAN KEPENGURUSAN UKMF KPB BIONIC UNY
MASA ABDI 2015

No
Amanah
Nama
Prodi
PENGURUS HARIAN
1
Ketua
Ahmad Saiful Abid
Pend. Biologi 12
2
Sekretaris
Diva Aprilia Afifah
Biologi 13
3
Bendahara
Rizky Wulandari
Biologi 13
BIDANG PEMBERDAYAAN ANGGOTA
1
Koordinator
Muhammad Hasbi Ashiddiqi
Pend. Biologi 13
2
Staf
Rahmadiyono Widodo
Pend. Biologi 13
3
Staf
Christianti Ellis Rahayu
Pend. Kimia 13
4
Staf
Risna Aprilia
Pend. Kimia 13
5
Staf
Puput Tri Ambarwati
Pend. Kimia 13
BIDANG OPERASIONAL
1
Koordinator
Aghnan Pramudihasan
Pend. Biologi 12
2
Staf
Andri Nugroho
Pend. Biologi 12
3
Staf
Naning Imroatul Fauzia
Pend. Kimia 13
4
Staf
Nurrohman Eko Purnomo
Biologi 11
BIDANG MEDIA DAN INFORMASI
1
Koordinator
Febrina Suci Wulandari
Pend. Biologi 12
2
Staf
Gahar Ajeng Prawesti
Pend. Biologi 13
3
Staf
Dwiana Muflihah
Biologi 12
BIDANG HUMAS
1
Koordinator
Satrio Haryo Pamungkas
Biologi 12
2
Staf
An Nisaa Rakhmi
Pend. Biologi 13
3
Staf
Arellea Revina Dewi
Biologi 11
KERUMAHTANGGAAN
1
Koordinator
Insiwi Purwianshari
Biologi 13
2
Staf
Maulita Wulan Nugraheni
Pend. Biologi 12
3
Staf
Lanna Murpi Pertiwi
Pend. Biologi 13


TEMU PERDANA AKAN DIINFORMASIKAN MENYUSUL

KPB Bionic UNY