Kamis, 20 Oktober 2016

Lakukan Pendataan Burung Kampus, Temukan Raptor Migran

Pendataan burung kampus merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan oleh KPB Bionic UNY yang bertujuan untuk memberi pengalaman kepada anggota dan calon Bionic khususnya dan mahasiswa UNY umumnya dalam melakukan pendataan burung liar di kampus menggunakan metode encounter rate. Kegiatan ini dilakukan untuk mendata jenis-jenis burung liar yang berada di lingkungan sekitar terutama kampus dan untuk memperbarui data mengenai kelimpahan dan persebaran burung liar yang ada di kampus UNY Karangmalang.

Ketua Bionic, Aghnan Pramudihasan menerangkan, dalam kegiatan ini, kampus UNY Karangmalang dibagi menjadi 5 blok yaitu FMIPA-FE-FIS-Foodcourt, LPPM-LPPMP-FT, Pascasarjana-Rektorat-Lapangan Sepak Bola-GOR Tenis, Laboratorium FMIPA-GOR-FIK, dan Kebun Biologi-FBS. Pengamat yang sudah dibagi melakukan pengamatan di setiap blok yang sudah ditentukan. Data jenis burung, jumlah burung dan keterangan lain seperti perilaku burung dicatat di lembar pengamatan. Lokasi perjumpaan jenis burung dituliskan dalam peta yang sudah disediakan.

Dijelaskan, pengamatan pendataan burung kampus di tahun 2016 ini dilakukan 2 kali, kegiatan pertama sudah dilakukan bulan Mei 2016 kemarin. Di bulan Oktober 2016, pendataan burung kampus dilakukan selama 3 hari berturut-turut mulai 14-16 Oktober 2016 pukul 07:00-10:00 WIB dan 15:30-17:00 WIB.

Beberapa catatan menarik dalam pendataan burung kampus bulan Oktober 2016 ini yaitu dijumpai Remetuk laut / Golden-bellied Gerygone yang sudah bersarang, Gelatik jawa / Javan Sparrow di FBS, dan Kipasan belang / Pied Fantail di Taman Pancasila. Yang paling menarik perjumpaan seekor Elang-alap Cina / Chinese Goshawk di Kebun Biologi. Adalah Desi Dwi Ariyanti, Dinar Cahyaningtyas dan Varadilla Nur 'Aini Putri yang berhasil mengamati dan mendokumentasikan Elang-alap Cina bertengger di pohon randu atau kapuk (Ceiba pentandra).

“Menurut MacKinnon (2010), Elang-alap Cina termasuk burung migran yang berbiak di Asia bagian timur laut dan Cina, mengembara pada musim dingin ke selatan sampai Asia Tenggara, Filipina, Indonesia dan Pulau Irian”, lanjutnya.

Pada kegiatan ini tercatat ada 38 jenis burung yang dijumpai. Hasil dari pendataan burung kampus ini akan dipublikasikan dalam bentuk poster dan banner. (Aghnan/witono)

Senin, 17 Oktober 2016

Catatan Pertama: Bali Bird Watching Race 2016

Hari itu Kamis, bertepatan dengan tanggal 12 Mei 2016 sekitar pukul 06.30 WIB. Tim yang beranggotakan Panji, Abid dan Hasbi berangkat menuju Stasiun Lempuyangan dari Bionic Base Camp (BBC) dengan diantarkan oleh mas Abhe, mas Adin dan Andi. Tiba di stasiun sekitar pukul 7 lewat langsung menuju pos pemeriksaan, setelah selesai kemudian masuk ke kereta KA Sri Tanjung dengan tujuan akhir Stasiun Banyuwangibaru. Kami duduk di kursi 4A, 4B, dan 4C, selain kami juga ada Kholil, mahasiswa semester 4 Fakultas Hukum UGM yang asli Banyuwangi dan juga ada Albi, anak Kemayoran yang baru lulus SMA yang mau muncak ke Gunung Rinjani, kereen dah!

Bagi saya sendiri, perjalanan dengan KA Sri Tanjung merupakan perjalanan yang kedua kalinya yaitu pada akhir tahun lalu. Setelah perjalanan selama 14 jam, kami tiba di Banyuwangi pada pukul 21.15 WIB dan beristirahat untuk menghilangkan lelah di warung sekitar stasiun. Sekitar pukul 11, kami memilih istirahat di masjid depan Pelabuhan Ketapang, lalu menunggu esok pagi untuk menyeberang ke Pelabuhan Gilimanuk.

Sekitar pukul 5 pagi, kami berangkat ke Pelabuhan Ketapang dan tiket penyeberangan ke Bali dengan harga 6 ribu rupiah per orang. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai di Pelabuhan Gilimanuk sekitar 30 menit. Dari atas kapal, kami disuguhkan pemandangan pegunungan di Jawa Timur serta Selat Bali yang terkenal dengan arus air lautnya yang besar. Tentu yang paling istimewa adalah sunrise yang muncul dari Pulau Bali yang menawan berhiaskan burung-burung laut menjadi saat itu momen yang indah. Kemudian mulailah kapal yang kami tumpangi bersandar ke Pelabuhan Gilimanuk. Ya, bagi kami bertiga adalah kesempatan pertama kali menjejakkan kaki di Pulau Bali.

Sunrise di Selat Bali Kemudian kami menuju Terminal Gilimanuk, mencari kendaraan umum menuju Kota Denpasar. Perjalanan menuju Denpasar ternyata menjadi perjalanan yang sangat lama meski kami disuguhkan pemandangan yang luar biasa. Pohon-pohon besar yang di keramatkan oleh umat Hindu Bali serta hutan adat yang hijau menyegarkan. Kami juga disuguhkan dengan beberapa pantai pasir putih yang berjajar di sepanjang perjalanan. Tak lupa hamparan sawah yang berada di kanan dan kiri jalanan yang rapi dengan terasering yang menawan.

Foto bareng oma Zara Sekitar pukul 12 WITA kami tiba di Terminal Ubung Denpasar, lalu kami mendapatkan info dari panitia bahwa kami harus menunggu dijemput. Sembari menunggu, kami memilih untuk beristirahat di salah satu warung makan di sekitar Terminal Ubung. Oma Zara, sang pemilik warung banyak bercerita tentang kisah hidupnya. Kami mengambil banyak pelajaran dari beliau, pengalaman beliau menjadi ilmu tambahan yang kami dapatka secara gratis.

Satu jam kemudian, panitia yang menjemput kami pun telah tiba. Dengan menyusuri jalanan Kota Denpasar yang menurut kami sangatlah rumit. Banyak jalanan searah yang membuat kami geleng-geleng kepala. Jalanan yang macet menambah lama perjalanan kami, hingga sekitar 30 menit kemudian kami masuk by pass dan menuju Pulau Serangan. Sekitar pukul 2 siang kami tiba di lokasi yang berada di Pantai Malasti. Lalu kami mendirikan tenda untuk menyimpan barang-barang kemudian kami berkumpul ke pendopo untuk acara pembukaan secara resmi oleh panitia.

Bersambung………