Rabu, 08 Februari 2017

KPPBI III di Bali

Konferensi Peneliti dan Pemerhati Burung di Indonesia (KPPBI) ke-3 telah usai, kegiatan tahunan yang selalu ditunggu-tunggu oleh para peneliti dan pemerhati burung untuk saling bertukar informasi tentang burung-burung di Indonesia. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Program Studi Magister Ilmu Biologi FMIPA Universitas Udhayana ini berlangsung mulai tanggal 2-5 Februari 2017.

Sebanyak 134 list abstrak penelitian tentang burung di Indonesia diterima dengan rincian 84 list untuk presentasi oral dan 50 list untuk presentasi poster. Sebanyak 250 peneliti dan pemerhati burung di Indonesia hadir dalam konferensi ini, selain peserta dari Indonesia kegiatan ini juga dihadiri oleh peserta dari Belanda, Jerman, Australia dan Amerika Serikat.

Beberapa Bionicers, sebutan bagi anggota KPB Bionic UNY mengirimkan hasil penelitian mereka dan berhasil lolos untuk dipresentasikan dalam KPPBI III. Beberapa hasil penelitian dari Bionicers yang lolos antara lain: 1) Keanekaragaman Burung di Jalur Pendakian Selatan Hutan Adat Wonosari Gunung Kidul DIY oleh Rahmadiyono Widodo, Ratih Dewanti, Lanna Murpi P dan Triajeng Nur Amalia; 2) Studi Burung-burung yang diperdagangkan di Pasar Tradisional Gawok Sukoharjo Jawa Tengah oleh Rahamadiyono Widodo dan Ahmad Arif; dan 3) Pelatihan Pengamatan Burung di Kampus FMIPA UNY untuk Meningkatkan Sikap Peduli Lingkungan pada Siswa SMA oleh Rio Christy Handziko, Aghnan Pramudihasan, Andri Nugroho dan Bowo Prakoso.
Ketua Panitia KPPBI III Bali, Luh Putu Eswaryanti Kusuma Yuni menjelaskan bahwa egiatan di koferensi ini dibagi menjadi dua yaitu simposium dan workshop. Topik utama dalam simposium antara lain: 1) Burung di habitat alaminya, 2) Burung di habitat yang dimodifikasi, 3) Topik khusus tentang konservasi Curik Bali dan 4) Scientific Journalism. Sedangkan untuk workshop, topik yang disediakan adalah 1) Fotografi untuk studi burung, 2) Percincinan burung, 3) Konservasi burung pemangsa dan 4) Peran medik konservasi untuk pelestarian burung. (Aghnan)

Senin, 30 Januari 2017

Bionic Melaksanakan Jogja Bird Walk di Jurang Jero

Kelompok Pengamat Burung Bionic Universitas Negeri Yogyakarta berkoordinasi dengan dengan anggota Paguyuban Pengamat Burung Jogja (PPBJ) melaksanakan kegiatan Jogja Bird Walk di Jurang Jero, Minggu (29/1). Jogja Bird Walk merupakan agenda pengamatan burung setiap bulan yang dikoordinasi langsung oleh PPBJ untuk mendata keanekaragaman jenis burung di suatu lokasi tertentu.


Jurang Jero terletak di Desa Ngagosuko Kecamatan Srumbung Kabupaten Magelang dan termasuk bagian dari Taman Nasional Gunung Merapi. Lokasi ini dipilih karena potensi satwa khususnya burung cukup tinggi meskipun tutupan vegetasinya cukup jarang dan didominasi oleh pohon Pinus merkusii serta Imperata cylindrica di bawah tegakannya.

Kegiatan ini diikuti oleh anggota Paguyuban Pengamat Burung Jogja yang terdiri dari berbagai kelompok pengamat seperti KPB Bionic dari FMIPA UNY sebanyak 16 orang; KP3Burung dari Fakultas Kehutanan UGM sebanyak 3 orang; KSSL dari Fakultas Kedokteran Hewan sebanyak 1 orang; dan KSB Atma Jaya sebanyak 2 orang.

Peserta berangkat dari FMIPA UNY pukul 06:45 WIB. Tiba di lokasi, peserta dibagi menjadi 3 kelompok dan melakukan pengamatan burung sesuai jalur pengamatan yang disepakati. Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi hasil pengamatan dari masing-masing kelompok.


Dari hasil diskusi, tercatat terdapat 34 jenis burung di Jurang Jero. Beberapa jenis burung yang mendominasi di kawasan ini antara lain Cucak kutilang, Bondol peking, Perling kumbang dan Cica koreng jawa. (Aghnan)

Sabtu, 28 Januari 2017

AWC Kedua KPB Bionic UNY di Pagak Purworejo

Melanjutkan kegiatan Asian Waterbird Census yang sudah dilakukan di beberapa lokasi, KPB Bionic UNY pada hari Senin (23/1) kembali melakukan kegiatan pendataan burung air di Pagak, Purworejo. Beberapa lokasi yang sudah dilakukan pendataan burung air pada bulan Januari 2017 antara lain Arboretum UGM; Waduk Mulur, Sukoharjo; dan Delta Sungai Progo.

Ketua Bionic 2017, Wicak aji Pangestu menerangkan bahwa pemilihan lokasi Pagak, Purworejo karena melihat list jenis burung tiga tahun yang lalu di lokasi ini dimana masih terdapat jenis-jenis burung air yang melimpah. Tempat pengamatan berada di sekitar aliran sungai yang masih terdapat tanaman rawa.

Peserta pada kegiatan ini antara lain Aghnan Pramudihasan, Arma Abdul Malik, Wicak Aji Pangestu, Fadholi Yudha Alif Furqon, Isdini Ganishwardhani, Dwi Pawestri, Rika Pratiwi, Elsa Aviventi, Kidung Tyas Sumekar, Kiryono (KPB Bionic UNY) dan Asman Adi Purwanto (Raptor Indonesia).

Pengamatan dimulai pukul 08:00-11:00 WIB di sekitar jembatan. Burung Kareo padi, Mandar batu dan Raja-udang biru dapat diamati dengan mudah menggunakan teropong monokuler. Bergeser ke sisi yang lain, teramati burung Bondol oto-hitam sedang mondar-mandir membawa material sarang. Memasuki daerah dekat tambak dan persawahan, burung Bondol oto-hitam dengan jumlah yang cukup banyak berada dalam satu flok.

Hasil pengamatan di Pagak, Purworejo ini tercatat terdapat 38 jenis burung dimana 14 diantaranya adalah burung air. Catatan menarik lainnya adalah Bondol oto-hitam dan Layang-layang batu yang membuat sarang. (Aghnan)

Minggu, 22 Januari 2017

Asian Waterbird Census di Delta Sungai Progo, Yogyakarta

Setelah kegiatan Asian Waterbird Census di Arboretum UGM dan Waduk Mulur Sukoharjo, Sabtu (21/1) kemarin Bionic bersama Paguyuban Pengamat Burung Jogja melakukan kegiatan pendataan burung air di Delta Sungai Progo. Kegiatan ini adalah program AWC kedua dari PPBJ.

Wicak Aji Pangestu selaku ketua Bionic 2017 menerangkan bahwa kegiatan Asian Waterbird Census bersama PPBJ yang kedua ini dilaksanakan di Delta Sungai Progo pada sore hari pukul 15:30 – 17:30 WIB. Peserta pada kegiatan ini antara lain Aghnan Pramudihasan, Rika Pratiwi dan Arma Malik dari KPB Bionic UNY, Afrizal Maula Alfarisi dan Zulaima Rakhmatiar dari KP3Burung FKT UGM; dan Dea Aprilan Berkam dari Kelompok Studi Satwa Liar FKH UGM.

Jalur menuju lokasi pengamatan kurang baik karena masih berupa tanah dan bekas dilewati truk penambang pasir. Di beberapa titik terdapat cekungan yang terisi genangan air sehingga perlu hati-hati dalam mengendarai sepeda motor, tambahnya.

Tiba di lokasi, pengamat sempat terkejut karena daratan di sekitar delta sungai semakin sedikit. Daratan yang dulu masih berupa pasir hitam kini berubah menjadi bebeatuan kecil di tengah aliran sungai. Empat gubuk kecil didirikan di sekitar delta sungai yang mungkin dihuni oleh penambang pasir.

Burung air dan burung pantai yang dijumpai di lokasi hanya tercatat beberapa saja. Satu flok gerombolan Dara-laut jambul, Cerek jawa dan Trinil pantai masih teramati di beberapa tepi sungai. Sesekali terlihat Cangak abu dan Blekok sawah terbang di sekitar delta sungai. Burung lain yang teramati adalah Layang-layang asia, Walet linci, Cici padi dan Raja-udang biru.

Data hasil kegiatan Asian Waterbird Census kedua ini akan direkap dan dikirimkan ke Wetland Indonesia. Data ini akan dianalisis dan digunakan untuk menentukan spesies-spesies burung, khususnya burung air yang perlu dilindungi karena populasinya yang menurun atau terancam.


Kegiatan Asian Waterbird Census selanjutnya adalah di Pagak, Purworejo pada hari Senin (23/1) besok. Semoga burung-burung air di lokasi ini masih mudah dijumpai seperti tiga tahun yang lalu. (Aghnan)