Sabtu, 27 Juni 2015

Berburu Foto Si Burung Arwah

oleh: Angga N. Cahyanto

Tujuh bulan sudah saya menjalani hidup di kabupaten Ende, sebuah kabupaten yang terletak persis di tengah-tengah pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Saya dibuat takjub dengan perbedaan kehidupan di sini dengan kehidupan di jawa. Selain karena kehidupan di sini mengingatkan saya akan cerita kakek saya di tahun tujuh puluhan yang hidupnya masih sangat amat sederhana, di sini budaya adat juga masih sangat dijaga dengan baik. Baik dipedalaman maupun di kota. Hampir setiap hal besar ada aturan adat yang harus dilalui lebih dahulu seperti pernikahan, panen, tanam, maupun kematian.

Selain acara-acara adat, di Ende juga masih terdapat banyak mitos yang masih bertahan. Hampir berbagai tempat di Ende memiliki mitosnya sendiri-sendiri. tentu saja hampir semua warga Ende yang terdiri dari suku Ende dan Lio mempercayainya, karena memang ada istiadat di Flores secara umumnya dan Ende secara khusunya masih terjaga dengan baik. Karena itulah tidak begitu mengherankan juga apabila di Ende juga ada sebuah mitos tentang burung yang sangat terkenal.

Burung mitos yang saya akan ceritakan kali ini bukannya burung khayalan, tapi burung yang memang ada dikehidupan nyata. Warga Ende mengenal burung ini dengan nama burung Garugiwa . Tapi jika dilihat di fildguide burung-burung Wallacea maka burung ini bernama kancilan flores. Seekor burung endemik dari pulau Flores dan Sumbawa.

Burung yang memiliki nama latin Pachycephala nudigula ini dipercaya sebagai burung arwah penjaga danau Kelimutu. Ya, burung Garugiwa merupakan salah satu flag di kawasan Taman Nasional Kelimutu dan menjadi ikon penting di Kelimutu. Warga Ende percaya bahwa setiap orang yang mati maka arwahnya akan berkumpul di ketiga danau yang terletak di atas gunung kelimutu dan Garugiwa adalah burung penjaga arwah-arwah itu.

Selama di Ende sudah empat kali saya mengunjungi Taman Nasional Kelimutu. Di kunjungan pertama dan kedua saya dibuat gemas dengan kicau merdu burung ini karena waktu itu hanya lensa kit yang saya bawa -itupun dapat pinjam dari teman-. Dikunjungan yang ketiga giliran saya sudah memiliki kamera yang layak untuk pengamatan burung malah cuaca mendung sangat tidak memungkinkan untuk pengamatan. Seharian saya tunggu burung Garugiwa tidak ada sama sekali petunjuk keberadaannya. Malah demam yang saya dapatkan. Akhirnya baru di kunjungan yang ke empat saya berhasil mengangkap burung ini di memori kamera saya.

Cuaca sangat cerah ketika kunjungan ke empat saya ini. Bahkan saya juga sempat mendapat sunrise yang begitu cantik, salah satu andalan di Taman Nasional Kelimutu. Cuaca yang cerah tersebut sangat pas sekali untuk melakukan birdwatching. Apalagi di TN Kelimutu memang sudah disediakan area untuk melakukan birdwatching yang bernama Arbotherium. Di sini pengunjung dapat dengan leluasa memasuki hutan di sekitar kelimutu tanpa harus bersusah-susah blusukan karena di Arbotherium sudah dibangun jalan setapak untuk melakukan birdwatching.

Sekitar pukul 07.00 Wita, setelah menikmati sunrise yang cantik, sayapun memulai petualangan saya di Arbotherium TN Kelimutu dengan misi mendapatkan foto burung mitos Garugiwa . Cuaca yang cerah memang benar-benar menjadi berkah untuk saya. Kicau burung Garugiwa begitu merdu terdengar saling bersahutan laiaknya konser musik disebuah acara festifal musik. Ya, burung Garugiwa memang memiliki kicau yang amat merdu. Menurut keterangan di papan informasi tentang burung Garugiwa di salah satu spot di TN Kelimutu, burung ini memiliki 15 jenis kicauan yang berbeda. Bahkan saya sendiri sampai bingung sendiri memilih burung Garugiwa mana yang akan menjadi buruan saya.

Mengamati burung Garugiwa menuntut kesabaran yang tinggi. Meskipun burung ini berukuran sedang, +- 25 cm, tapi burung ini amat sulit untuk diamati. Selain warna bulunya yang berwarna hijau sangat sesuai untuk kamuflase di antara tajuk tengah dan atas di rimbunnya hutan di TN Kelimutu, pergerakannya yang sangat aktif juga sangat menyulitkan untuk mengamati burung ini. Jadi benar-benar harus menunggu timing yang tepat ketika burung ini keluar dari persembunyiannya di antara dahan-dahan pohon. Ya, sebetulnya percuma saja meskipun kicau burung ini begitu mudah untuk didengar karena burungnya sendiri sangat sulit untuk diamati.

Burung Garugiwa pertama yang saya amati di pagi yang cerah itu benar-benar membuat frustasi. Kicaunya yang merdu dan banyak tersebut terdengar sangat dekat sekali, namun ketika dicari ke sekitar si Garugiwa entah berada di mana. Warna bulunya yang hijau benar-benar menjadi kamuflase yang sempurna. Setelah ia berpindah ke tajuk yang lain baru ketahuanlah posisinya yang sebenarnya berada. Dan ketika tersadar burung tersebut telah berada jauh di dalam hutan. Hal yang sama terjadi untuk burung Garugiwa kedua, ketiga, keempat, hingga entah berpa lagi sayapun sampai lupa menghitungnya. Namun kekecewaan saya akan burung Garugiwa yang gagal tertangkap oleh shoot kamera tidak begitu lama. Burung Garugiwa yang lain siap untuk menggantikan kekecewaan tadi. Setiap kali mendengar kicau burung ini rasanya menambah semangat berkali-kali lipat untuk mengejarnya.

Akhirnya kesempatan itu datang juga. Ini entah burung Garugiwa yang keberapa saya tak begitu mengingatnya. Yang terlintas dikepala saya saat itu adalah begitu bergairahnya saya mendengar kicau merdu si burung mitos yang begitu dekatnya. Namun sama seperti sebelumnya, burung ini entah bersembunyi dimana. Sayapun harus kembali rela untuk keluar dari jalur resmi dan kembali ke kebiasaan lama untuk blusukan ke dalam hutan.

Untuk Garugiwa yang kasekian ini akhirnya saya memutuskan untuk lebih sabar dan berusaha mencari celah dengan berputar-putar mencari sudut yang tepat. Dan mungkin karena memang burung ini sudah berjodoh dengan saya, Garugiwa yang satu ini hanya terbang dari satu pohon satu ke pohon lainnya yang tidak terlalu jauh dan malahan mengarah ke sisi jalan Arbotherium yang lain. Oh ya, jalan setapak di arbhoterium yang sudah disusun dengan sangat rapi dari batuan seperti taman ini tidak hanya satu arah jalan saja, tapi juga memiliki banyak cabang yang intinya untuk menelusuri setiap celah hutan, kecuali jika sudah mentok ke jurang tentunya.

Akhirnya kesabaran saya berbuah manis. Si burung mitos ini terbang ke tajuk pohon lainnya yang kebetulan tepat berada di sebelah jalan resmi Arbotherium. Dan dari sudut tersebut sayapun bisa melihat posisi keberadaan burung. Namun saya harus memutar sedikit untuk mendapatkan sudut yang tidak terhalang dedaunan. Setelah beberapa kali melancarkan shoot akhirnya saya mendapat beberapa foto yang memuaskan. Yah, well, akhirnya perjuangan saya mendapatkan hasilnya. Rupanya untuk mendapatkan si burung arwah memang harus dengan perjuangan yang besar.

Akhirnya kali ini saya bisa keluar dari TN Kelimutu dengan kepala tegak karena telah berhasil mendapatkan foto burung Garugiwa , burung yang dipercaya sebagai arwah penjaga danau Kelimutu. Ah, saya justru berfikir kalau mitos inilah yang telah berhasil menjaga keberadaan burung Garugiwa dari perburuan liar. Burung dengan kicau yang beraneka jenis dan merdu ini bisa dengan tenangnya mendiami suatu wilayah adalah sebuah hal yang patut dibanggakan. Dan sekali lagi bagaimana berhasilnya kearifan lokal telah berhasil menjaga keberedaan satwa liar dari tangan kotor manusia. Grugiwa si burung arwah pejaga yang telah berhasil dijaga di TN Kelimutu. Semoga kicau merdunya bisa bertahan meramaikan suasana sunyi G. Kelimutu.





Mersi #4 (Pendataan Burung Kampus)

Pendataan burung kampus merupakan kegiatan rutin tiap tahun yang dilakukan Kelompok Pengamat Burung Bionic Universitas Negeri Yogyakarta. Kegiatan yang sudah dilaksaksanakan sejak tahun 2004 ini bertujuan untuk mendata jenis-jenis burung dan kelimpahannya di Universitas Negeri Yogyakarta.

Pendataan burung kampus diaksanakan pada hari Sabtu-Minggu, 20-21 Juni 2015 memasuki bulan puasa. Pelaksanaannya dilakukan dua kali pengamatan setiap harinya yaitu pagi dan sore hari. Pengamatan pagi hari dimulai pukul 07.00 - 09.00 WIB dan pengamatan sore hari pukul 15.30 - 17.30 WIB.

Beberapa catatan menarik dalam pendataan burung kampus bulan Juni 2015 yaitu dijumpai tiga ekor Celepuk reban / Sunda Scops-Owl di Taman Pancasila, Gelatik jawa / Javan Sparrow di FBS, Remetuk laut / Golden-bellied Gerygone dan Kareo padi / White-breasted Waterhen. Namun, terdapat beberapa jenis burung yang tercatat di pendataan burung kampus sebelumnya tetapi tidak dijumpai di pendataan burung kampus tahun ini. Salah satunya adalah Gemak loreng / Barred Buttonquail yang biasanya terdapat di sekitar kebun dekat GOR UNY.

Pengamatan dilakukan dengan membagi area UNY menjadi lima blok pengamatan yaitu FMIPA-FE-FIS-FIP, LPPM-LPPMP-FT, Rektorat UNY-Auditorium UNY-Lapangan Sepak Bola FIK-Lapangan Tenis FIK, Kebun Biologi-FBS, dan Laboratorium FMIPA-GOR UNY. Pada kegiatan ini tercatat ada 38 jenis burung yang dijumpai. Hasil dari pendataan burung kampus ini akan dipublikasikan dalam bentuk poster dan banner.

Mersi #3 (Kaderisasi Lanjutan) di SM Sermo

Kadalan (Kaderisasi Lanjutan)
Dahulu kala, acara ini bernama Follow Up Gelatik lalu karena perekrutan anggota diganti menjadi Pergam, namanya pun berubah menjadi Follow Up Pergam. Karena dirasa terlalu panjang dan orang-orang Bionic lebih suka memakai nama jenis burung sebagai akronim, munculah Kadalan dengan kepanjangan Kaderisasi Lanjutan.

Tidak jauh berbeda dengan Follow Up Gelatik di tahun sebelumnya, acara ini fokus untuk menindaklanjuti kegiatan Pergam dimana peserta sudah diberikan bekal mengenai cara pengamatan burung, cara menggunakan alat, cara identifikasi burung, dan lainnya. Di kegiatan ini, peserta diberikan materi mengenai Dokumentasi dan Kepenulisan. Harapannya hasil pengamtan burung yang telah dilakukan dapat terdokumentasi dan tertulis menjadi lebih baik.

Materi Dokumentasi disampaikan oleh Ahmad S Abid sebagai Ketua Bionic 2013. Dalam materi ini disampaikan beberapa poin penting cara dokumentasi brung mulai dari ngelist dan sketsa burung, foto, dan video.

Materi selanjutnya tentang Kepenulisan disampaikan oleh Shaim Basyari. Untuk materi yang satu ini, sebenarnya banyak sekali poin-poin yang perlu dicatat mulai dari pentingnya menulis, mencatat hal-hal mengenai burung, membuat proposal penelitian, mengirimkan jurnal, cara mendapatkan inspirasi menulis, dan masih banyak lagi. Dari sekian slide yang ditampilkan, terdapat sebuah kalimat berbahasa Inggris yang artinya “Jika ingin melihat ke depan dengan lebih luas, berdirilah di atas bahu raksasa”. Semoga bisa menafsirkannya sendiri.

Pengamatan Burung
Perlu diketahui bahwa peserta pada acara Kadalan ini semuanya adalah perempuan.

Pengamatan burung dimulai Minggu pagi. Peserta dibagi menjadi 3 kelompok besar ditambah beberapa pemandu. Pengamatan dimulai sekitar pukul 07:00 sampai 10:00 wib. Setelah acara diskusi, diperoleh hasil kompilasi dari 3 jalur yang dilalui ditambah 1 jalur tambahan ditemukan 17 jenis burung yang menghuni Suaka Margasatwa Sermo.

Mersi #2 di Tlogo Nirmolo

Mersi #2 merupakan lanjutan dari program kerja Bidang Operasional. Sebelumnya sempat adu pendapat dengan Bidang Pemberdayaan Anggota mengenai agenda ini, apakah akan menjadi Mersi #2 atau Pelatihan Sketsa. Dua proker itu sama-sama melakukan pengamatan burung, namun berbeda tujuan. Sesuai rapat kerja, Mersi bertujuan untuk menambah list burung, menambah list tempat, maupun hanya sekedar pengamatan biasa dan kegiatan ini menjadi tanggungjawab Bidang Operasional. Sedangkan Mersi dari Pemberdayaan Anggota harus memiliki tujuan yang jelas, misalkan pelatihan sketsa.

Sebagai jalan tengahnya, Mersi #2 tetap dilaksanakan tetapi di hari sebelumnya diadakan pelatihan sketsa. Harapannya, setelah pelatihan sketsa ini, cikalang segera dapat mengaplikasikannya secara langsung teknik sketsa yang telah diberikan pada saat Mersi #2.

Setelah dibagi menjadi 3 kelompok besar, pengamatan dimulai. Jalur pertama menuju Goa Jepang, jalur kedua menuju Tlaga Putri, dan jalur ketiga menuju Puncak Plawangan. Sekitar pukul 08:30 pengamatan dimulai secara serentak.

Jalur Goa Jepang bersama Mas Hasbi, dkk; jalur Tlogo Putri bersama Rahamdiyono, dkk; dan jalur Puncak Plawangan bersama saya dan cikalang dari kelompok yang saya pandu sendiri, Dicaeidae dan tambahan dari kelompok Diva.

Pengamatan dengan kelompok terakhir itu bisa dikatakan sering "gagal fokus", mungkin efek pemandunya. Biasanya tujuan pengamatan burung menjadi prioritas kedua setelah tujuan lokasinya, sebut saja ingin ke air terjun atau ke puncak. Bukan hanya itu saja, pengamatan sering terhenti karena beberapa hal, biasanya sih lokasi bagus lalu selfie, ada anggrek, jamur, tupai, dan lain-lain. Namun itu semua bukan masalah bahkan menjadi bonus tersendiri selain memperoleh list burung guna mendapatkan nomor keramat.

Nah, Puncak Plawangan menjadi target utama saat itu. Mersi #2 dimulai. Berjalan cukup lama, tak satu pun burung terlihat, hanya terdengar suara. Burung-burung yang biasanya terlihat di beberapa titik tidak muncul. Beruntungnya, di salah satu spot kami menjumpai beberapa burung yang aktif bergerak. Dimulai dari Sikatan belang, Cabai gunung, Burungmadu sriganti, Kacamata biasa, Wergan jawa, dll.

Semuanya dalam satu spot, mungkin sampai sekitar 15 menit kami terhenti di spot ini mengamati burung-burung yang silih berganti bermunculan. Sayangnya, Bondol hijau-binglist tertinggal dan luput dari pengamatan. Kelompok lain yang menemukan. PR buat pemandunya karena juga belum pernah melihat.

Waktu yang semakin sedikit dan cuaca yang semakin panas sempat membuat semangatmuncak mereka hilang dan hampir menyerah. Iyo ra, cah? Namun, karena sedikit kebohongan dengan kata-kata seperti Kurang 10 menit tekan, kurang 7 belokan, dan lainnya, satu persatu dari mereka muncul di puncak. Terduduk. Itu yang saya lihat ketika mereka tiba dipuncak. Baru beberapa saat kemudian mereka berdiri dan mengucap kagum dengan pemandangan yang disajikan dari puncak.

Tak berapa lama kemudian kelompok Rahmadiyono, dkk yang seharusnya ke arah Tlogo Putri datang. Jalur mereka tertutup longsor sehingga berubah tujuan. Tiba-tiba kami dikejutkan dengan seekor burung yang terbang cepat melewati kami, lalu dengan anggunnya bertengger di dahan pohon yang berda di Puncak Plawangan.

Warna tubuh dominan biru dengan perut putih dan sekitar mata hitam. Dialah Sikatan ninon / Indigo flycatcher yang umum dijumpai di ketinggian. Hanya dua frame saja yang saya dapatkan sebelum burung ini terbang kembali.