Minggu, 07 September 2014

"Anggota" Bionic Dominasi Juara LBWM 2014

"Anggota" Kelompok Pengamat Burung BIONIC Universitas Negeri Yogyakarta (KPB BIONIC UNY) mendominasi juara di Lomba Bird Watching Merapi 2014 tingkat nasional. Lomba Bird Watching Merapi (LBWM) 2014 ini diselenggarakan oleh Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) bekerja sama dengan Paguyuban Pengamat Burung Jogja (PPBJ). LBWM 2014 ini dilaksanakan pada tanggal 5-7 September 2014 di Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM).
The Aghnanisme - Juara Lomba Bird Watching Merapi 2014 [Andri]
Ada beberapa kategori yang dilombakan di LBWM 2014. Lomba utama terdiri dari tiga jenis lomba, yaitu pengamatan burung berupa hasil sketsa gambar burung dan deskripsinya, lomba cerdas cermat, dan kuis berupa tebak gambar dan tebak suara burung. Poin dari ketiga lomba tersebut akan diakumulasi untuk memperoleh tiga peringkat juara umum. Selain tiga kategori lomba tersebut, panitia juga mengadakan lomba dokumentasi dengan tiga kategori, yaitu foto satwa, foto tumbuhan, dan foto kegiatan. Ada juga lomba desain logo kegiatan yang nantinya logo terbaik akan digunakan sebagai logo Lomba Bird Watching Merapi selanjutnya.

Setidaknya ada 80 tim dari berbagai kelompok dan komunitas mengikuti LBWM 2014 ini. Tim-tim ini berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasisa, dan umum. Lomba pengamatan burung yang dilakukan dihari kedua dimulai dari campground di Karang Pramuka, Kaliurang menuju lokasi pengamatan. Lokasi pengamatan sendiri terdapat empat jalur, yaitu Tlogo Putri, Puncak Plawangan, Goa Jepang, dan Tlogo Nirmolo. Dari keempat jalur tersebut, tim bebas memilih jalur yang akan ditempuh namun panitia memberi batasan waktu pengamatan mulai pukul 04:30-12:00 WIB.
The Aghnanisme - Peserta Lomba Bird Watching Merapi 2014 [Andri]
Pada LBWM 2014 ini, KPB BIONIC UNY mengirimkan 7 tim dan 1 tim di antaranya berhasil menyabet juara untuk dua kategori, juara II dan juara pengamatan burung terbaik. Adalah tim Bionic Raminten yang terdiri dari Panji Gusti Akbar, Ekky Yudha P, dan Amanina. Juara III direbut oleh tim KSS Jamuskauman yang salah satu anggotanya adalah alumni Universitas Negeri Yogyakarta dan anggota KPB BIONIC UNY (Bionicers), yaitu Teguh Willy Nugroho. Juara pertama diraih The Tale of Javan Green Magpie dari Jakarta Birder yang salah satu anggotanya juga mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta dan juga Bionicers, yaitu Waskito Kukuh Wibowo. Atas perolehan prestasi tersebut kelompok studi ornithology dari Universitas Negeri Yogyakarta, KPB BIONIC UNY berhak atas tropi, sertifikat, dan uang pembinaan Rp 5.000.000,- untuk Juara II serta tropi, sertifikat, dan uang pembinaan Rp 750.000,- untuk Juara Kategori Pengamatan Burung Terbaik.

Kepedulian di hari ini, Kelestarian di masa depan.

Senin, 01 September 2014

Alat dan Perlengkapan Pengamatan Burung

Sebelum melakukan kegiatan pengamatan burung, dibutuhkan beberapa peralatan dan perlengkapan pendukung guna mendapatkan manfaat atau hasil yang bermakna. Penggunaan alat dan perlengkapan tersebut dapat disesuaikan dengan tujuan pengamatan itu tersendiri. Berikut beberapa alat dan perlengakapan yang diperlukan:

1. Teropong
Terdapat 2 jenis teropong yang biasa digunakan dalam pengamatan burung, yaitu Binokuler dan Monokuler.

   i. Binokuler
Binokuler (biasa disingkat "bino" atau "binok") merupakan alat bantu penglihatan terpenting guna mengamati dan mengidentifikasi jenis burung yang ditemui di lapangan. Binokuler terutama digunakan untuk pengamatan burung di hutan dan pengamatan jenis-jenis burung yang aktif bergerak karena penggunaannya cukup praktis dan mudah dikendalikan. Binokuler yang digunakan dalam pengamatan burung harus mempunyai kualitas yang baik. Binokuler dengan kualitas rendah tidak akan banyak berguna dan hanya akan merusak mata. Ukuran binokuler yang biasa diguanakan adalah 8x30, 8x40, 10x21.5, dan yang kekuatan lensa yang lebih besar lagi.
   ii. Monokuler dan tripod
Monuler (biasa disingkat "mono") biasanya digunakan untuk mengamati burung air atau burung pantai, burung-burung yang cenderung diam atau mengamati perilaku burung di sarang. Kelebihan dari monkuler adalah mempunyai kekuatan lensa yang jauh lebih besar dari binokuler. Pemakaian monokuler biasanya disertai dengan tripod (kaki tiga) sebagai penyangga. Terdapat berbagai ukuran monokuler, umumnya sampai perbesaran 60x.

2. Kamera
Penggunaan kamera sangat disesuaikan dengan tujuan pengamatan, apakah untuk memotret burung yang dijumpai saat pengamatan atau hanya sebagai dokumentasi kegiatan. Kamera yang digunakan untuk memotret burung harulah kamera dengan lensa tele minimal 300mm. Penggunaan kamera pocket untuk memotret burung dapat juga dilakukan degan cara dipadukan dengan monokuler dan tripod yang biasa dikenal dengan teknik digiscoping.

3. Buku catatan lapangan
Buku catatan lapangan merupakan alat dokumentasi terpenting. Idealnya, kita memiliki buku catatan lapangan khusus yang berisi informasi mengenai sketsa dan deskripsi jenis burung yang baru pertama kali kita jumpai, waktu pengamatan, lokasi pengamatan, kondisi cuaca, jenis-jenis burung yang dijumpai, dan nama rekan yang juga ikut mengamati saat itu.

Usahakanlah untuk merekam informasi sebanyak-banyaknya dari burung tersebut. Catatan ini akan sangat berguna dan penting, kecuali kita mempunyai kemampuan mengingat yang tidak terbatas dan dapat diandalakan! Buku catatan lapangan sebaiknya berukuran tidak terlalu besar. Buku seukuran saku sangat praktis dan ringan, namun biasanya cover buku tersebut tidak tahan air.

4. Buku panduan lapangan
Buku panduan lapangan digunakan untuk membantu mengidentifikasi jenis-jenis burung yang ditemi di lapangan. Untuk seluruh kawasan Indonesia, telah tersedia 3 buku panduan lapangan yang cukup baik dan populer dikalangan pengamat burung, yaitu untuk kawasan Sunda Besar (Sumatera, Jawa, Bali, dan Kalimantan), Wallacea (Nusa Tenggara dan Sulawesi), dan Papua.

5. Pakaian
Burung merupakan jenis satwa yang cukup peka. Di saat pengamatan di lapangan, sebaiknya menggunakan pakaian dengan warna yang tidak mencolok. Warna-warna terang sperti merah atau orange sangat tidak dianjurkan. Pilihlah pakaian yang berwarna gelap atau natural seperti hitam, coklat, atau hijau.

Penggunaan pakaian juga disesuaikan dengan kondisi lapangan. Untuk melindungi kepala dari terik matahari, disarankan untuk menggunakan topi atau bandana. Pemilihan pakaian yang kita gunakan saat di lapangan pada dasarnya adalah demi kenyamanan dan agar membantu kita untuk menemukan berbagai jenis burung saat pengamatan.

Kepedulian di hari ini, kelestarian di masa depan.

Sumber: BIONIC. 2014. Booklet Gelatik Bionic 2014. Sleman: Bionic-Press.

Mengamati Burung (Bird Watching atau Birding)

Bagi sebagian besar orang, mengamati burung atau bird watching atau birding bisa dibilang sebagai kegiatan yang aneh dan asing. Bagaimana tidak, kita mungkin akan mengatakan, "Untuk apa burung diamati? Apa asyiknya? Kayak engga ada kerjaan lain aja!" dan sebagainya. Tapi bagi para pengamat burung atau bird watcher atau birder (sebutan buat orang yang melakukan kegiatan mengamati burung), kegiatan ini mempunyai banyak sisi positif. Setidaknya dalam pengamatan burung tercakup 5 kegiatan positif, yaitu hobi, rekreasi, olahraga, ilmiah, dan konservasi.

Mengamati burung dapat menjadi hobi karena di dalamnya terdapat candu yang bisa membuat orang ketagihan dan mau melakukannya lagi, lagi, dan lagi. Kegiatan ini pun termasuk kegiatan rekreasi. Untuk dapat mengamati burung, para birder akan mengunjungi habitat asli tempat burung-burung berada. Habitat bagi burung tersebar secara luas, mulai dari taman, sawah, pantai, sampai hutan dan pegunungan. Berkunjung ke objek alam yang indah tersebut merupakan sebuah kegiatan refreshing tersendiri yang menyenangkan.

Aktivitas olahraga dalam pengamatan burung juga tidak dapat dilepaskan. Untuk dapat menemukan burung di habitat alaminya, pengamat burung pasti akan berjalan-jalan menyusuri taman, hutan, pantai atau di mana pun ia melakukan pengamatan. Dengan kata lain ia melakukan olahraga yaitu jalan kaki.

Dari segi ilmiah, dengan melakukan pencatatan terhadap berbagai jenis burung yang dijumpai di suatu kawasan, perilaku yang teramati, jumlah spesies, dan lainnya, maka akan terkumpul data yang mungkin saja amat penting bagi dunia ilmu pengetahuan, khususnya yang berkaitan dengan ornithologi (ilmu biologi yang mempelajari tentang burung). Bukan tidak mungkin data yang kita buat dari hasil pengamatan kita merupakan data dari suatu jenis burung yang untuk beberapa waktu yang lama tidak ada laporan mengenai status, keberadaan, dan persebarannya secara akurat dan tidak dimiliki oleh pra ornitolog manapun.

Terakhir, dalam kegiatan pengamatan burung terdapat nilai-nilai konservasi yang amat penting. Bagaimana mungkin mengamati burung apabila tempat yang menjadi habitat burung tersebut rusak sehingga berbagai spesies yang terdapat di dalamnya terancam kepunahan. Setidaknya seorang birder akan berupaya menjaga kelestarian lingkungan dengan tidak merusak habitat burung dan juga membiarkan burung terbang bebas untuk menjalankan tugas ekologinya masing-masing tanpa perlu mengurungnya dalam sangkar. Menurut MacKinnon, pemerhati burung berfungsi seperti mata dan telinga untuk mengawasi keadaan planet bumi ini.

Kepedulian di hari ini, kelestarian di masa depan.

Sumber: BIONIC. 2014. Booklet Gelatik Bionic 2014. Sleman: Bionic-Press.