Header Ads

KPB Bionic UNY
  • Breaking News

     Cerita Bionic di PPBI ke-13 Banyumas

    Bagi anak-anak KPB Bionic UNY, Pertemuan Pengamat Burung Indonesia (PPBI) itu ibarat hajatan besar yang haram hukumnya buat dilewatkan. PPBI selalu punya cara sendiri buat mempertemukan kami dengan sesama pengamat burung, pejuang konservasi, dan kawan-kawan dari berbagai penjuru Nusantara. Setelah tahun lalu seru-seruan di Citalahab, PPBI ke-13 kali ini membawa kami ke Desa Sambirata, Kecamatan Cilongok, Banyumas, pada 3–5 Juli 2026.

    Tahun ini, Bionic mendelegasikan enam pengurus, yaitu Fadhil, Wahyu, Riani, Dini, Lina, dan Clod. Biar nggak grusa-grusu, kami memutuskan berangkat lebih awal pada Kamis siang (2/7). Berbekal motor kesayangan, kami membelah jalanan dari Jogja dan memilih grounding semalam di Banjarnegara sebelum lanjut gas ke Purwokerto besok harinya.

    Jumat pagi, kami meluncur ke Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Di sinilah rangkaian acara resmi dibuka dengan sambutan hangat dari panitia, Direktur The Biodiversity Society, hingga Kepala BAPPERIDA Banyumas. Sebelum masuk ke sesi seminar pertama, Mas Hariyawan Agung Wahyudi menyampaikan review dan pengantar PPBI ke-13 dan launching platform SafeNest.ID.

    Seminar sesi pertama bertema “Sinergi Stakeholder dalam Konservasi Burung Indonesia” dibersamai oleh Prof. Dr. Agus Nuryanto, Carl Traeholt, Ph.D, dan bapak Sunarto, Ph.D. Sementara itu seminar sesi kedua berlanjut ke topik SafeNest Indonesia dan Konservasi Berbasis Masyarakat yang dibawakan Mas Ari Hidayat dan Ahmad Uffi Lestari Ma'ruf.

    Nah, ujian sebenarnya baru dimulai pas sore harinya jam 15.00 WIB, ketika kami mulai bergeser dari Unsoed ke lokasi fieldtrip di Dusun Karanggondang, Desa Sambirata. Kami menaiki armada HiAce. Perjalanannya? Menegangkan! Jalurnya membelah perbukitan dengan tanjakan yang curamnya nggak main-main. Beberapa kali kami seisi mobil cuma bisa menahan napas sambil berdoa semoga armadanya masih sanggup menanjak :)

    Tapi begitu sampai lokasi fieldtrip, rasa tegang itu langsung terbayar tuntas. Guesthouse kami dikelilingi persawahan asri dengan latar belakang bukit-bukit hijau dan udara dingin yang bikin betah. Malamnya, kami berkumpul lagi untuk menerima sambutan dari Kepala Desa Sambirata, presentasi tim SafeNest Indonesia, dan ngobrol santai bareng Om Riza Marlon (Om Caca). Pas jam menunjukkan pukul sembilan malam, kami langsung pergi ke pulau kapuk buat amunisi tenaga besok.

    Lifelist Berharga: Bondol Green Binglis dan Paok Jawa!

    Sabtu pagi (4/7), semua peserta udah siap di lapangan. Pakai boot, bawa binokuler, kamera, ponco, racikan obat nyamuk dan anti-lintah, kami mulai menyusuri jalur pengamatan (persawahan – perbukitan – melewati sungai – mendaki gunung menuruni lembah).

    Dewi Fortuna rasanya lagi memihak kami pagi/siang itu. Ketika kami sudah hampir putus asa karena spesies yang kami cari-cari ga ketemu, akhirnya ketika perjalanan pulang ke guesthouse kami disuguhi penampakan Bondol-hijau binglis (Erythrura prasina) di area persawahan.

    Masuk siang hingga sore, acara diisi dengan sesi presentasi perwakilan peserta PPBI. Masing-masing perwakilan peserta saling unjuk data pengamatan dan cerita konservasi dari daerahnya. Malam harinya, giliran Lek Swiss Winnasis yang memandu kami untuk berdiskusi hangat soal arah kaderisasi pengamat burung muda dan lokasi PPBI berikutnya. Beberapa dari kami bahkan masih sempat lanjut herping dan pengamatan malam di sekitaran guesthouse.

    Hari terakhir, Minggu (5/7), diawali birdwatching tipis-tipis di sekitar desa. Kelompok Fadhil dkk akhirnya berhasil menemukan Paok pancawarna (Hydrornis guajanus), spesies endemik Jawa dan Bali, yang menjadi incaran utama peserta PPBI ke-13. Setelah sarapan, dirumuskan beberapa poin diskusi/rekomendasi konservasi.

    Salah satu poin yang cukup menarik dalam diskusi PPBI ke-13 ini adalah pentingnya memanfaatkan perkembangan teknologi dan media sosial untuk menyuarakan isu-isu konservasi. Di era digital seperti sekarang, pegiat konservasi perlu aktif di lapangan dan perlu bersuara di ruang digital. Dari sinilah muncul istilah “Jihad Sosmed”, sebagai semangat untuk menyebarluaskan informasi, edukasi, dan kampanye konservasi melalui media sosial.

    Akhirnya masuk ke sesi pembacaan hasil PPBI ke-13 dan penutupan. Di penghujung acara diumumkan bahwa Palu, Sulawesi Tengah resmi terpilih jadi tuan rumah PPBI ke-14! Sampai jumpa di Palu tahun depan! (Insyaallah)

    Selain dapat list data dan ilmu baru, PPBI kali ini makin berkesan karena kami bersua dengan senior-senior Bionic, seperti mas Imam, mas Zul, mas Panji, mas Adin, mas Bod, mas Sholeh, mas Anjas, dan mba Cicil.


    Kepedulian di hari ini, Kelestarian di masa depan.

    Hari ini, Peduli! Masa depan, Lestari!

     

    Tidak ada komentar