Selasa, 07 Maret 2017

Launching Buku Burung Kampus UNY Karangmalang

Kelompok Pengamat Burung Bionic Universitas Negeri Yogyakarta (KPB Bionic UNY) berhasil melangsungkan acara Launching Buku Burung Kampus UNY Karangmalang pada hari Sabtu (4/3) yang bertempat di Gedung Laboratorium Astronomi FMIPA UNY. Acara ini sudah menjadi cita-cita Bionicers, yaitu Bionic dapat membuat satu karya yang dapat bermanfaat. Bentuk nyatanya yaitu terbentuknya buku Burung Kampung UNY Karangmalang yang berisi jenis-jenis burung yang ada di kampus UNY Karangmalang.

Acara launching buku ini dihadiri oleh pembina KPB Bionic UNY yaitu bapak Sukiya, M.Si. dan Wakil Dekan III FMIPA UNY, Ir. Suhandoyo, M.S yang memberikan sambutan sekaligus membuka acara ini. Peresmian acara launching buku dengan cara penandatanganan buku Burung Kampus FMIPA UNY oleh kedua penulis buku tersebut yaitu Zulqarnain Assiddiqi, S.Pd, Zulfikar Abdullah, S.Pd, bapak Sukiya, M.Si dan bapak Suhandoyo, M.S.

Setelah sesi pengenalan kedua penyusun, peserta dipersilahkan menikmati coffe break dan hiburan dari panitia. Acara berikutnya sesi bedah buku yang dimoderatori oleh Raden Arif Alfauzi dan Aghnan Pramudihasan. Sebelum dimulai, Bapak Sukiya, M.Si. dan Bapak Dr. Hartono, M.Si. selaku Dekan FMIPA UNY memberikan sedikit pengantar dan apresiasi.

Pembina Bionic, Bapak Sukiya, M.Si. menyampaikan bahwa buku ini sudah bagus tetapi masih bisa dikembangkan lagi melihat list jenis burung yang didata di kampus setiap tahunnya. Data jenis burung bisa ditambah dengan jenis pohon yang digunakan apakah hanya sebagai tempat hinggap, tempat makan atau tempat bersarang. Sehingga arahnya bisa ke koonservasi atau menjaga keberadaan mereka di kampus ini.

Menurut Zulqarnain Assiddiqi, S.Pd atau yang lebih sering disapa dengan nama Zuqi, alasan awal pembuatan buku Burung Kampus UNY Karangmalang adalah setiap tahun KPB Bionic melakukan pendataan burung kampus UNY dan diperoleh data, namun data yang diperoleh hanya menjadi data yang tidak ada artinya karena beluma ada tindak lanjut dari kegiatan tersebut. Oleh karena itu, terpikirlah oleh mereka untuk mebuat data burung yang sudah terkumpul menjadi buku.

Ahmad Zulfikar Abdullah, S.Si. menambahkan, "Kami hanya menyusun saja, bukan menulis karena barangnya sudah ada tinggal disusun. Awalnya belum terbesit mau dikeluarkan dalam bentuk buku, tetapi hanya sebatas softfile saja."


Sekitar 50 orang peserta yang hadir pada acara launching buku antara lain dari BIOLASKA UIN, KPALH CARABINER FT UNY, KP3 Burung UGM, Kepak Sayap UNS, Binobio UAD, KSB UAD dan beberapa perwakilan Ormawa yang ada di FMIPA UNY. Perwakilan setiap organisasi yang hadir mendapat satu buku untuk menanmbah pengetahuan mereka dan sebagai salah satu bentuk publikasi. (Nurul/Aghnan)

Forum Diskusi #1 Paguyuban Pengamat Burung Jogja

Kelompok Pengamat Burung Bionic Universitas Negeri Yogyakarta (KPB Bionic UNY) termasuk anggota dari Paguyuban Pengamat Burung Jogja (PPBJ) bersama Biolaska UIN Sunan Kalijaga, Silvagama UGM, KP3Burung UGM, KSSL UAJY, Binobio UAD, BSC UAD dan kelompok lainnya. Pada hari Kamis (2/3) kemarin, PPBJ mengadakan Forum Diskusi #1 dimana Silvagama UGM sebagai tuan rumah memilih Ruang V Lantai 2 Gedung A Fakultas Kehutanan UGM sebagai tempat diskusi.

Agenda Forum Diskusi #1 ini berisi tentang sharing hasil seminar Konferensi Peneliti dan Pemerhati Burung Indonesia 3 Bali dan sharing Asian Waterbird Census. Kegiatan yang dimulai pukul 19:00 WIB ini diawali dengan perkenalan singkat dari peserta dilanjutkan sharing hasil seminar KPPBI 3 Bali yang diwakili oleh Rahmadiyono Widodo dari KPB Bionic UNY dan Robert Fernando dari KSSL UAJY.

Koordinator PPBJ, Rahmadiyono Widodo menjelaskan bahwa topik utama yang diangkat dalam KPPBI 3 Bali ini tidak jauh berbeda dengan KPPBI 2 Jogja. Topik utama yang diangkat adalah 1) Burung di habitat alaminya, 2) Burung di habitat yang dimodifikasi, 3) Topik khusus tentang konservasi Curik Bali dan 4) Scientific Journalism. Sedangkan untuk workshop, topik yang disediakan adalah 1) Fotografi untuk studi burung, 2) Percincinan burung, 3) Konservasi burung pemangsa dan 4) Peran medik konservasi untuk pelestarian burung.

Acara berikutnya sharing Asian Waterbird Census yang dilakukan Silvagama UGM, KPB Bionic UNY dan PPBJ. Perwakilan dari Silvagama UGM menceritakan pengambilan data Asian Waterbird Census yang mereka lakukan di Laguna Segara Anakan pada tanggal 3-4 Januari 2017. Mereka menggunakan perahu untuk mendata jenis-jenis burung air di sana.

KPB Bionic UNY diwakili Aghnan Pramudihasan mempresentasikan kegiatan AWC yang dilakukan di dua tempat yaitu Waduk Mulur Sukoharjo dan Pagak Purworejo. AWC Waduk Mulur dilaksanakan pada tanggal 17 Januari 2017 dengan jumlah 27 jenis burung yang teramati, sedangkan AWC Pagak Purworejo pada tanggal 23 Januari 2017 dengan jumlah 38 jenis burung yang teramati.


Kegiatan Asian Waterbird Census yang dilakukan PPBJ dipresentasikan oleh Rahmadiyono Widodo dan Zulaima Rakhmatiar dari KP3Burung Fakultas Kehutanan UGM. Kegiatan yang disampaikan meliputi AWC di Arboretum UGM dan AWC di Delta Sungai Progo. Di akhir acara disampaikan agenda PPBJ terdekat adalah Jogja Bird Walk dengan penanggung jawab dari KSSL UAJY. (Desi/Aghnan)

Ikut Meru Betiri Sercive Camp XVIII

Tidak kurang dari 135 peserta yang didominasi oleh mahasiswa pecinta alam datang dari berbagai penjuru kota untuk mengikuti MBSC (Meru Betiri Service Camp) XVIII yang diselenggarakan selama 5 hari terhitung mulai tanggal 3-7 Februari 2017 berlokasi di Sukamade, Taman Nasional Meru Betiri.

KPB Bionic UNY mendelegasikan Wicak Aji Pangestu dan Arma Abdul Malik untuk mengikuti kegiatan ini. Mereka berangkat bersama dengan delegasi KS Odonata, KS Herbiforus dan BSO Arwana dari Jurusan Pendidikan Biologi UNY.

Meru Betiri Service Camp merupakan salah satu bentuk pendidikan kader konservasi dalam memasyarakatkan kesadaran akan pentingnya nilai konservasi sumber daya alam di masyarakat. Kegiatan MBSC ke-18 ini sendiri merupakan salah satu program kerja dari Taman Nasional Meru Betiri.

Meru Betiri Service Camp XVIII mengusung tema “Satu Gerakan Berjuta Aksi Melalui Konservasi Untuk Negeri”, hal ini dimaksudkan bahwa MBSC XVIII bertujuan untuk mencetak kader konservasi yang peka terhadap lingkungan, karena hal ini merupakan kewajiban kita semua sebagai motivator, katalisator dan dinamisator dalam upaya pembangunan yang berwawasan lingkungan.

Ketua Bionic 2017, Wicak Aji Pangestu menceritakan alasan dia mengikuti kegiatan ini adalah banyaknya materi yang diberikan pada kegiatan ini yang salah satunya adalah tentang pengamatan burung. Di dalam pamflet juga disebutkan bahwa perlengkapan yang perlu dibawa peserta antara lain tenda, binocular, kompas dan buku MacKinnon sehingga dia sangat tertarik.


Sebanyak 13 materi diberikan kepada peserta MBSC XVIII, yaitu: Kehutanan Umum, KSDAHE, Herbarium dan Analisis Vegetasi, Flora dan Fauna Indonesia, Flora dan Fauna Taman Nasional Meru Betiri, Hitung Karbon, Pengamatan Burung, Ekologi, Karnivor Besar dan Plestercast, Global Warming, Ekowisata dan Enterpretasi, Pengamatan Masyarakat, dan Advokasi Lingkungan. (Aghnan)

Rabu, 08 Februari 2017

KPPBI III di Bali

Konferensi Peneliti dan Pemerhati Burung di Indonesia (KPPBI) ke-3 telah usai, kegiatan tahunan yang selalu ditunggu-tunggu oleh para peneliti dan pemerhati burung untuk saling bertukar informasi tentang burung-burung di Indonesia. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Program Studi Magister Ilmu Biologi FMIPA Universitas Udhayana ini berlangsung mulai tanggal 2-5 Februari 2017.

Sebanyak 134 list abstrak penelitian tentang burung di Indonesia diterima dengan rincian 84 list untuk presentasi oral dan 50 list untuk presentasi poster. Sebanyak 250 peneliti dan pemerhati burung di Indonesia hadir dalam konferensi ini, selain peserta dari Indonesia kegiatan ini juga dihadiri oleh peserta dari Belanda, Jerman, Australia dan Amerika Serikat.

Beberapa Bionicers, sebutan bagi anggota KPB Bionic UNY mengirimkan hasil penelitian mereka dan berhasil lolos untuk dipresentasikan dalam KPPBI III. Beberapa hasil penelitian dari Bionicers yang lolos antara lain: 1) Keanekaragaman Burung di Jalur Pendakian Selatan Hutan Adat Wonosari Gunung Kidul DIY oleh Rahmadiyono Widodo, Ratih Dewanti, Lanna Murpi P dan Triajeng Nur Amalia; 2) Studi Burung-burung yang diperdagangkan di Pasar Tradisional Gawok Sukoharjo Jawa Tengah oleh Rahamadiyono Widodo dan Ahmad Arif; dan 3) Pelatihan Pengamatan Burung di Kampus FMIPA UNY untuk Meningkatkan Sikap Peduli Lingkungan pada Siswa SMA oleh Rio Christy Handziko, Aghnan Pramudihasan, Andri Nugroho dan Bowo Prakoso.
Ketua Panitia KPPBI III Bali, Luh Putu Eswaryanti Kusuma Yuni menjelaskan bahwa egiatan di koferensi ini dibagi menjadi dua yaitu simposium dan workshop. Topik utama dalam simposium antara lain: 1) Burung di habitat alaminya, 2) Burung di habitat yang dimodifikasi, 3) Topik khusus tentang konservasi Curik Bali dan 4) Scientific Journalism. Sedangkan untuk workshop, topik yang disediakan adalah 1) Fotografi untuk studi burung, 2) Percincinan burung, 3) Konservasi burung pemangsa dan 4) Peran medik konservasi untuk pelestarian burung. (Aghnan)