Senin, 20 Juni 2016

Mendata Burung Genus Arachnothera di Kiskendo

Kulon Progo, 18 – 19 Juni 2016
Adalah hari dimana kami (Tim PKM 70 Judul KPB BIONIC UNY) melakukan pengambilan data yang dilakukan di Desa Wisata Jatimulyo, Girimulyo, Kulon Progo. Tim PKM terdiri dari 4 judul proposal penelitian yang berbeda namun pengambilan data dilakukan secara bersamaan. Salah satu judul proposal kami adalah mengenai Studi Popuasi dan Persebaran Genus Arachnothera di Dusun Kembang Soka. Pengambilan data dimulai sejak tanggal 18 Juni 2016 – 19 Juni 2016 pukul 08.30 WIB – 11.00 WIB. Genus Arachnothera terdiri dari 8 spesises burung, namun yang teramati di dusun Kembang Soka adalah 3 spesies yaitu Pijantung Kecil (Arachnothera longirostra), Pijantung Gunung (Arachnothera robusta), dan Pijantung Besar (Arachnothera affinis). Dari ketiga spesies yang ditemukan tersebut tim PKM Genus Arachnothera hanya dapat mengamati burung Pijantung Kecil saja sebanyak 4 individu pada hari pertama dan 7 individu di hari kedua. Sedangkan untuk data burung Pijantung Besar dan Pijantung Gunung kami dapatkan dari tim PKM yang lain dan dengan metode wawancara dengan warga setempat (Mas Kelik).

Selain burung dari Genus Arachnothera, kami juga banyak menemukan burung jenis lainnya yaitu burung Sikep Madu Asia (Pernis ptilorhynchus), burung Kadalan Birah (Phaenicophaeus curvirostris), burung Udang Punggung Merah (Ceyx rufidorsa), burung Madu Sriganti (Nectarinia jugularis) jantan dan betina, burung Cabai Bunga Api (Dicaeum trigonostigma) jantan dan betina, burung Madu Kelapa (Anthreptes malacensis), burung Cinenen Pisang (Orthotomus sutorius), burung Bondol Jawa (Lonchura leucogastroides) dan burung Madu Jawa (Aethopyga mystacalis) jantan dan betina. Ada pengalaman unik saat melihat burung Madu Jawa yang jaraknya hanya 2 meter dari kami, awalnya kami mengidentifikasi bahwa burung tersebut termasuk dalam spesies burung Madu Ekor Merah (Aethopyga temminckii) karena ciri – cirinya sangat mirip yaitu kepala berwarna Merah cerah sampai ke leher dengan warna ungu di atas kepalanya, punggungnya juga berwarna merah cerah, ekornya panjang lancip berwarna ungu, dan perutnya berwarna putih bersih. Kami awalnya sangat terpesona dengan burung tersebut betapa beruntungnya kami dapat melihat burung Madu Ekor Merah. Namun setelah ditanyakan kepada Mas Kir yang lebih tahu mengenai burung, Mas Aghnan, Yudha, Luqman, dan saya (Desi) sedikit kecewa ternyata burung yang sangat cantik itu adalah burung Madu Jawa yang memang ciri – cirinya hampir mirip dengan burung Madu Ekor Merah. “Yaaahh…..ternyata kami salah iden...” begitulah kataku setelah mengetahui nama burung yang sebenarnya.

Banyak sekali pengalaman pengamatan burung yang hanya dilaksanakan selama dua kali pengambilan data kemarin yang berbeda dari biasanya yaitu pengamatan kali ini dilaksanakan pada bulan puasa dan otomatis kami juga dalam keadaan berpuasa. Selain itu juga ada kendala yaitu kendala cuaca yang tidak mendukung yaitu hujan deras sehingga tidak memungkinkan bagi Tim PKM untuk mengambil data pada sore hari. Rasa kekeluargaan yang luar biasa sangat kami rasakan selama dua hari berada di Rumah Bapak Isno. Hujan deras disertai hawa dingin dan listrik padam ditambah lagi tidak ada sinyal justru membuat kami selalu berkumpul, bermain kartu UNO sesekali dan bercanda gurau menciptakan suasana yang begitu hangat dan nyaman. Betapa menyenangkan melakukan hal – hal demikian. Satu kalimat untuk menutup cerita pengalaman ini adalah “Terima Kasih Bionic telah memberikan pengamalan yang luar biasa yang tidak bisa di dapat kecuali di KPB BIONIC UNY" (Desi).

Senin, 23 Mei 2016

KPB BIONIC FMIPA UNY MEMPERINGATI WORLD MIGRATORY BIRD DAY

World Migratory Bird Day (WMBD) atau Hari Migrasi Burung Sedunia adalah suatu hari yang ditetapkan untuk mengkampanyekan konservasi burung-burung migran dan habitatnya. WMBD diinisiasi pada Mei 2006 oleh pengurus AEWA (African-Eurasian Migratory Waterbirds) dan CMS (Conservation of Migratory Species of Wild Animals) di Kenya, dari kegiatan awal tersebut ditetapkan setiap pekan ke-2 bulan Mei menjadi Hari Migrasi Burung Sedunia. Tahun ke tahun kegiatan WMBD semakin merambah negara-negara di luar Kenya tidak terkecuali Indonesia. Dan dari tahun ke tahun, WMBD selalu mengganti tema kegiatannya. Tema WMBD 2016 adalah “Stop the Illegal Killing, Taking and Trade of Migratory Birds”. Di Indonesia, kegiatan WMBD 2016 dilaksanakan dibeberapa provinsi, salah satunya di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Salah satu panitia, Widodo, menjelaskan, WMBD 2016 di Yogyakarta tersusun atas 2 kegiatan. Pertama adalah kampanye konservasi burung dan yang kedua adalah edukasi anak-anak. Kegiatan pertama yang dikoordinatori oleh Gahar Ajeng (KPB Bionic UNY) dilaksanakan di titik km 0 (10/5). Kegiatan pertama dilakukan ditempat umum dengan tujuan supaya masyarakat umum mengetahui dampak negatif dari perburuan burung-burung migran. Kegiatan pertama juga dimeriahkan dengan pameran foto burung-burung liar hasil bidikan anggota PPBJ (Paguyuban Pengamat Burung Jogja).

“Kegiatan kedua adalah edukasi anak-anak di SD N 2 Sokomoyo Kulon Progo. Kegiatan edukasi anak-anak yang dikoordinatori oleh Matalabiogama UGM dilaksanakan pada tanggal 14 Mei 2016 bersamaan dengan Jogja Bird Walkedisi Mei. Kegiatan diawali dengan membagi siswa kelas IV dan V menjadi 5 kelompok. Masing-masing kelompok dipandu oleh 3-5 anggota PPBJ untuk melakukan pengamatan burung disekitar SD N 2 Sokomoyo”, terangnya.

Tujuan dari pengamatan burung, lanjut Widodo, supaya anak-anak lebih mengenal burung sebagai biodiversitas di desa mereka. Harapan lebih lanjutnya adalah supaya mereka dapat melindungi burung-burung didaerah mereka dari perburuan. Setelah melakukan pengamatan burung, anak-anak berkumpul dihalaman masjid barat sekolah untuk berdiskusi mengenai burung-burung yang dapat mereka amati.

Setelah berdiskusi, anak-anak dan pemandu kembali menuju SD N 2 Sokomoyo. Sesampainya di sekolah, anak-anak istirahat sambil menonton video konservasi yang dikemas dalam bentuk kartun. Selepas nonton bareng, Afrizal Maula Alfarisi (Ketua PPBJ) berdiskusi bersama anak-anak tentang burung-burung migran. Saat berdiskusi, anak-anak sangat antusias menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh Afrizal. Kegiatan edukasi siang itu diakhiri dengan foto bersama dihalaman sekolah. (R. Widodo/witono)

http://uny.ac.id/berita/kpb-bionic-fmipa-uny-memperingati-world-migratory-bird-day.html

Rabu, 18 Mei 2016

Jogja Bird Walk edisi April

Kelompok Pengamat Burung Bionic FMIPA UNY melaksanakan kegiatan Jogja Bird Walk (JBW) bersama Paguyuban Pengamat Burung Jogja (PPBJ). Kegiatan JBW merupakan salah satu ajang berkumpulnya pengamat burung untuk melakukan kegiatan pengamatan burung dan diskusi antarpengamat burung se-Yogyakarta.

Jogja Bird Walk edisi April dilaksanakan di Hutan Turgo (30/4). Hutan Turgo terletak di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi, tepatnya di dusun Tritis, Purwobinangun, Pakem, Sleman atau sekitar 6 km dari puncak Gunung Merapi.

Ketua Kelompok pengamat burung Bionic, Aghnan, menjelaskan, kegiatan Jogja Bird Walk diawali dengan pengamatan burung. Peserta yang berjumlah total 37 orang, dibagi menjadi tiga kelompok. Masing-masing kelompok selanjutnya menyusuri jalan setapak untuk mengumpulkan data jenis burung di lokasi pengamatan.

Pengamatan burung diakhiri sekitar pukul 11.00 WIB. Setelah melakukan pengamatan burung, peserta menuju rumah Pak Musimin, salah satu pembudidaya anggrek di Tritis.

“Di rumah Pak Musimin, masing-masing kelompok mendiskusikan hasil pengamatan buung yang teramati. Berdasarkan hasil diskusi, dijumpai 29 jenis burung. Beberapa diantaranya adalah Sepah hutan, Serindit jawa, Tepus pipi perak, Srigunting kelabu dan Cikrak daun,”papar Aghnan.

Senin, 16 Mei 2016

Cerita Bionicers : “Pengamatan Burung atau Mencari Jalan Pulang ?”

Sabtu, 30 April 2016. Pagi yang indah untuk memulai pengalaman baru. Hari itu, adalah kali pertamanya aku mengikuti kegiatan JBW atau Jogja Bird Walk. JBW adalah kegiatan pengamatan burung dan diskusi antarpengamat burung se-Yogyakarta yang dikoordinasi oleh PPBJ (Paguyuban Pengamat Burung Jogja). JBW kali ini dilaksanakan di Hutan Tritis dan diikuti oleh sekamir 37 peserta yang kebanyakan adalah anggota KPB Bionic.
Kami tiba di lokasi pengamatan sekamir pukul 08.00 WIB. Dalam pengamatan kali ini, kami dibagi menjadi 3 kelompok dengan rute yang berbeda. Aku dan temanku, Fianti berada dalam kelompok yang sama, kelompok 2. Selain kami berdua, ada Mas Hasbi, Mas Bima, Mas Praja, Mbak Ulfia, Mbak Nia, Mbak Iin, dan Mbak Diva di kelompok kami. Sempat minder juga karena hanya kami cikalang di kelompok ini dan harus bersanding dengan para senior yang sudah hebat. Tapi itu tidak menjadi masalah, karena aku malah bisa menggali banyak ilmu dari mereka.
Singkat cerita, kami memulai perjalanan dan mengambil rute belok kiri dari jalan utama dan mulai memasuki Hutan Tritis. Pada awal perjalanan kami menemukan beberapa burung, diantaranya Kacamata biasa, Sepah kecil, Wallet linchi, dan Bondol jawa. Kami melanjutkan perjalanan, masuk lebih dalam lagi ke dalam hutan. Kami masih saja asik mengamati burung dan menjumpai beberapa burung lagi, yaitu Jinjing batu dan Munguk beledu. Tak lupa juga kami berfoto-foto hits di tempat-tempat yang spot fotonya bagus. Iya, mungkin itu salah satu kebiasaan yang sudah membudaya dan tidak bisa ditinggalkan. Karena saking asiknya selfie, kami – Aku, Fianti, Mbak Ulfia, Mbak Nia, Mbak Iin, dan Mbak Diva- hampir saja ditinggalkan oleh Mas Praja, Mas Bima, dan Mas Hasbi. Selain megamati burung, hari itu, saya juga belajar banyak hal khususnya dari Mas Praja. Beliau menjelaskan kepada kami berbagai hal, mulai dari pohon anggrek sampai pohon bambu.
Kami terus melanjutan perjalanan dan sempat sesekali kebingungan di persimpangan jalan. Seperti “Mau pilih belok kanan, belok kiri, atau lurus?” Kami sempat beberapa kali bingung arah juga tetapi akhirnya kami bisa bertemu dengan kelompok lain, yaitu kelompok 1.
Setelah bertemu dengan kelompok 1, kami tidak bergabung dengan mereka, tetapi malah memilih rute yang berlawanan. Makin masuk dan naik ke dalam hutan lagi. Karena di jalan kami menemukan spot foto yang bagus lagi, kami pun berhenti dan berfoto-foto (lagi). Cukup lama juga kami berfoto pada beberapa spot dan dengan berbagai gaya. Ini salah foto kami sebelum beberapa menit kemudian kami bingung nyari jalan pulang. Foto kami pas kami masih bahagia.



Kelompok kami jadi tinggal tersisa 7 orang karena Mas Praja dan Mas Bima sudah berjalan terlebih dahulu. Kami ditinggalkan, tapi itu juga karena kesalahan kami yang terlalu lama dan asik berfoto. Kami, dengan dipimpin Mas Hasbi, mulai masuk lagi ke dalam hutan. Awalnya, semua baik-baik saja sebelum negara api menyerang. Jalan yang kami tempuh seakan-akan bukan menuju arah pulang, tetapi malah semakin jauh ke dalam hutan. Jalan setapak yang kami lalui pun seakan tidak pernah terinjak. Kami mulai takut dan panik. Akan tetapi, kami masih berusaha tenang dan mencari jalan kembali. Rasanya, setiap jalan setapak yang kami lalui hanya berujung pada sebuah jurang. Hal itu sempat kami alami kurang lebih 3 kali. Bahkan sebenarnya, jalan setapak yang kami lalui itu berada di pinggir jurang dan melintas di sepanjang tepi jurang. Udara di hutan pun terasa pengap. Sinar matahari hanya bisa masuk sangat sedikit melalui celah-celah pohon bambu yang berdaun sangat rimbun. Kami mulai panik tak terkendali. Mulai berpikir yang tidak-tidak, seperti “Gimana kalau kami nggak bisa keluar dari hutan ini?” juga pikiran dari mbak Ulfia “Gimana kalo kami ketemu hantu?”juga Fianti yang malah berpikir akan ada headline di surat kabar yang menyebutkan bahwa “Mahasiswa Pengamat Burung UNY Hilang di Hutan Tritis”. Kebingungan yang sama sekali tidak menambah baik suasana. Selain itu, kami juga malah sempat saling menyalahkan dan menyesali “Kenapa tadi nggak gabung kelompok 1 aja?” juga dikuti asumsi tentang feeling masing-masing. Itu tidak lain karena kami sudah tidak bisa berfikir jernih dan tenang lagi.
Kami pun sadar bahwa berdebat dan panik tidak akan membuat kami keluar secara ajaib dari hutan ini. Kami pun memilih melanjutkan perjalanan. Beruntungnya, kami bertemu dengan seorang bapak yang sepertinya warga desa pinggir hutan. Kami bertanya apakah jalan keluar dari hutan masih jauh. Beliau menjawab bahwa tinggal sebentar lagi kami bisa keluar dari hutan. Kami pun merasa senang dan mulai tenang. Terus berjalan dengan kecepatan penuh menyambut jalan keluar. Tidak ada lelah yang kami rasakan, yang ada tinggal bagaimana agar kami bisa cepat pulang. Mas Hasbi pun sempat menggoda dengan berkata “Eh bagus lho spot fotonya di sini.” tapi kami hanya menjawab dengan “Udah nggak mood foto mas, yang penting pulang.”
Kurang lebih 15 menit kami berjalan, namun jalan keluar yang katanya sudah dekat tadi belum kami temui juga. Kami pun mulai panik lagi. Namun, kepanikan tersebut tidak berlangsung lama karena beberapa menit kemudian jalan utama yang kami lalui saat berangkat tadi mulai terlihat. Herannya, ternyata kami keluar dari arah sebelah kanan hutan. Arah yang berlawanan dengan arah awal kami masuk hutan tadi. Jadi, kami tadi muterin hutan?
Akan tetapi, Alhamdulillah kami bisa keluar dari Hutan Tritis dengan sehat dan selamat tak kurang suatu apapun dan malah nambah pengalaman, pengalaman nyasar. J

Inilah kami, kelompok 2, kelompok “Macan Nyasar”........


--------
Terimakasih,
Rika Pratiwi (Pendidikan Kimia UNY 2015)