Minggu, 27 November 2016

JBW Bulan November 2016 di Blok O Jogja

JBW (Jogja Bird Walk) merupakan agenda pengamatan burung setiap bulan yang di koordinasi langsung oleh PPBJ (Paguyuban Pengamat Burung Jogja). Dalam setiap pelaksanaannya, penanggung jawab JBW ini dilimpahkankan kepada kelompok – kelompok pengamat burung anggota PPBJ. Salah satu tujuan dari diadakannya pengamatan burung rutin ini adalah untuk membantu tim ABI (Atlas Burung Indonesia) dalam menghimpun data burung yang ada di seluruh wilayah khususnya Jogja dan sekitarnya.

“Jogja merupakan daerah dimana kelompok pengamat burungnya terbanyak daripada daerah – daerah lain, sehingga diharapkan dapat menyumbang data yang banyak pula untuk perkembangan atlas burung Indonesia yang terus memperbarui data temuan burung di berbagai wilayah di Indonesia,” kata Koordinator PPBJ, Rahmadiyono Widodo, Minggu (27/11/2016).

Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan minat dalam pengamatan burung untuk mengeksplorasi burung dan habitatnya, khususnya bagi para anggota baru dari berbagai organisasi pengamat burung. Kegiatan ini juga sebagai ajang silaturahmi antar organisasi yang termasuk dalam PPBJ.

Pada bulan November, JBW dilimpahkankan kepada KP3Burung FKT UGM yang mengambil lokasi di Blok O, Adi Sucipto. Kegiatan ini diikuti oleh beberapa organisasi pengamat burung diantaranya Binobio UAD, Biolaska UIN, KSSL FKH UGM, KP3 UGM, Mapala STTL ITY, KSB UAJY dan KPB Bionic UNY.

Acara pengamatan berlangsung pada pukul 07.30 – 09.00 WIB dan dilanjutkan dengan sesi diskusi yang dipimpin langsung oleh Aim dari KP3Burung FKT UGM. Diskusi dimulai dengan perkenalan dari masing- masing organisasi dan dilanjutkan dengan menyampaikan jenis burung yang dijumpai selama pengamatan berlangsung. Beberapa burung yang berhasil teramati yaitu Cekakak Sungai, Raja Udang Meninting, Kipasan Belang, Kapasan Kemiri, Kareo Padi, Sepah Kecil, dan sebagainya dari 21 jenis burung yang dijumpai. Daftar jenis burung bertambah ketika salah satu dari anggota KPB BIONIC UNY, Panji Gusti Akbar melihat burung Tangkar Centrong yang terbang melintas dan mengalihkan sejenak acara diskusi yang sedang berlangsung dan sekaligus menjadi list jenis burung ke-22 yang teramati. 

Setelah penyampaian list jenis burung yang dijumpai, dalam kegiatan ini KPB Bionic UNY "ditodong" untuk berbagi cerita mengenai PPBI IV di Lombok bulan kemarin.

Di akhir sesi diskusi, disampaikan pula oleh Rahmadiyono Widodo selaku Koordinator PPBJ yang baru mengenai susunan kepengurusan PPBJ yang baru dan program kerja PPBJ yang salah satunya adalah Meninting. Meninting merupakan akronim dari Menulis Itu Penting, sebuah forum menulisnya pengamat burung di Yogyakarta. Tujuan kegiatan ini terutama untuk mendorong produktifitas menulis dan memublikasikannya secara ilmiah hasil-hasil pengamatan maupun penelitian para pengamat burung Jogja. (Desi/Aghnan)

Rabu, 23 November 2016

Mersi di TNGM

Kawasan Taman Nasional Gunung Merapi memiliki potensi fauna yang cukup tinggi. Berdasarkan hasil survey yang telah dilakukan diketahui  97 jenis burung (2.714 individu, 32 famili) dan 15 jenis mamalia (167 individu, 10 famili). Dari jenis-jenis tersebut, 17 jenis burung dan 4 jenis mamalia termasuk jenis yang dilindungi menurut PP No 7 Tahun 1999, 6 jenis memiliki nilai konservasi tinggi (IUCN 2011), 9 jenis diawasi dalam perdagangan satwa langka (CITES), 23 jenis endemik Indonesia dan 2 jenis termasuk feral atau bukan sebaran alami Indonesia atau domestik.

Tak salah kalau kawasan Taman Nasional Gunung Merapi menjadi salah satu lokasi favorit untuk pengamatan burung. Beberapa kelompok pengamat burung di Jogja hampir dipastikan pernah berkegiatan di kawasan TNGM.

Hari Minggu (20/11) kemarin, KPB Bionic UNY melakukan Mersi (Mersani Peksi) atau pengamatan burung di Taman Nasional Gunung Merapi, tepatnya di Telaga Nirmolo. Kegiatan ini merupakan program dari bidang Operasional yang bertujuan untuk memberdayakan dan meningkatkan kemampuan anggota KPB Bionic UNY dalam kegiatan eksplorasi burung dan habitatnya serta meningkatkan kepedulian mahasiswa terhadap keanekaragaman hayati di Indonesia terutama jenis burung. Selain itu, kegiatan ini dapat menjadi ajang pengenalan anggota baru dengan anggota lama serta temu kangen antar anggota senior dengan Bionicers lainnya.

"Mersi di Tlogo Nirmolo kali ini mengambil jalur ke Puncak Plawangan. Peserta dibagi menjadi 2 tim agar tidak terlalu riuh dan lebih fokus saat pengamatan," kata Andri Nugroho.

Beberapa jenis burung yang dijumpai antara lain burung hutan seperti Kacamata biasa, Brinji gunung, Empuloh janggut, Walik kepala ungu, Srigunting kelabu dan Bentet biasa. Burung semak seperti Brencet kerdil, Brencet berkening dan Tesia jawa juga teramati. Elang ular bido dan Sikep madu asia juga masuk dalam list pengamatan. Dalam kegiatan MERSI kali ini, setidaknya ada 30 jenis burung yang tercatat.

Kepedulian di hari ini, kelestarian di masa depan (Aghnan Pramudihasan).

Selasa, 15 November 2016

Biologi Mengajar ala KPB Bionic UNY

Himabio FMIPA UNY mengadakan kegiatan Aksi Sosial Himabio 2016 dengan tema `Biologi Berbagi, Wujudkan Insan Peduli` di Kuwon Tengah, Pacarejo, Semanu, Gunungkidul (5-6/10). Beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain penyuluhan tentang pembuatan pupuk kompos, cek kesehatan gratis, pemberian sembako, pemberian susu gratis untuk anak-anak dan bazar baju.

Selain itu ada kegiatan Biologi Mengajar, dimana Himabio FMIPA UNY bekerjasama dengan SMP PGRI Semanu. Pada kegiatan Biologi Mengajar ini Himabio FMIPA UNY mengajak BSO BSG, Kelompok Studi Herbiforus dan KPB Bionic UNY.

Masing-masing organisasi memberikan materi dan pelatihan sesuai bidang yang ditekuni kepada siswa kelas VII SMP PGRI Semanu. BSO BSG dengan materi tentang kelelawar, KS Herbiforus dengan pelatihan pembuatan pot hidroponik sederhana dan KPB Bionic UNY dengan materi tentang burung.KPB Bionic UNY memberikan materi tentang Burung dan Habitatnya, Nilai Penting Burung, serta Kegiatan Pengamatan Burung.

Siswa juga berkesempatan untuk mencoba menggunakan teropong binokuler, alat bantu yang digunakan untuk melihat burung di alam. Kegiatan pengamatan burung di alam secara langsung tidak memungkinkan karena saat itu siang hari. Perjumpaan dengan burung akan sangat sulit jika memaksakan untuk melakukan pengamatan secara langsung.

Beberapa siswa sudah mengenal burung-burung di sekitarnya tetapi masih dengan nama lokal, seperti talokan atau burung cabai jawa, tengkek atau burung cekakak dan lainnya. Ternyata masih banyak dari mereka yang belum mengetahui bahwa ada beberapa burung yang dilindungi karena dari pengakuan mereka, mereka masih senang berburu burung menggunakan ketapel. Setelah penyampaian materi ini diharapkan mereka dapat belajar untuk peduli lingkungan khususnya burung. (Aghnan)

Selasa, 08 November 2016

PPBI VI di Lombok

Pertemuan Pengamat Burung Indonesia (PPBI) merupakan kegiatan rutin tiap tahun yang dilaksanakan oleh Pengabdi (Pengamat Burung Indonesia). Tujuan diadakannya kegiatan ini adalah sebagai ajang silaturahmi antarpengamat burung dari berbagai instansi maupun komunitas fotografer alam liar khususnya burung dan juga membahas perkembangan Atlas Burung Indonesia.

PPBI VI tahun ini dilaksanakan di Taman Wisata Alam Kerandangan Lombok (28-30/10), setelah di tahun sebelumnya dilaksanakan di Bandung. Terpilihnya Lombok sebagai lokasi PPBI tidak lepas dari adanya burung-burung khas yang mudah dijumpai di Lombok antara lain Celepuk Rinjani, Cekakak Kalung Coklat dan Paok Laus.

Peserta PPBI VI berasal dari berbagai intstansi maupun komunitas pengamat burung dan fotografer alam liar khususnya burung. Beberapa peserta yang ikut meramaikan PPBI VI antara lain KPB Bionic UNY, Biolaska UIN SUKA, Haliaster Undip, Kepak Sayap UNS, Comata UI, Kecial Unram dan instansi lain serta komunitas fotografer alam liar. KPB Bionic UNY menjadi salah satu kelompok yang paling banyak mendelegasikan anggotanya yaitu sebanyak 10 orang.

Kegiatan PPBI VI dimulai dengan laporan ketua panitia dan sambutan dari perwakilan BKSDA NTB kemudian dilanjutkan dengan presentasi kegiatan dari masing-masing wilayah. Dari wilayah Jogja presentasi diwakili oleh Rahmadiyono Widodo selaku Koordinator Paguyuban Pengamat Burung Jogja (PPBJ) sekaligus pengurus aktif KPB Bionic UNY.

Di setiap waktu luang, peserta memanfaatkannya untuk berburu mendokumentasikan Celepuk Rinjani dan mencoba untuk menemukan Paok Laus. Beberapa peserta juga mendapatkan kesempatan untuk melakukan pengamatan Burung Raptor di Bukit Nipah dimana jarak pandang dengan Burung Raptor sangat dekat dan dalam jumlah banyak. Peserta juga mendapat kesempatan untuk trip ke Gili Meno sekaligus melakukan pengamatan burung air dan burung pantai.

Selain pengamatan burung, peserta juga memperoleh materi mulai dari Burung-burung di Lombok dan Sumbawa oleh Saleh Amin, Kontribusi Fotografi Satwa Liar dalam Ornitologi oleh Muhammad Iqbal, Atlas Burung Indonesia oleh Imam Taufiqurrahman dilanjutkan oleh Nurdin Setyo Budi selaku Koordinator Tim Kartografer Atlas Burung Indonesia.

Materi terakhir tentang Citizen Sains oleh Swiss Winnasis kemudian dilanjutkan dengan diskusi untuk menentukan lokasi PPBI VII tahun 2017. Berdasarkan diskusi dan voting dengan berbagai pertimbangan yang telah disampaikan oleh masing-masing perwakilan dari tiap kandidat, terpilihlah Kota Bima sebagai lokasi PPBI VII tahun 2017 mendatang. (Aghnan)

Rabu, 02 November 2016

KPB Bionic UNY Ikuti KNPPBI 2016


KPB Bionic UNY mengikuti Konferensi Nasional Peneliti dan Pemerhati Burung di Indonesia (KNPPBI) yang pada tahun 2016 adalah pelaksanaan tahun kedua. Setelah sukses dilaksanakan di Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun lalu, tahun ini KNPPBI II dilaksanakan di Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY),(4-6/2). Ketua panitia KNPPBI, Ign. Pramana Yuda menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan ajang komunikasi antar peneliti dan pemerhati burung dan meningkatkan sinergi dan kerjasama. Kerjasama yang dimaksudkan adalah kerjasama dalam pengembangan ornitologi dan konservasi burung di Indonesia.

KNPPBI II terdiri dari tiga kegiatan yaitu simposium (diskusi panel dan paralel), workshop, serta pameran foto. Konferensi dibuka oleh Rektor UAJY dilanjutkan sesi simposium. Sesi simposium diawali oleh Ir. Sonny Partono, MM. dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan kemudian dilanjutkan oleh Prof. Emeritus Dr. Pilai Poonswad dari Universitas Madihol Filipina.

Selain Prof. Emeritus Dr. Pilai Poonswad, pembicara utama dalam simposium panel adalah Imam Taufiqurrahman (anggota KPB Bionic UNY angkatan I) yang menyampaikan materi tentang Atlas Burung Indonesia. Pada sesi simposium paralel, KPB Bionic UNY berhasil meloloskan enam abstrak dan mempresentasikannya. Lima abstrak dipresentasikan pada oral presentation dan satu abstrak pada poster presentation. Lima abstrak pada oral presentation merupakan hasil penelitian populasi burung elang-ular bawean (Spilornis baweanus) di Pulau Bawean oleh Aghnan Pramudihasan, diversitas burung di hutan Petungkriyono Pekalongan oleh Kurnia Ahmadin, diversitas burung di lereng selatan dan utara Gunung Merapi oleh Arellea Revina Dewi, populasi Burung Anis Gunung (Turdus poliochepalus) di lereng selatan dan utara Gunung Merapi oleh Nurrohman Eko Purnomo, dan kegiatan bird watching for kids oleh Rahmadiyono Widodo. Satu abstrak pada poster presentation merupakan hasil penelitian Burung Cerecet Jawa (Psaltria exilis) di Cibodas oleh Andri Nugroho. Selain itu, empat anggota KPB Bionic UNY juga berhasil meraih Grant for Student and Young Birder, empat anggota tersebut adalah Aghnan Pramudihasan, Arellea Revina Dewi, Nurrohman Eko Purnomo, dan Rahmadiyono Widodo. Tidak hanya pada sesi simposium paralel, KPB Bionic UNY juga menorehkan prestasi pada ajang pameran foto. Dari 51 foto terbaik yang dipamerkan, 20 foto diantaranya adalah hasil karya anggota KPB Bionic UNY.

Konferensi diakhiri dengan kegiatan workshop(6/2). Workshop terbagi kedalam empat topik yaitu konservasi raptor Indonesia, distance analysis, spacial modeling untuk konservasi, dan ekologi molekuler burung. Melihat prestasi yang baik pada KNPPBI II, KPB Bionic UNY akan berusaha untuk menorehkan prestasi lagi di Konferensi Nasional Peneliti dan Pemerhati Burung di Indonesia III yang direncanakan dilaksanakan di Universitas Udayanan Bali. (R. Widodo)