Minggu, 07 Januari 2018

CELEPUK: AWC BIONC 2018

(Cerita Selepas Pulang Kegiatan)


Imam Taufiqurrahman: Rejeki bangun pagi
Mengikuti kegiatan pengamatan kawan2 Bionic dalam rangka Asian Waterbird Cencus di Pagak, Purworejo, kemarin. Menyenangkan karena banyak burung dan pengamat yang datang, termasuk kawan-kawan Mapala Sulfur Universitas Tidar yang sudah cukup lama tak bersua dalam kegiatan.


Mariza Uthami: Pengalaman Menyenangkan AWC 2017
Ada 3 hal dalam kesan pesan saya kali ini, yang pertama adalah tujuan, lalu pengalaman, kemudian kesabaran.

Tujuan. teman-teman cikalang mengikuti AWC dengan motivasi dan tujuannya masing-masing. Kami (Saya, Otto, dan Ilham) dengan motivasi menyicil Pekaka fotografi, Risma dengan sketsanya, dan Fita dengan tulisannya, menjadikan pengamatan kemarin sangat membahagiakan walaupun terdapat perbedaan tujuan.

Pengalaman. Pengamatan kali ini menambah pengalaman untuk saya, dan teman-teman lain tentunya. Membidik burung tidak semudah yang dibayangkan, perlu ini dan itu, perlu begini dan begitu. Beruntung Mas Wicak tidak pelit membagikan pengalaman-pengalaman mengesankannya untuk kami bisa mendapatkan hasil foto yang mengagumkan.

Kesabaran. Saya dan Otto diberi kesempatan untuk berjumpa dengan raja udang biru. Dengan sangat bersemangat dan berjalan mengendap endap, kami berdua bermaksud membidiknya di kabel listrik di sebelah sana. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. dari sebelah utara, seorang pria paruh baya mengendarai motornya melintasi kabel yang ada di sana. Burung cantik itu terbang, kami balik kanan dengan membawa segentong kekecewaan. Pupuslah harapan mendapatkan foto dari Raja udang biru yang cantik itu. Semoga saya, dan teman-teman diberi kesempatan bisa berjumpa dengan raja udang biru di lain pengamatan.


Irenike Mega: Alhamdulillah pertama kalinya bisa main dan belajar bareng anak-anak dari Bionic. Orang-orangnya friendly banget, dan mau ngajarin anak yang gak ngerti apa-apa kayak aku gini haha. Dapet banyak ilmu tentang burung juga terutama. Misalkan aja burung yang punya ciri morfologi yang hampir sama itu ternyata spesies yang berbeda. Tempat yang dikunjungi juga instagramable kayak rawa romantis kemarin, meskipun enggak sempet foto karena malu (maklum anak baru) haha. Pokoknya TOP deh walaupun belum ngerti sepenuhnya kegiatannya itu seperti apa tapi insyaAllah kedepannya bisa ikut kegiatan Bionic lagi. Thanks Bionic, next time yaa wkwkw


Kharisma Diah Tri Kurniawati: Walaupun selama perjalanan berangkat dan pulang hujan terus dan jalan yang dilewati agak susah tapi asik dan seneng banget mbak, soalnya kemarin pengamatan pertamaku setelah ikut pergam.

Untungnya kemarin setelah tiba di lokasi udah enggak hujan lagi jadi bisa pengamatan. Kemarin bisa lihat banyak burung yang belum pernah lihat sebelumnya walaupun harus gantian soalnya cuma ada 1 binokuler sebelum mas aghnan datang nyusulin bino. Setelah kegiatan juga selalu ada pembahasan jadi bisa tau burung-burung yang ditemuin itu spesies apa dan jadi tau gimana cara indentifikasinya. Semoga bisa ikut pengamatan terus dan terus belajar burung, soalnya belajar burung itu ternyata asik.


Fita Nilasari: Sepenggal Kisah Perjalanan AWC 2018
Pagiku berbeda,
Pagi ini semangatku mengalir deras seperti irama hujan yang datang di hari ini. Sejak malam, sudah kupersiapkan dengan baik apa yang harus aku bawa pada AWC 2018. Kamera, buku pengamatan, bolpoin, air mineral, roti terbungkus rapi di dalam tas.

Aku bergegas menuju kebun biologi, untuk berkumpul dengan birdwatcher yang lain. Jam 7 kami berangkat menuju Rawa Pagak, di Purworejo, Jawa Tengah. Di sepanjang jalan kita ditemani rintik hujan yang labil, deras lalu reda namun enggan tuk pergi.

Sesampainya disana, kami disambut kesejukan Rawa Pagak. Suara burung pun bersahutan, bergegaslah kami dengan tujuan yang berbeda beda. Ada yang mengganti lensa kameranya terlebih dahulu, ada yang membawa tripod, ada yang sarapan, dan ada yang mengambil bino karena dia sudah menemukan si imut layang layang.


Saya, Kharisma, Mas Arif, Dan Mas Imam berada di bagian tengah. Saya sangat bersemangat untuk melakukan sensus burung di tempat ini. Atas bimbingan dari Mas Arif, Saya dan Kharisma ditunjukkan beberapa burung yang sedang bertengger ataupun berlarian. Rupanya saya harus banyak belajar, karena sebagian besar yang melihat burung pertama kali adalah Mas Arif.

Dalam keasyikan pagi ini, Mas Arif menunjukkan salah satu burung yang menurut saya sangat cantik. Burung ini bernama kirik kirik laut dan termasuk ke dalam famili meropidae. Ciri ciri yang dapat terlihat yaitu ekornya berwarna hijau tosca, dada nya berwarna putih, kepalanya berwarna hijau kecoklatan. Burung itu nampaknya terlihat ceria, baru sebentar saja kita berjumpa, ia sudah terbang mengangkasa.

Aku merasakan atmosfer yang sangat baik di pagi ini. Sebuah pengalaman yang akan memulai lembar baru dalam hari hari ku, terima kasih Bionic.

Kepedulian di hari ini, Kelestarian di masa depan.

Bionic Ikut Andil dalam Asian Waterbird Census 2018

Hari Sabtu (6/1) kemarin, UKMF-KPB Bionic UNY berpartisipasi dalam Asian Waterbird Census 2018 dengan mengadakan monitoring burung air di Rawa Pagak Purworejo. Sebanyak 15 jenis burung air yang tercatat akan dilaporkan kepada International Wetlands selaku koordinator.

Bulan Januari merupakan bulan yang ditunggu-tunggu para pengamat burung di seluruh Indonesia, dimana secara serentak dilaksanakan kegiatan pendataan burung air atau nama ‘beken’nya Asian Waterbird Census yang dikoordinatori oleh International Wetlands.

Dalam mengawali tahun baru 2018 ini, KPB Bionic mengadakan kegiatan monitoring burung air di Rawa Pagak, Purworejo. Kegiatan diikuti oleh 21 orang anggota KPB Bionic UNY. Namun, tidak hanya Bionicers saja yang mengikuti kegiatan ini, terdapat 5 orang dari organisasi lain, yaitu Mas Wahyudi dari Bogowonto Indonesia Adventure Purworejo dan Fara Indah, Rohman M Pradana, Aditya Pranata serta Finandika dari Mapala Sulfur Universitas Tidar Magelang ditambah Afrizal dan Imam dari Biolaska UIN Sunan Kalijaga.

Hari Sabtu (6/1), Jogja diguyur hujan. Namun itu bukan suatu kendala bagi para anggota Bionic dalam melaksanakan kegiatan AWC 2018. Kegiatan pengamatan dilakukan di tiga titik, yaitu bagian barat, tengah dan timur. Dari ketiga lokasi didapatkan 36 jenis burung dimana 15 jenis burung yang teramati adalah burung air. Jenis burung air yang dijumpai antara lain Itik Benjut (Anas gibberifrons), Kowakmalam Abu (Nycticorax nycticorax), Kareo Padi (Amaurornis phoenicurus), Mandar Besar (Porphyrio porphyrio), Mandar Batu (Gallinula chloropus), Trinil Pantai (Actitis hypoleucos) dan Kokokan Laut (Butorides striata). List burung tersebut akan direkap kembali oleh Bidang Operasional Bionic kemudian dilakukan akumulasi dan selanjutnya data akan diisikan secara online pada formulir Asian Waterbird Census 2018.

Disamping itu, seperti pepatah mengatakan “Sambil menyelam minum air”, para cikalang mengikuti kegiatan monitoring burung air ini sambil membuat karya. Mariza Uthami atau akrab dipanggil Uut, salah satu cikalang yang mengikuti kegiatan AWC ini sambil membuat karya bidang fotografi. “Saya dan Otto diberi kesempatan untuk berjumpa dengan raja udang biru. Dengan sangat bersemangat dan berjalan mengendap-endap, kami bermaksud membidiknya di kabel listrik di sebelah sana. Malang tak dapat ditolak, untuk tak dapat diraih, dari sebelah utara seorang pria paruh baya mengendarai motor melintasi jalanan dibawah kabel listrik tersebut. Burung cantik itu pun terbang, kamipun harus balik kanan dengan membawa segentong kekecewaan. Pupuslah sudah harapan mendapat foto si Raja udang biru yang cantik itu. Semoga, saya dan teman-teman diberi kesempatan bisa berjmpa dengan raja udang biru di lain pengamatan” ujar Uut dengan kecewaannya.

Kegiatan Asian Waterbird Census selanjutnya diselenggarakan oleh Paguyuban Pengamat Burung Jogja (PPBJ) adalah pada tanggal 13-14 Januari 2018 pada pukul 05.00-07.00 dan 17.00-18.00 di Arboretum Fakultas Kehutanan dan Biologi UGM, dan tanggal 20 Januari 2018 di Muara Sungai Progo. (INR)

Jumat, 29 Desember 2017

Lama Tak Berkunjung!

oleh Olivia Kurnia

Satu, bukan, dua, bukan juga, tiga, yaa hampir tiga tahun lalu menginjakkan kaki di sini (lagi). Masih dalam rangka yang sama, pengamatan burung. Tempat ini memang menjadi spot favorit pengamatan burung pantai migran, selain area persawahan seberang sana.

Jenis burung yang ditemui memang tak sebanyak waktu itu, tapi beberapa bisa terlihat jelas, bahkan cenderung burungnya mendekat ke kita. Bonus. Mengandalkan metode 'stay and wait'. Just for info, katanya kalo pagi kebanyakan burung lagi cari makan di area persawahan sono, nah sorenya baru ke tempat ini. buat sunsetan?. 

Burung pantai
Nah pengamatan ini pagi hari, jadi jenis burungnya cuma ditemui sedikit. Pengamatan kali ini bersama mas kir, mas wahab, mas hasbi, aghnan, andri, wicak, ika, miun, dan tentunya saya. Walaupun berangkat tidak bebarengan, tapi tujuan kita sama. Ahay. 
beberapa burung yang dijumpai

Burung pantai memang terkenal dengan penampakan yang cenderung sama. Jika dilihat sekilas saja, mungkin orang akan mengira burung itu sama semua. Beberapa jenis burung hanya dibedakan berdasarkan ukuran paruh, bentuk paruh, jenjang kaki, dll. Nah orang yang sekilas melihat, termasuk saya, akan menyangka semua burung itu merupakan jenis burung yang sama. 

Namun, karena pengamatan ini bersama mas kir dan mas wahab yang lebih expert tentang burung pantai, kami banyak diberitahu jadi lebih bisa membedakan jenis burung yang dilihat. Misalnya Cerek Pasir Besar dengan Cerek Pasir Mongolia. Cerek Pasir Besar memiliki paruh pendek tebal dengan tibia lebih panjang. Sementara, Cerek Pasir Mongolia memiliki paruh pendek tipis dengan tibia lebih pendek daripada Ceret Pasir Besar. Selain itu, ukuran tubuhnya pun lebih kecil. Tapi tetap saja, kalo burungnya yang muncul cuma satu dan nggak ada pembandingnya, aku mah bisa apa. Intinya, jam keker kudu tinggi!

Selalu dapet ilmu baru disetiap momen pengamatan burung. Kali ini (juga). Pengetahuan baru yang didapat dari mereka-mereka yang lebih expert didunia perburungan. 

Mode "Stay and Wait"
Sebab ilmu itu tanpa batas. Akan terus selalu bertambah dan begitu teramat luas. Yang terbatas hanyalah keinginan kita. Jika sudah merasa cukup maka cukup. Jika belum, maka barulah itu yang disebut dengan pencarian tanpa batas. (Panji Ramdana) 

Nb:
Sampai rumah ternyata saya membawa oleh-oleh dari pengamatan burung pantai ini. Ya, punggung saya gatel-gatel dan bentol-bentol. Sebenernya uda kerasa pas pengamatan, tapi cuek saja. Sampe rumah dilihat, ternyata ada bekas ulat yang mati di celana, mungkin ke'duduk'an. Beberapa hari masih merasakan gatelnya. Sepertinya lain waktu kudu lebih waspada lagi.

Rabu, 27 Desember 2017

PERGAM, LANGAH PERTAMAKU

oleh Kidung Tyas S.

Jumat, 21 Oktober 2016 tanggal penting yang tercantum dalam agendaku. “PERGAM BIONIC”. Acara pertamaku dalam ranah ‘burung’. Seneng, deg-degan tapi juga bingung. Sejak minggu-minggu awal mendekati tanggal tersebut, aku sudah mulai menyiapkan untuk acara tersebut.

Pada 21 Oktober, pukul 22.15 WIB aku baru berangkat dari kampus menuju tempat PERGAM menyusul peserta-peserta yang lain. Kali pertama aku pergi malam-malam hanya berdua bersama Findya, temanku. Kebetulan diapun akan mengikuti PERGAM Bionic juga. Sesampainya di lokasi PERGAM, jam sudah menunjukkan sekitar pukul 23.45 WIB dan sudah menginjak acara istirahat. Akupun ikut serta merebahkan diri untuk memejamkan mata.

Pagi hari, agenda yang ditunggu-tunggu. Pengamatan burung pertamaku diluar kawasan kampus UNY. Pengamatan kali ini dibagi-bagi dalam kelompok-kelompok kecil, didampingi oleh pemandu kelompok. Dalam satu kelompok terdiri antara 6-10 orang dengan duan atau tiga pemandu. Sayangnya, aku lupa siapa saja anggota kelompokku, dan pemanduku. Yang aku ingat aku sekelompok dengan Alfian, Viola, dan didampingi oleh Mas Andri dan Mba Ulfia. Perjalanan kami diawali dengan medan yang agak mendaki. Dengan penuh semangat dan antusias kami menapaki medan selangkah demi selangkah. Hingga pada spot pertama, saya dan teman-teman menemukan empat ekor burung dengan hipotesis burung bondol jawa (Lonchura leucogastroides). Burung itulah yang pertama-tama kami temukann dalam pengamatan pagi itu. 

Semakin jauh kami berjalan, daerah yang kami lalui semakin menarik, sepi senyap, hanya terdengar suara-suara burung yang membuat kami terpana. Sesekali kami mencoba berfoto di jalan yang kami lalui. Kamipun menemukan burung kedua kami, yaitu burung cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster). Burung cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster) yang kami temukan berjumlah dua ekor. Lama sekali kami mengintai cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster), karena awalnya kami masih ragu itu burung apa. Setelah terpecahkan teka-teki burung kedua tersebut, kami melanjutkan perjalanan kami. Dan kamipun menemukan burung ketiga, yaitu dua ekor burung madu sriganti (Cinnyris jugularis).

Kamipun melanjutkan perjalanan kami. Ditengah-tengah perjalanan, kami mendengar suara burung, tapi kami tak mengetahui itu suara burung apa (mungkin pemandu kelompok kami sebenarnya sudah mengetahuinya). Kamipun menerobos semak-semak belukar didepan kami untuk mencari sumber suara. Namun sayangnya, burung-burung dengan suara tadi tidak terbang bebas, tetapi hanya berdiam diri di pohon besar dan pohon itu sangat tinggi. Semakin lama mengamati burung dengan suara tadi, kamipun tidak menemukan wujud burung tadi. Berhubung kami menggunakan baju warna gelap, kami malah dikerubungi nyamuk, akirnya kami menyerah mengintai burung tadi.

Kamipun melanjutkan perjalanan walau masih menyimpan rasa penasaran. Tak jauh dari tempat semula, kami mendengar suara burung kembali. Kami kembali menerobos semak-semak, mencari sumber suara. Menurut pemandu kami, Mas Andri, suara burung yang kami dengar adalah suara dari ayam hutan betina. Rasa penasaran kami semakin besar. Semakin menerobos ke dalam tetapi kami tak kunjung menemukan sosok dari ayam hutan betina. Berhubung waktu sudah menginjak siang, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan tanpa melihat ayam jantan betina tadi. Kamipun sempat merasa kecewa.

Kamipun terus berjalan, menyusuri rute yang telah ditentukan. Setelah berjalan agak lama, kami menemukan sembilan ekor burung. Setelah kami identifikasi, menurut kami ke sembilan burung tersebut merupakan burung sepah kecil (Pericrocotus cinnamomeus).. 

Waktu terus beranjak siang, matahari mulai memancarkan sinar teriknya. Kami terus berjalan, sekali-sekali bercanda, tapi kadang kami kelepasan suara hingga terlalu keras. Akibat tawa kami, kami mendapat teguran dari pemandu kami, untuk mengurangi suara, takutnya suara kami membuat burung takut dan terbang menjauh. Kamipun bertemu dengan kelompok-kelompok lain ditengah jalan. 

Perjalanan kami terhenti di pinggir sungai, kami berhenti sejenak untuk beristirahat dan turun ke sungai untuk bermain air. Kamipun berfoto-foto dipinggir sungai. sungai tempat kami singgah bernama Kali Oya. Kali Oya mengalir panjang, dengan airnya yang lumayan jernih. Setelah kami puas beristirahat dan berfoto-foto, kamipun melanjutkan perjalanan kami.

Masih di sekitar area sungai, kami menemukan burung yang menarik perhatian kami dengan warna tubuhnya yang cerah. Ternyata setalah kami identifikasi, burung tersebut adalah burung cekakak jawa (Halcyon cyanoventris) yang terbang melintas diatas sungai. cantik dan menawan. Di spot yang sama, kami juga menemukan burung yang melompat-lompat dipinggir sungai. dua ekor burung tersebut menurut kami adalah burung trinil pantai (Actitis hypoleucos). Kamipun menemukan dua ekor burung lagi ditempat itu, tapi sayangnya kami tak bisa mengidentifikasi itu termasuk burung apa.

Mengingat waktu yang terus beranjak siang, matahari semakin terik, kami melanjutkan perjalanan kami yang (katanya) tidak lama lagi akan sampai. Tak lama kami berjalan kami melihat seekor burung yang terbang berputar-putar. Menurut ciri-ciri yang terlihat, kami menyimpulkan bahwa itu adalah walet linci (Collocalia linchi). Ditempat yang sama, kamipun melihat seekor burung yang bertengger diranting pohon. Sayangnya tidak begitu terlihat karena cahaya yang ada memberikan efek siluet. Namun ciri khas dari burung ini masih terlihat, yaitu ekornya yang bercabang sepertin gunting. Menurut identifikasi kami dan diperkuat oleh pemandu kami, burung tersebut adalah kirik-kirik laut (Merops philippinus). Dan kamipun baru tahu, bahwa itu adalah burung legendaris di Bionic. Burung yang menjadi nama angakatan XII. Senang sekali bisa melihat secara langsung burung yang menjadi legenda dari angkatan XII.

Akhirnya kami melanjutkan perjalanan kami, hinga kami sampai di tempat peristirahatan kami. Sesampainya di tempat, kami melanjutkan dengan beriskusi, bertukar data dengan kelompok lain. Setelah didiskusikan terpecahlah teka-teki kami yang belum mengetahui jenis burung apa yang tak dapat kami identifikasi. Puas rasanya mendata, mengidentifikasi, sekaligus memecahkan teka-teki burung secara langsung dan terjun ke lapangan.

Kegiatan dilanjutklan beristirahat sekaligus berkemas sekaligus kembali lagi ke kampus. Pengalaman PERGAM ini sangat-sangat membekas, meninggalkan kenangan. PERGAM ini merupakan langkah awal yang membuatku ‘kecanduan’ birdwatching.