Jumat, 29 Desember 2017

Lama Tak Berkunjung!

oleh Olivia Kurnia

Satu, bukan, dua, bukan juga, tiga, yaa hampir tiga tahun lalu menginjakkan kaki di sini (lagi). Masih dalam rangka yang sama, pengamatan burung. Tempat ini memang menjadi spot favorit pengamatan burung pantai migran, selain area persawahan seberang sana.

Jenis burung yang ditemui memang tak sebanyak waktu itu, tapi beberapa bisa terlihat jelas, bahkan cenderung burungnya mendekat ke kita. Bonus. Mengandalkan metode 'stay and wait'. Just for info, katanya kalo pagi kebanyakan burung lagi cari makan di area persawahan sono, nah sorenya baru ke tempat ini. buat sunsetan?. 

Burung pantai
Nah pengamatan ini pagi hari, jadi jenis burungnya cuma ditemui sedikit. Pengamatan kali ini bersama mas kir, mas wahab, mas hasbi, aghnan, andri, wicak, ika, miun, dan tentunya saya. Walaupun berangkat tidak bebarengan, tapi tujuan kita sama. Ahay. 
beberapa burung yang dijumpai

Burung pantai memang terkenal dengan penampakan yang cenderung sama. Jika dilihat sekilas saja, mungkin orang akan mengira burung itu sama semua. Beberapa jenis burung hanya dibedakan berdasarkan ukuran paruh, bentuk paruh, jenjang kaki, dll. Nah orang yang sekilas melihat, termasuk saya, akan menyangka semua burung itu merupakan jenis burung yang sama. 

Namun, karena pengamatan ini bersama mas kir dan mas wahab yang lebih expert tentang burung pantai, kami banyak diberitahu jadi lebih bisa membedakan jenis burung yang dilihat. Misalnya Cerek Pasir Besar dengan Cerek Pasir Mongolia. Cerek Pasir Besar memiliki paruh pendek tebal dengan tibia lebih panjang. Sementara, Cerek Pasir Mongolia memiliki paruh pendek tipis dengan tibia lebih pendek daripada Ceret Pasir Besar. Selain itu, ukuran tubuhnya pun lebih kecil. Tapi tetap saja, kalo burungnya yang muncul cuma satu dan nggak ada pembandingnya, aku mah bisa apa. Intinya, jam keker kudu tinggi!

Selalu dapet ilmu baru disetiap momen pengamatan burung. Kali ini (juga). Pengetahuan baru yang didapat dari mereka-mereka yang lebih expert didunia perburungan. 

Mode "Stay and Wait"
Sebab ilmu itu tanpa batas. Akan terus selalu bertambah dan begitu teramat luas. Yang terbatas hanyalah keinginan kita. Jika sudah merasa cukup maka cukup. Jika belum, maka barulah itu yang disebut dengan pencarian tanpa batas. (Panji Ramdana) 

Nb:
Sampai rumah ternyata saya membawa oleh-oleh dari pengamatan burung pantai ini. Ya, punggung saya gatel-gatel dan bentol-bentol. Sebenernya uda kerasa pas pengamatan, tapi cuek saja. Sampe rumah dilihat, ternyata ada bekas ulat yang mati di celana, mungkin ke'duduk'an. Beberapa hari masih merasakan gatelnya. Sepertinya lain waktu kudu lebih waspada lagi.

Rabu, 27 Desember 2017

PERGAM, LANGAH PERTAMAKU

oleh Kidung Tyas S.

Jumat, 21 Oktober 2016 tanggal penting yang tercantum dalam agendaku. “PERGAM BIONIC”. Acara pertamaku dalam ranah ‘burung’. Seneng, deg-degan tapi juga bingung. Sejak minggu-minggu awal mendekati tanggal tersebut, aku sudah mulai menyiapkan untuk acara tersebut.

Pada 21 Oktober, pukul 22.15 WIB aku baru berangkat dari kampus menuju tempat PERGAM menyusul peserta-peserta yang lain. Kali pertama aku pergi malam-malam hanya berdua bersama Findya, temanku. Kebetulan diapun akan mengikuti PERGAM Bionic juga. Sesampainya di lokasi PERGAM, jam sudah menunjukkan sekitar pukul 23.45 WIB dan sudah menginjak acara istirahat. Akupun ikut serta merebahkan diri untuk memejamkan mata.

Pagi hari, agenda yang ditunggu-tunggu. Pengamatan burung pertamaku diluar kawasan kampus UNY. Pengamatan kali ini dibagi-bagi dalam kelompok-kelompok kecil, didampingi oleh pemandu kelompok. Dalam satu kelompok terdiri antara 6-10 orang dengan duan atau tiga pemandu. Sayangnya, aku lupa siapa saja anggota kelompokku, dan pemanduku. Yang aku ingat aku sekelompok dengan Alfian, Viola, dan didampingi oleh Mas Andri dan Mba Ulfia. Perjalanan kami diawali dengan medan yang agak mendaki. Dengan penuh semangat dan antusias kami menapaki medan selangkah demi selangkah. Hingga pada spot pertama, saya dan teman-teman menemukan empat ekor burung dengan hipotesis burung bondol jawa (Lonchura leucogastroides). Burung itulah yang pertama-tama kami temukann dalam pengamatan pagi itu. 

Semakin jauh kami berjalan, daerah yang kami lalui semakin menarik, sepi senyap, hanya terdengar suara-suara burung yang membuat kami terpana. Sesekali kami mencoba berfoto di jalan yang kami lalui. Kamipun menemukan burung kedua kami, yaitu burung cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster). Burung cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster) yang kami temukan berjumlah dua ekor. Lama sekali kami mengintai cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster), karena awalnya kami masih ragu itu burung apa. Setelah terpecahkan teka-teki burung kedua tersebut, kami melanjutkan perjalanan kami. Dan kamipun menemukan burung ketiga, yaitu dua ekor burung madu sriganti (Cinnyris jugularis).

Kamipun melanjutkan perjalanan kami. Ditengah-tengah perjalanan, kami mendengar suara burung, tapi kami tak mengetahui itu suara burung apa (mungkin pemandu kelompok kami sebenarnya sudah mengetahuinya). Kamipun menerobos semak-semak belukar didepan kami untuk mencari sumber suara. Namun sayangnya, burung-burung dengan suara tadi tidak terbang bebas, tetapi hanya berdiam diri di pohon besar dan pohon itu sangat tinggi. Semakin lama mengamati burung dengan suara tadi, kamipun tidak menemukan wujud burung tadi. Berhubung kami menggunakan baju warna gelap, kami malah dikerubungi nyamuk, akirnya kami menyerah mengintai burung tadi.

Kamipun melanjutkan perjalanan walau masih menyimpan rasa penasaran. Tak jauh dari tempat semula, kami mendengar suara burung kembali. Kami kembali menerobos semak-semak, mencari sumber suara. Menurut pemandu kami, Mas Andri, suara burung yang kami dengar adalah suara dari ayam hutan betina. Rasa penasaran kami semakin besar. Semakin menerobos ke dalam tetapi kami tak kunjung menemukan sosok dari ayam hutan betina. Berhubung waktu sudah menginjak siang, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan tanpa melihat ayam jantan betina tadi. Kamipun sempat merasa kecewa.

Kamipun terus berjalan, menyusuri rute yang telah ditentukan. Setelah berjalan agak lama, kami menemukan sembilan ekor burung. Setelah kami identifikasi, menurut kami ke sembilan burung tersebut merupakan burung sepah kecil (Pericrocotus cinnamomeus).. 

Waktu terus beranjak siang, matahari mulai memancarkan sinar teriknya. Kami terus berjalan, sekali-sekali bercanda, tapi kadang kami kelepasan suara hingga terlalu keras. Akibat tawa kami, kami mendapat teguran dari pemandu kami, untuk mengurangi suara, takutnya suara kami membuat burung takut dan terbang menjauh. Kamipun bertemu dengan kelompok-kelompok lain ditengah jalan. 

Perjalanan kami terhenti di pinggir sungai, kami berhenti sejenak untuk beristirahat dan turun ke sungai untuk bermain air. Kamipun berfoto-foto dipinggir sungai. sungai tempat kami singgah bernama Kali Oya. Kali Oya mengalir panjang, dengan airnya yang lumayan jernih. Setelah kami puas beristirahat dan berfoto-foto, kamipun melanjutkan perjalanan kami.

Masih di sekitar area sungai, kami menemukan burung yang menarik perhatian kami dengan warna tubuhnya yang cerah. Ternyata setalah kami identifikasi, burung tersebut adalah burung cekakak jawa (Halcyon cyanoventris) yang terbang melintas diatas sungai. cantik dan menawan. Di spot yang sama, kami juga menemukan burung yang melompat-lompat dipinggir sungai. dua ekor burung tersebut menurut kami adalah burung trinil pantai (Actitis hypoleucos). Kamipun menemukan dua ekor burung lagi ditempat itu, tapi sayangnya kami tak bisa mengidentifikasi itu termasuk burung apa.

Mengingat waktu yang terus beranjak siang, matahari semakin terik, kami melanjutkan perjalanan kami yang (katanya) tidak lama lagi akan sampai. Tak lama kami berjalan kami melihat seekor burung yang terbang berputar-putar. Menurut ciri-ciri yang terlihat, kami menyimpulkan bahwa itu adalah walet linci (Collocalia linchi). Ditempat yang sama, kamipun melihat seekor burung yang bertengger diranting pohon. Sayangnya tidak begitu terlihat karena cahaya yang ada memberikan efek siluet. Namun ciri khas dari burung ini masih terlihat, yaitu ekornya yang bercabang sepertin gunting. Menurut identifikasi kami dan diperkuat oleh pemandu kami, burung tersebut adalah kirik-kirik laut (Merops philippinus). Dan kamipun baru tahu, bahwa itu adalah burung legendaris di Bionic. Burung yang menjadi nama angakatan XII. Senang sekali bisa melihat secara langsung burung yang menjadi legenda dari angkatan XII.

Akhirnya kami melanjutkan perjalanan kami, hinga kami sampai di tempat peristirahatan kami. Sesampainya di tempat, kami melanjutkan dengan beriskusi, bertukar data dengan kelompok lain. Setelah didiskusikan terpecahlah teka-teki kami yang belum mengetahui jenis burung apa yang tak dapat kami identifikasi. Puas rasanya mendata, mengidentifikasi, sekaligus memecahkan teka-teki burung secara langsung dan terjun ke lapangan.

Kegiatan dilanjutklan beristirahat sekaligus berkemas sekaligus kembali lagi ke kampus. Pengalaman PERGAM ini sangat-sangat membekas, meninggalkan kenangan. PERGAM ini merupakan langkah awal yang membuatku ‘kecanduan’ birdwatching.

Senin, 25 Desember 2017

Menyusuri Primadona Pantai Ngungap

oleh Noormalita Megarona

Heihoo.. ku awali cerita perjalanan dan pengamatan ini. Mungkin bagi sebagian orang cerita ini hanya cerita ga penting yang isinya hanya curhatan orang kurang kerjaan namun beda bagi saya, cerita ini merupakan pengalaman yang berharga dan berkesan untuk saya. Birding kali ini dilakukan di salah satu pantai di Gunung Kidul yaitu Ngungap dan dilaksanakan pada tanggal 1 Januari 2017. 

Awalnya rasanya masih ragu untuk ikut pengamatan karena masih ngantuk dan lelah setelah malam tahun baru yang tidur sampai pagi, apalagi ditambah harus kumpul di kampus pagi-pagi buta. Tetapi pada prinsipnya kesempatan tidak datang dua kali, So? Kapan lagi kalo bukan sekarang. Akhirnya saya memutuskan berangkat utuk melihat primadona pantai Ngungap yang banyak diperbincangkan itu. Jam 07.00 saya dan beberapa anggota Bionic lainnya berkumpul di depan kebun Biologi untuk persiapan perjalanan di Ngungap. Setelah menunggu dan terus menunggu kedatangan para lelaki yang masih tidur akhirnya kami memutuskan untuk berangkat duluan menju pantai sekitar jam 08.00.

Pantai Ngungap terletak kurang lebih 1km sebelah barat pantai Sadeng. Untuk menuju pantai ini awalnya lumayan nyaman dengan jalan yang sudah beraspal (dalam hati diriku bergumam, “tumben di pelosok gini jalannya sudah beraspal) namun setelah beberapa meter, Eh.. Jalannya kembali menunjukkan wujud aslinya. Jalan berbatu yang dapat menggoyang pantat dan bikin mata ngga ngantuk lagi. 

Akhirnya, sampai di Ngungap sekitar jam 10.00. Sesampainya di Ngungap saya disambut oleh bangunan pendopo yang sudah tidak terawat. Karena ini pertama kalinya saya ke Ngungap saya pikir pantai ini sama dengan pantai lainnya yang memiliki garis pantai berpasir, namun ternyata pantai ini hanyalah sebuah tebing tinggi. Walaupun begitu tetap tidak mengurangi pesona pantai ini. Rasa takjub langsung terasa saat melihat jejeran tebing karang yang seolah masih gagah perkasa setelah ribuan kali diterjang ombak. Jejeran tebing-tebing karang inilah yang menyimpan sang primadona pantai. 

Saat kami tiba, sepertinya sang primadona sedang malas dan malu untuk menampakkan dirinya. Akhirnya kami memutuskan untuk menunggu kemunculan sang primadona pantai ini sambil berfoto-foto ria dan melihat bagaimana cara penduduk sekitar memancing ikan diatas tebing yang sangat tinggi. Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya salah satu dari kami berteriak itu burungnya. Ya benar, sang primadona pantai Ngungap pun menunjukkan betapa cantiknya dirinya, sang primadona ini memiliki nama ilmiah Phaeton lepturus atau yang biasa disebut burung Buntut Sate. Burung buntut sate mengangkasa di atas ombak samudra Hindia dan seolah menunjukkan pesonanya. 

Burung ini memiliki bulu yang berwarna putih dengan ujung sayap yang berwarna hitam, paruh bewarna kuning dan memiliki ciri khas ekornya yang panjang yang membentu seperti tusuk sate. Karena ciri khas ini lah, burung ini disebut sebagai burung Buntut sate. Kami mengamati 4 burung Buntut Sate dalam ukuran tubuh yang berbeda 3 besar dan 1 kecil. Beberapa dari kami mengabadikan momen yang telah ditunggu itu dan beberapa menggambar serta menulis karakteristik burung ini. Selain sang primadona alias burung buntut sate ini, pantai Ngungap ini juga menyimpan burung walet. Burung-burung ini tinggal di celah-celah karang terbing, mereka tinggal di celah-celah tebing untuk menghindari predator yang mengancam keselamatan mereka. 

Setelah hasrat kami terpuaskan dengan kemunculan primadona pantai Ngungap ini akhirnya kami memutuskan untuk bergegas meninggalkan pantai dengan sejuta pesonanya ini. Kami pulang dari pantai sekitar jam 2. Sebelum kembali ke kampus maupun kerumah kami mampir dulu ke rumah salah satu kakak kelas kami untuk numpang makan siang hihi. Setelah Adzan Magrib berkumandang para anggota sholat dan setelah selesai sholat maka perjalanan pulang pun dimulai.

Jumat, 22 Desember 2017

Birdwatching for Kids at Purworejo

oleh Arif Rahman
24 Juli 2017

Alarm berbunyi tepat ketika pagi masih benar-benar ranum. Desiran jangkrik sawah masih terdengar jelas disekitar benda-benda berbayang yang ku lihat saat hendak mematikan alarm yang berbunyi dari ponsel. Tak selang waktu gema adzan yang menandakan subuh berkumandang memenuhi langit, bumi, dan mimpi-mimpi masyarakat desa yang masih tertidur pulas. Ku buka lagi ponsel adakah agenda untuk pagi hari ini, dan ternyata tertulis di note bahwa bionic ada agenda membantu proker kkn Mba Nia yang tempatnya di purworejo. 

Lalu setelah mengetahui bahwa pagi ini ada agenda yang harus ku jalankan, kakiku melangkah dengan meninggalkan bunyi srekkk...srekk..srekk bunyi khas orang bangun tidur, menuju kamar mandi untuk mengambil air wudlu lalu mengamalkan ibadah solat fajar dan solat subuh. Di penghujung solat subuh ku tangkupkan kedua tanganku dan di dalam keheningan ke merapalkan doa-doa untuk kesehatan,rejeki, dan kelancaran rejeki kepada keluarga juga teman-teman dekatku, tak lupa ku juga berdoa untuk kelancaran BW4K untuk pagi nanti.

Setelah jam dinding menunjukan pukul 5.30 ponselku berdering, kali ini notifikasi wassap. Diriku bertanya siapa gerangan yang chat diriku se pagi ini haha, “apa mungkin seseorang yang selalu tersemat di doa-doaku ya ?”. Dan setelah ku buka wassap tak lain dan tak bukan ternyata chat dari mas Wicak (Wcx) yang menkonfirmasi kedatangan untuk ikut BW4K. Mas wicak merupakan hokage bionic angkatan Merrops Filipinus setelah melengserkan hokage sebelumnya (Mas Aghnan) dengan dalih regenerasi haha. Setelah membalas pesan mas wicak seperlunya, diriku langsung bergegas untuk mandi lalu sarapan bersama bapak ibu yang kebetulan juga akan berangkat kerja pagi. Tidak lupa pada sebuah makan pagi yang khusyuk tersebut ku meminta restu buat perjalan ikut BW4K. 

Setelah semua benar-benar siap, ku tancap gas motor bersejarahku menuju kampus sebagai titik kumpul pertama yang ingin ikut BW4K. Hanya memakan waktu kurang lebih 25 menit diriku telah tiba di kampus, dan ternyata disana mas wicak telah stay menunggu kehadiranku, lalu diriku disuruh jemput Fia dikost an karena dia katanya mas wicak juga ingin ikut BW4K, karena menurutku perintah hokage mutlak maka diriku langsung menjalankannya. Dan setelah menjemput fia dan tiba di kebun biologi mas wicak kali ini stay bersama mas Kir yang konon katanya merupakan sesepuh bionic. Setelah semua kumpul kami memulai perjalanan ke purworejo tempat KKN mba Nia berada. Dengan bantuan GPS dan Maps motor kami melaju meninggalkan kampus dan jogja. Sebelum benar-benar meninggalkan jogja mas kir mampir membeli roti cakwe dan bolang-baling untuk bekal, sungguh mulia beliau tahu bahwa anak-anaknya ini tidak membawa setangkup bekal sekalipun kecuali air putih. 

Perjalan kami lanjutkan melalui jalan godean dengan melihat denah yang ada di google maps. Lalu sekitar 1 jam di perjalanan kami berhenti sebentar di kulonprogo bagian barat untuk meminta petunjuk warga dan tanpa sengaja rombongan kita bertemu dengan mas aghnan (hokage sebelum mas wicak) dan akhirnya memutuskan melanjutkan perjalanan bersama. Ada cerita lucu sekaligus perjuangan di balik perjalanan kami sampai ke posko KKN nya mba Nia yang alamatnya tertulis Jatirejo Kaligesing, Purworejo, Jawa Tengah. 

Sebelum benar-benar sampai di posko KKN mba nia kami melalui medan yang bisa saya katakan ekstrim, karena jalan yang ditunjukan GPS dan kita lalui masih benar-benar natural/asli mulai dari jalan dengan bebatuan yang tidak rata, jalanan berlempung, dan sampai jalanan yang aspalnya belum sempat rata. Perasaan takut karena diriku membawa boncengan cewek (Fia) jelas ada, tetapi mau bagaimana lagi sudah terlanjur jalan, dan untuk balik pun sudah terlanjur jauh juga. Dan kami diperjalanan hampir menghabiskan 3 jam lebih untuk bertanya dan mencari lokasi tempat kkn Mba Nia dan alhasil pun kami tiba poskonya tidak sesuai dengan apa yang diperkirakan kami tiba pukul kurang lebih 11.00.

Yaa sedih sebenernya, karena agenda BW4Knya pun hanya mba Nia sendiri yang memimpinnya sebelum kita sampai di poskonya. Lalu agar perjalanan nan jauh dimata tidak hanya berakir dalam sebuah kegabutan, mas kir pun mengusulkan untuk pengamatan sendiri. Walaupun waktu sudah siang tetapi mas Kir berpendapat tidak apalah daripada tidak sama sekali. Lalu kami (Aku, Fia, Mas Kir, Mas Aghnan, Mas Hasbi yang datangnya juga telat, dan Mas wicak) mulai melakukan pengamatan di puncak sekitar posko Mba Nia. 

Sempat kami mendengar kabar angin juga dari salah satu teman KKN Mba Nia bahwa di daerah desa Jatirejo Kaligesing masih banyak yang suka melakukan pemburuan burung. Meskipun begitu kami pun melanjutkan pengamatan, dan pada waktu itu memang kami hanya menemukan beberapa jenis burung seperti cucak kutilang, cabai jawa dan cinenen pisang terlebih hanya suara-suara seperti pelanduk semak dan elang ular bido. 

Namun ketika ku sedang berbincang dengan Fia dan mas Hasbi tentang sarang burung, tiba-tiba Mas Kir dengan naluri tajamnya yang siap membelah sebuah gunung, menangkap bahwa ada sekelebat burung Ceyx sp. yang katanya keberadaanya sampe sekarang ini masih menjadi primadona di mata pengamat burung. Karena keberadaanya yang sangat jarang dan sulit di jumpai. Pertama kali melihat gumam an Mas Kir tentang Ceyx diriku pun terengah lalu seperti apa penampakan burung yang katanya primadona tersebut. Lalu dengan tergopoh-gopoh karena ketidak sabaranku melihat seperti apa gambaran burung ceyx tanganku dengan angkuh menggagahi setiap halaman buku Mc.Kinon dan setelah ketemukan burung ceyx ternyata burung tersebut merupakan famili dari burung raja udang dan cekakak. Ada 2 jenis burung Ceyx sp. yaitu Ceyx erithacus dan Ceyx rufidorsa. Ciri dari kedua jenis burung tersebut secara kesuluruhan hampir sama yaitu berukuran sangat kecil (14cm) dan berwarna merah kekuningan, yang membedaknya pada Ceyx erithacus di bagian sayap terdapat warna biru sedangkan Ceyx rufidorsa berwarna merah muda.

Setelah mengenal si ceyx primadona tersebut lewat literatur hatikupun semakin terdedah dan melanjutkan pengamatan hingga siang untuk menemukannya. Namun apa dayaku yang masih belum cukup tangkas ini, sampai adzan dhuhur bergema hanya menemukan cucak kutilang. Karena telah teramat siang maka pengamatan kami diakhiri dan turun kembali ke posko KKN. Lalu mereview list burung yang di dapat dan membahas tentang sekelebat yang belum pasti tetapi mas Kir menduga sekelebatan tersebut merupakan sosok Ceyx si primadona. Ternyata mas Hasbi, mas Aghnan, dan mas Wicak yang lebih dulu menegnal burung juga hanya 1-2x saya menjumpai Si Ceyx tersebut sehingga mereka masih penasaran dengan gumam an Mas Kir waktu pengamatan di atas tadi. Setelah istirahat dan berdiskusi ringan di posko KKN mba Nia tersebut kami memutuskan untuk sholat dhuhur di masjid yang letaknya lumayan jauh dari Posko.

Selama perjalanan menuju masjid pikiranku benar-benar terganggu dengan kehadiran si Ceyx yang dikatakan Mas Kir tadi, rasa haus penasaranku semakin menggunung. Lalu tanpa sadar langkah kakiku terhenti dan ternyata sudah sampai pada masjid. Masjid tersebut kulihat tidak terlalu besar dan tidak juga terlalu kecil, dengan serambi-serambi yang terlihat malas karena terbayangi oleh beberapa pohon disekitarnya. Keran –keran tua di samping masjid yang mengucurkan anak-anak air menghasilkan suara bergemericik, juga derit bambu yang tumpang tendih menambah suasana masjid menjadi riuh. Di belakang masjid terdapat sungai yang waktu itu sedang kering, lalu setelah melihat sekilas gambaran masjid tersebut diriku langsung mengambil air wudlu, dan tak lama kemudian Mas Kir, Mas aghnan, Mas hasbi dan Mas Wicak juga ikut mengambil air wudlu.

Setelah diriku dan beberapa orang mengambil air wudlu lalu kita memasuki masjid, di masjid terdapat beberapa jendela kecil yang arah pandangan nya jika dilihat dari dalam akan jatuh ke sebuah sungai. Setelah memasuki masjid mas Hasbi berjalan-jalan sebentar mendekati jendela sebelah samping, dan tiba-tiba ada yang aneh dengan diri mas hasbi. Dia termenung dan menggerakan tangannya di belakang punggungnya seolah-olah memberi kode untuk mendekatinya. Lalu dengan heran ku mendekati mas hasbi dan dia berbisik 

“Cobo deloken lewat celah jendelo iki Man, ning godong empring kae kowe weruh ora ?” 

Entah mau ngomong apa lidahku mendadak kaku dan mataku benar-benar bersinar terang, semua isi kepalaku bekerja keras untuk memastikan apakah itu(burung) yang kulihat di literatur tadi dan yang digandrungi oleh beberapa pengamat karena keberadaanya yang mulai sulit ditemui ? yaa sebelum dhuhur yang benar-benar belum sempat kutunaikan sepasang mataku ini melihat Ceyx erithacus dengan sangat dekat hanya sekitar 2-3 meter di balik celah jendela masjid. Saya dan Mas Hasbi tidak henti-hentiya mengagumi kemolekan dan kemunculan Ceyx erithacus ini yang tidak sadar kemolekan tubuhnya itu di nikmati oleh 2 pasang mata, setelah kurang lebih 1 menit berlalu burung tersebut masih bertengger malas tanpa perasaan terganggu. Mas Aghnan yang selesai wudlu pun juga terperangah melihat kemunculan burung tersebut lewat jendela masjid. 

“Asem tenan cah, ketok jelass meloo melooo Ceyx e” ujar mas aghnan mengekspresikan ketakjubannya.

Sampai pada titik tertentu tiba-tiba Ceyx erithacus tersebut merasakan keberadaan kami karena terlalu gaduh mengaguminya, dan dengan cepat Ceyx tersebut terbang menghilang. Sedih rasanya belum meng-qatamkan keiindahan bulu-bulunya yang berwarna merah api tersebut, lalu tiba-tiba Mas Wicak dan Mas Kir masuk masjid setelah selesai wudlu. Sayang sekali keberuntungan belum berpihak kepada mereka berdua dan alhasil mereka hanya dapat mendengarkan kekagman dan cerita kami(aku, Mas Hasbi dan Mas aghnan). Dan yang disayangkan lagi bahwa tidak ada satupun dari kami tadi yang membawa kamera menuju masjid untuk mengabadikan moment langka tersebut, sedih rasanya. Namun setidaknya diriku menjadi terasa sangat istimewa karena bisa melihat Ceyx erithacus secara langsung dengan dekat dan itu merupakan yang pertama kalinya. Lalu setelah itu kami menunaikan sholat dhuhur secara berjamaah. Setelah sholat selesai kami meninggalkan masjid tersebut dengan rasa syukur dan bahagia kecuali mas wicak dan mas Kir dan kembali menuju posko KKN mba Nia.

Disana ternyata kami telah di buatin mie instan buat makan siang, dan tanpa penolakan kami lagsung memakanya dengan lahap karena mengingat dari pagi kita hanya makan makanan ringan (roti Cakwe) yang dibeli mas kir di pinggir jalan. Setelah selesai makan dan membereskan makanan maka kami segera pamit kepada mba Nia dan teman-temannya KKN karena telah merepotkan di sana. Namun sebelum benar-benar balik jogja Mas Kir masih penasaran dengan si Ceyx erithacus di masjid tadi, maka kami memutuskan untuk melakukan pengamatn lagi sebentar dan kali ini kamera juga telah disiapkan jika keberadaan si Ceyx muncul kembali. 

Namun setelah 30 menit kita nyepot di sekitar masjid si Ceyx tidak kunjung-kunjung kelihatan lagi, alhasil kita tidak berhasil melihatnya lagi dan hanya bisa membawa cerita serta pengalaman untuk kita sampaikan kepada rekan rekan bionic nantinya. Walaupun kita tidak berhasil membawakan foto Ceyx erithacus kepada rekan keluarga Bionic setidaknya kami menemukan lokasi yang keberadaan Ceyx erithacus masih dapat di jumpai. Terakhir kita pulang dengan membawa sebuah cerita yang menakjubkan yang siap dibagikan ke keluarga bionic tercinta.