Sabtu, 31 Desember 2016

Gelatik (Gelar Pelantikan) 2016

Ditulis oleh Ika Nur Rahma

Hari Sabtu, 17 Desember 2016, UKMF Bionic melakukan kegiatan Gelar Pelantikan (Gelatik) 2016 angkatan XIII Merops Philippinus di desa Jatimulyo, Girimulyo, Kulon Progo. Kegiatan tersebut dimulai pada pukul 06.00 dengan dilakukan briefing untuk dibagi menjadi beberapa kelompok untuk melalui jalur yang berbeda. Saya bersama dengan Fianti dan Annisa yang dibersamai dengan Mas Andri dan Nurul melalui jalur Bolo Dewo untuk melakukan pengamatan burung.

Pukul 06.30, cuaca mendung, kami berangkat dengan berjalan kaki sambil mengamati pohon yang ada di kanan dan kiri kami. Burung-burung mulai berkicauan dimana-mana. Dari jalan yang kami tempuh, terlihat sekawanan walet lichi sedang terbang memutar di atas watu blencong. Walet linchi ini memiliki ciri-ciri antara lain saat terbang terlihat sayap terbuka lebar berwarna hitam dan pada bagian tubuh nya berwarna putih. Ekornya membentu huruf V terbalik.

Perjalanan kami lanjutkan, ternyata di salah satu pohon kelapa di sebelah kami terdapat 2 burung yang sedang bertengger. Burung tersebut memiliki ciri-ciri tubuhnya berukuran kecil, lebih kecil dari burung gereja, paruh berwarna hitam panjang, bagian tubuh bawah berwarna hijau kekuningan, bagian tubuh atas (punggung) berwarna kecoklatan.

Kemudian kami melihat lagi, 2 burung dengan ciri-ciri yang sama yaitu bagian tubuh depan berwarna hijau kekuningan, paruh panjang, dan ukuran tubuhnya kecil sedang berkejar-kejaran, hinggap dan berpindah dari satu pohon ke pohon lain. Selang sekitar 200 m, ditemukan burung dengan ciri-ciri yang sama sedang bertengger di pohon terkadang terbang pindah dari satu pohon ke pohon lain.

Perjalanan berlanjut, di salah satu pohon terdapat 2 burung yang memiliki ciri-ciri berukuran sangat kecil, lebih kecil dari burung gereja erasia, bagian kepala dan tubuh bagian atas berwarna biru, tubuh bagian bawah berwarna kuning, dan ekor nya sangat pendek. Burung ini berpindah-pindah dari satu ranting ke ranting lain, sesekal meloncat-loncat.

Perjalanan dilanjutkan, di salah satu pohon kelapa pada manggarnya ditemukan burung dengan ciri-ciri paruh berwarna hitam, tubuh bagian atas berwarna hitam, dan tubuh bagian kuning. Sebenarnya, kami disuruh mengamati bagian tengkuknya, namun saat akan diamati burung ini terbang. Pukul 09.30 kami berhenti dan duduk di spot yang dekat dengan selokan, disitu kami membuat sketsa dan menulis artikel populer. Saat kami sedang menulis artikel populer, ternyata Mas Andri melihat burung dan membeti tahu kami untuk mengamatinya. Burung tersebut memiliki ciri-ciri tubuh lebih besar dari gereja erasia, paruh bewarna merah, dan tubuh bagian punggung juga bewarna merah. Saat akan diamati lebih lanjut, ternyata burung ini sudah terbang.

Kamis, 01 Desember 2016

Buku Panduan Lapang Burung Kampus Karya KPB Bionic UNY Akhirnya Terbit

Pendataan Burung Kampus di Universitas Negeri Yogyakarta sudah dimulai sejak tahun 1994 oleh Pak Djuwanto, M.S selaku dosen ekologi dibantu oleh beberapa mahasiswa. Pendataan bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis burung yang ada di kebun Biologi FMIPA UNY. Pada tahun 2003, Pak Yuni Wibowo, M.Pd selaku dosen Pendidikan Biologi kembali melakukan penelitian burung di kampus UNY setelah sebelumnya sempat terhenti.

Pertengahan tahun 2004 muncul beberapa mahasiswa Biologi angkatan 2001 yaitu Imam Taufiqurrahman, Anis Utomo dan Ahmad Fahrudin yang begitu tertarik dengan pengamatan burung. Kemudian bersama 7 orang lainnya, mereka mencoba mwadahi kegiatan ini dengan membentuk sebuah kelompok yang mengkhususkan diri pada dunia perburungan. Akhirnya BIONIC menjadi nama yang disepakati, sebuah akronim dengan kepanjangan “Biology UNY Ornithologi Club”.

Tahun pertama menjalani sebagai sebuah organisasi intra kampus, BIONIC belum banyak melakukan program dan kegiatan. Mersi singkatan dari bahasa Jawa “Mersani Peksi” yang berarti pengamatan burung menjadi kegiatan inti yang rutin dilakukan. Mersi yang rutin dilakukan di kampus kemudian menjadi Pendataan Burung Kampus. Hasil dari Pendataan Burung Kampus setiap tahun tersimpan di file pengurus Bidang Operasional.

Tahun 2013, melalui Ahmad Zulfikar Abdullah dan Zulqarnain Assiddiqi, KPB Bionic UNY mulai menyusun sebuah buku panduan tentang burung-burung yang ada di kampus. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan berbagai jenis burung yang pernah teramati di kampus kepada masyarakat luas khususnya cititas akademi UNY. Buku ini juga sekaligus mejadi media kampanye untuk mengajak lebih peduli dan menjaga lingkungan sekitar khususnya kampus.

Di pertengahan tahun 2015, Buku Panduan Lapang Burung Kampus UNY Karangmalang Yogyakarta selesai disusun, diolah dan siap diterbitkan. Namun, dalam proses penerbitannya buku ini sempat terkendala proses administrasi. Akhirnya buku panduan pengamatan burung karya Bionicers (sebutan bagi anggota KPB Bionic UNY) ini harus tersimpan untuk beberapa saat.

Di tahun 2016, dengan persetujuan Bapak Dr. Paidi M.Si selaku Ketua Jurusan Pendidikan Biologi akhirnya Buku Panduan Lapang Burung Kampus UNY Karangmalang Yogyakarta memperoleh ISBN dan siap dicetak meskipun masih dalam jumlah terbatas. 

Mengingat bahwa ide untuk menyusun buku burung kampus dan menerbitkannya sudah ada sejak lama bahkan sebelum Tim Penyusun terbentuk, Ketua KPB Bionic UNY tahun 2016, Aghnan Pramudihasan masih mencoba mengusahakan untuk memperbanyak jumlah buku yang dicetak. Buku ini nantinya dapat menjadi informasi terkini tentang potensi burung yang ada di Kampus UNY Karangmalang kepada civitas akademika UNY maupun instansi luar. Selain itu, buku ini juga dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam pembangunan Kampus UNY Karangmalang yang berorientasi terhadap kelestarian burung di alam. (Aghnan)

Minggu, 27 November 2016

JBW Bulan November 2016 di Blok O Jogja

JBW (Jogja Bird Walk) merupakan agenda pengamatan burung setiap bulan yang di koordinasi langsung oleh PPBJ (Paguyuban Pengamat Burung Jogja). Dalam setiap pelaksanaannya, penanggung jawab JBW ini dilimpahkankan kepada kelompok – kelompok pengamat burung anggota PPBJ. Salah satu tujuan dari diadakannya pengamatan burung rutin ini adalah untuk membantu tim ABI (Atlas Burung Indonesia) dalam menghimpun data burung yang ada di seluruh wilayah khususnya Jogja dan sekitarnya.

“Jogja merupakan daerah dimana kelompok pengamat burungnya terbanyak daripada daerah – daerah lain, sehingga diharapkan dapat menyumbang data yang banyak pula untuk perkembangan atlas burung Indonesia yang terus memperbarui data temuan burung di berbagai wilayah di Indonesia,” kata Koordinator PPBJ, Rahmadiyono Widodo, Minggu (27/11/2016).

Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan minat dalam pengamatan burung untuk mengeksplorasi burung dan habitatnya, khususnya bagi para anggota baru dari berbagai organisasi pengamat burung. Kegiatan ini juga sebagai ajang silaturahmi antar organisasi yang termasuk dalam PPBJ.

Pada bulan November, JBW dilimpahkankan kepada KP3Burung FKT UGM yang mengambil lokasi di Blok O, Adi Sucipto. Kegiatan ini diikuti oleh beberapa organisasi pengamat burung diantaranya Binobio UAD, Biolaska UIN, KSSL FKH UGM, KP3 UGM, Mapala STTL ITY, KSB UAJY dan KPB Bionic UNY.

Acara pengamatan berlangsung pada pukul 07.30 – 09.00 WIB dan dilanjutkan dengan sesi diskusi yang dipimpin langsung oleh Aim dari KP3Burung FKT UGM. Diskusi dimulai dengan perkenalan dari masing- masing organisasi dan dilanjutkan dengan menyampaikan jenis burung yang dijumpai selama pengamatan berlangsung. Beberapa burung yang berhasil teramati yaitu Cekakak Sungai, Raja Udang Meninting, Kipasan Belang, Kapasan Kemiri, Kareo Padi, Sepah Kecil, dan sebagainya dari 21 jenis burung yang dijumpai. Daftar jenis burung bertambah ketika salah satu dari anggota KPB BIONIC UNY, Panji Gusti Akbar melihat burung Tangkar Centrong yang terbang melintas dan mengalihkan sejenak acara diskusi yang sedang berlangsung dan sekaligus menjadi list jenis burung ke-22 yang teramati. 

Setelah penyampaian list jenis burung yang dijumpai, dalam kegiatan ini KPB Bionic UNY "ditodong" untuk berbagi cerita mengenai PPBI IV di Lombok bulan kemarin.

Di akhir sesi diskusi, disampaikan pula oleh Rahmadiyono Widodo selaku Koordinator PPBJ yang baru mengenai susunan kepengurusan PPBJ yang baru dan program kerja PPBJ yang salah satunya adalah Meninting. Meninting merupakan akronim dari Menulis Itu Penting, sebuah forum menulisnya pengamat burung di Yogyakarta. Tujuan kegiatan ini terutama untuk mendorong produktifitas menulis dan memublikasikannya secara ilmiah hasil-hasil pengamatan maupun penelitian para pengamat burung Jogja. (Desi/Aghnan)

Rabu, 23 November 2016

Mersi di TNGM

Kawasan Taman Nasional Gunung Merapi memiliki potensi fauna yang cukup tinggi. Berdasarkan hasil survey yang telah dilakukan diketahui  97 jenis burung (2.714 individu, 32 famili) dan 15 jenis mamalia (167 individu, 10 famili). Dari jenis-jenis tersebut, 17 jenis burung dan 4 jenis mamalia termasuk jenis yang dilindungi menurut PP No 7 Tahun 1999, 6 jenis memiliki nilai konservasi tinggi (IUCN 2011), 9 jenis diawasi dalam perdagangan satwa langka (CITES), 23 jenis endemik Indonesia dan 2 jenis termasuk feral atau bukan sebaran alami Indonesia atau domestik.

Tak salah kalau kawasan Taman Nasional Gunung Merapi menjadi salah satu lokasi favorit untuk pengamatan burung. Beberapa kelompok pengamat burung di Jogja hampir dipastikan pernah berkegiatan di kawasan TNGM.

Hari Minggu (20/11) kemarin, KPB Bionic UNY melakukan Mersi (Mersani Peksi) atau pengamatan burung di Taman Nasional Gunung Merapi, tepatnya di Telaga Nirmolo. Kegiatan ini merupakan program dari bidang Operasional yang bertujuan untuk memberdayakan dan meningkatkan kemampuan anggota KPB Bionic UNY dalam kegiatan eksplorasi burung dan habitatnya serta meningkatkan kepedulian mahasiswa terhadap keanekaragaman hayati di Indonesia terutama jenis burung. Selain itu, kegiatan ini dapat menjadi ajang pengenalan anggota baru dengan anggota lama serta temu kangen antar anggota senior dengan Bionicers lainnya.

"Mersi di Tlogo Nirmolo kali ini mengambil jalur ke Puncak Plawangan. Peserta dibagi menjadi 2 tim agar tidak terlalu riuh dan lebih fokus saat pengamatan," kata Andri Nugroho.

Beberapa jenis burung yang dijumpai antara lain burung hutan seperti Kacamata biasa, Brinji gunung, Empuloh janggut, Walik kepala ungu, Srigunting kelabu dan Bentet biasa. Burung semak seperti Brencet kerdil, Brencet berkening dan Tesia jawa juga teramati. Elang ular bido dan Sikep madu asia juga masuk dalam list pengamatan. Dalam kegiatan MERSI kali ini, setidaknya ada 30 jenis burung yang tercatat.

Kepedulian di hari ini, kelestarian di masa depan (Aghnan Pramudihasan).

Selasa, 15 November 2016

Biologi Mengajar ala KPB Bionic UNY

Himabio FMIPA UNY mengadakan kegiatan Aksi Sosial Himabio 2016 dengan tema `Biologi Berbagi, Wujudkan Insan Peduli` di Kuwon Tengah, Pacarejo, Semanu, Gunungkidul (5-6/10). Beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain penyuluhan tentang pembuatan pupuk kompos, cek kesehatan gratis, pemberian sembako, pemberian susu gratis untuk anak-anak dan bazar baju.

Selain itu ada kegiatan Biologi Mengajar, dimana Himabio FMIPA UNY bekerjasama dengan SMP PGRI Semanu. Pada kegiatan Biologi Mengajar ini Himabio FMIPA UNY mengajak BSO BSG, Kelompok Studi Herbiforus dan KPB Bionic UNY.

Masing-masing organisasi memberikan materi dan pelatihan sesuai bidang yang ditekuni kepada siswa kelas VII SMP PGRI Semanu. BSO BSG dengan materi tentang kelelawar, KS Herbiforus dengan pelatihan pembuatan pot hidroponik sederhana dan KPB Bionic UNY dengan materi tentang burung.KPB Bionic UNY memberikan materi tentang Burung dan Habitatnya, Nilai Penting Burung, serta Kegiatan Pengamatan Burung.

Siswa juga berkesempatan untuk mencoba menggunakan teropong binokuler, alat bantu yang digunakan untuk melihat burung di alam. Kegiatan pengamatan burung di alam secara langsung tidak memungkinkan karena saat itu siang hari. Perjumpaan dengan burung akan sangat sulit jika memaksakan untuk melakukan pengamatan secara langsung.

Beberapa siswa sudah mengenal burung-burung di sekitarnya tetapi masih dengan nama lokal, seperti talokan atau burung cabai jawa, tengkek atau burung cekakak dan lainnya. Ternyata masih banyak dari mereka yang belum mengetahui bahwa ada beberapa burung yang dilindungi karena dari pengakuan mereka, mereka masih senang berburu burung menggunakan ketapel. Setelah penyampaian materi ini diharapkan mereka dapat belajar untuk peduli lingkungan khususnya burung. (Aghnan)

Selasa, 08 November 2016

PPBI VI di Lombok

Pertemuan Pengamat Burung Indonesia (PPBI) merupakan kegiatan rutin tiap tahun yang dilaksanakan oleh Pengabdi (Pengamat Burung Indonesia). Tujuan diadakannya kegiatan ini adalah sebagai ajang silaturahmi antarpengamat burung dari berbagai instansi maupun komunitas fotografer alam liar khususnya burung dan juga membahas perkembangan Atlas Burung Indonesia.

PPBI VI tahun ini dilaksanakan di Taman Wisata Alam Kerandangan Lombok (28-30/10), setelah di tahun sebelumnya dilaksanakan di Bandung. Terpilihnya Lombok sebagai lokasi PPBI tidak lepas dari adanya burung-burung khas yang mudah dijumpai di Lombok antara lain Celepuk Rinjani, Cekakak Kalung Coklat dan Paok Laus.

Peserta PPBI VI berasal dari berbagai intstansi maupun komunitas pengamat burung dan fotografer alam liar khususnya burung. Beberapa peserta yang ikut meramaikan PPBI VI antara lain KPB Bionic UNY, Biolaska UIN SUKA, Haliaster Undip, Kepak Sayap UNS, Comata UI, Kecial Unram dan instansi lain serta komunitas fotografer alam liar. KPB Bionic UNY menjadi salah satu kelompok yang paling banyak mendelegasikan anggotanya yaitu sebanyak 10 orang.

Kegiatan PPBI VI dimulai dengan laporan ketua panitia dan sambutan dari perwakilan BKSDA NTB kemudian dilanjutkan dengan presentasi kegiatan dari masing-masing wilayah. Dari wilayah Jogja presentasi diwakili oleh Rahmadiyono Widodo selaku Koordinator Paguyuban Pengamat Burung Jogja (PPBJ) sekaligus pengurus aktif KPB Bionic UNY.

Di setiap waktu luang, peserta memanfaatkannya untuk berburu mendokumentasikan Celepuk Rinjani dan mencoba untuk menemukan Paok Laus. Beberapa peserta juga mendapatkan kesempatan untuk melakukan pengamatan Burung Raptor di Bukit Nipah dimana jarak pandang dengan Burung Raptor sangat dekat dan dalam jumlah banyak. Peserta juga mendapat kesempatan untuk trip ke Gili Meno sekaligus melakukan pengamatan burung air dan burung pantai.

Selain pengamatan burung, peserta juga memperoleh materi mulai dari Burung-burung di Lombok dan Sumbawa oleh Saleh Amin, Kontribusi Fotografi Satwa Liar dalam Ornitologi oleh Muhammad Iqbal, Atlas Burung Indonesia oleh Imam Taufiqurrahman dilanjutkan oleh Nurdin Setyo Budi selaku Koordinator Tim Kartografer Atlas Burung Indonesia.

Materi terakhir tentang Citizen Sains oleh Swiss Winnasis kemudian dilanjutkan dengan diskusi untuk menentukan lokasi PPBI VII tahun 2017. Berdasarkan diskusi dan voting dengan berbagai pertimbangan yang telah disampaikan oleh masing-masing perwakilan dari tiap kandidat, terpilihlah Kota Bima sebagai lokasi PPBI VII tahun 2017 mendatang. (Aghnan)

Rabu, 02 November 2016

KPB Bionic UNY Ikuti KNPPBI 2016


KPB Bionic UNY mengikuti Konferensi Nasional Peneliti dan Pemerhati Burung di Indonesia (KNPPBI) yang pada tahun 2016 adalah pelaksanaan tahun kedua. Setelah sukses dilaksanakan di Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun lalu, tahun ini KNPPBI II dilaksanakan di Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY),(4-6/2). Ketua panitia KNPPBI, Ign. Pramana Yuda menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan ajang komunikasi antar peneliti dan pemerhati burung dan meningkatkan sinergi dan kerjasama. Kerjasama yang dimaksudkan adalah kerjasama dalam pengembangan ornitologi dan konservasi burung di Indonesia.

KNPPBI II terdiri dari tiga kegiatan yaitu simposium (diskusi panel dan paralel), workshop, serta pameran foto. Konferensi dibuka oleh Rektor UAJY dilanjutkan sesi simposium. Sesi simposium diawali oleh Ir. Sonny Partono, MM. dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan kemudian dilanjutkan oleh Prof. Emeritus Dr. Pilai Poonswad dari Universitas Madihol Filipina.

Selain Prof. Emeritus Dr. Pilai Poonswad, pembicara utama dalam simposium panel adalah Imam Taufiqurrahman (anggota KPB Bionic UNY angkatan I) yang menyampaikan materi tentang Atlas Burung Indonesia. Pada sesi simposium paralel, KPB Bionic UNY berhasil meloloskan enam abstrak dan mempresentasikannya. Lima abstrak dipresentasikan pada oral presentation dan satu abstrak pada poster presentation. Lima abstrak pada oral presentation merupakan hasil penelitian populasi burung elang-ular bawean (Spilornis baweanus) di Pulau Bawean oleh Aghnan Pramudihasan, diversitas burung di hutan Petungkriyono Pekalongan oleh Kurnia Ahmadin, diversitas burung di lereng selatan dan utara Gunung Merapi oleh Arellea Revina Dewi, populasi Burung Anis Gunung (Turdus poliochepalus) di lereng selatan dan utara Gunung Merapi oleh Nurrohman Eko Purnomo, dan kegiatan bird watching for kids oleh Rahmadiyono Widodo. Satu abstrak pada poster presentation merupakan hasil penelitian Burung Cerecet Jawa (Psaltria exilis) di Cibodas oleh Andri Nugroho. Selain itu, empat anggota KPB Bionic UNY juga berhasil meraih Grant for Student and Young Birder, empat anggota tersebut adalah Aghnan Pramudihasan, Arellea Revina Dewi, Nurrohman Eko Purnomo, dan Rahmadiyono Widodo. Tidak hanya pada sesi simposium paralel, KPB Bionic UNY juga menorehkan prestasi pada ajang pameran foto. Dari 51 foto terbaik yang dipamerkan, 20 foto diantaranya adalah hasil karya anggota KPB Bionic UNY.

Konferensi diakhiri dengan kegiatan workshop(6/2). Workshop terbagi kedalam empat topik yaitu konservasi raptor Indonesia, distance analysis, spacial modeling untuk konservasi, dan ekologi molekuler burung. Melihat prestasi yang baik pada KNPPBI II, KPB Bionic UNY akan berusaha untuk menorehkan prestasi lagi di Konferensi Nasional Peneliti dan Pemerhati Burung di Indonesia III yang direncanakan dilaksanakan di Universitas Udayanan Bali. (R. Widodo)

Kamis, 20 Oktober 2016

Lakukan Pendataan Burung Kampus, Temukan Raptor Migran

Pendataan burung kampus merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan oleh KPB Bionic UNY yang bertujuan untuk memberi pengalaman kepada anggota dan calon Bionic khususnya dan mahasiswa UNY umumnya dalam melakukan pendataan burung liar di kampus menggunakan metode encounter rate. Kegiatan ini dilakukan untuk mendata jenis-jenis burung liar yang berada di lingkungan sekitar terutama kampus dan untuk memperbarui data mengenai kelimpahan dan persebaran burung liar yang ada di kampus UNY Karangmalang.

Ketua Bionic, Aghnan Pramudihasan menerangkan, dalam kegiatan ini, kampus UNY Karangmalang dibagi menjadi 5 blok yaitu FMIPA-FE-FIS-Foodcourt, LPPM-LPPMP-FT, Pascasarjana-Rektorat-Lapangan Sepak Bola-GOR Tenis, Laboratorium FMIPA-GOR-FIK, dan Kebun Biologi-FBS. Pengamat yang sudah dibagi melakukan pengamatan di setiap blok yang sudah ditentukan. Data jenis burung, jumlah burung dan keterangan lain seperti perilaku burung dicatat di lembar pengamatan. Lokasi perjumpaan jenis burung dituliskan dalam peta yang sudah disediakan.

Dijelaskan, pengamatan pendataan burung kampus di tahun 2016 ini dilakukan 2 kali, kegiatan pertama sudah dilakukan bulan Mei 2016 kemarin. Di bulan Oktober 2016, pendataan burung kampus dilakukan selama 3 hari berturut-turut mulai 14-16 Oktober 2016 pukul 07:00-10:00 WIB dan 15:30-17:00 WIB.

Beberapa catatan menarik dalam pendataan burung kampus bulan Oktober 2016 ini yaitu dijumpai Remetuk laut / Golden-bellied Gerygone yang sudah bersarang, Gelatik jawa / Javan Sparrow di FBS, dan Kipasan belang / Pied Fantail di Taman Pancasila. Yang paling menarik perjumpaan seekor Elang-alap Cina / Chinese Goshawk di Kebun Biologi. Adalah Desi Dwi Ariyanti, Dinar Cahyaningtyas dan Varadilla Nur 'Aini Putri yang berhasil mengamati dan mendokumentasikan Elang-alap Cina bertengger di pohon randu atau kapuk (Ceiba pentandra).

“Menurut MacKinnon (2010), Elang-alap Cina termasuk burung migran yang berbiak di Asia bagian timur laut dan Cina, mengembara pada musim dingin ke selatan sampai Asia Tenggara, Filipina, Indonesia dan Pulau Irian”, lanjutnya.

Pada kegiatan ini tercatat ada 38 jenis burung yang dijumpai. Hasil dari pendataan burung kampus ini akan dipublikasikan dalam bentuk poster dan banner. (Aghnan/witono)

Senin, 17 Oktober 2016

Catatan Pertama: Bali Bird Watching Race 2016

Hari itu Kamis, bertepatan dengan tanggal 12 Mei 2016 sekitar pukul 06.30 WIB. Tim yang beranggotakan Panji, Abid dan Hasbi berangkat menuju Stasiun Lempuyangan dari Bionic Base Camp (BBC) dengan diantarkan oleh mas Abhe, mas Adin dan Andi. Tiba di stasiun sekitar pukul 7 lewat langsung menuju pos pemeriksaan, setelah selesai kemudian masuk ke kereta KA Sri Tanjung dengan tujuan akhir Stasiun Banyuwangibaru. Kami duduk di kursi 4A, 4B, dan 4C, selain kami juga ada Kholil, mahasiswa semester 4 Fakultas Hukum UGM yang asli Banyuwangi dan juga ada Albi, anak Kemayoran yang baru lulus SMA yang mau muncak ke Gunung Rinjani, kereen dah!

Bagi saya sendiri, perjalanan dengan KA Sri Tanjung merupakan perjalanan yang kedua kalinya yaitu pada akhir tahun lalu. Setelah perjalanan selama 14 jam, kami tiba di Banyuwangi pada pukul 21.15 WIB dan beristirahat untuk menghilangkan lelah di warung sekitar stasiun. Sekitar pukul 11, kami memilih istirahat di masjid depan Pelabuhan Ketapang, lalu menunggu esok pagi untuk menyeberang ke Pelabuhan Gilimanuk.

Sekitar pukul 5 pagi, kami berangkat ke Pelabuhan Ketapang dan tiket penyeberangan ke Bali dengan harga 6 ribu rupiah per orang. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai di Pelabuhan Gilimanuk sekitar 30 menit. Dari atas kapal, kami disuguhkan pemandangan pegunungan di Jawa Timur serta Selat Bali yang terkenal dengan arus air lautnya yang besar. Tentu yang paling istimewa adalah sunrise yang muncul dari Pulau Bali yang menawan berhiaskan burung-burung laut menjadi saat itu momen yang indah. Kemudian mulailah kapal yang kami tumpangi bersandar ke Pelabuhan Gilimanuk. Ya, bagi kami bertiga adalah kesempatan pertama kali menjejakkan kaki di Pulau Bali.

Sunrise di Selat Bali Kemudian kami menuju Terminal Gilimanuk, mencari kendaraan umum menuju Kota Denpasar. Perjalanan menuju Denpasar ternyata menjadi perjalanan yang sangat lama meski kami disuguhkan pemandangan yang luar biasa. Pohon-pohon besar yang di keramatkan oleh umat Hindu Bali serta hutan adat yang hijau menyegarkan. Kami juga disuguhkan dengan beberapa pantai pasir putih yang berjajar di sepanjang perjalanan. Tak lupa hamparan sawah yang berada di kanan dan kiri jalanan yang rapi dengan terasering yang menawan.

Foto bareng oma Zara Sekitar pukul 12 WITA kami tiba di Terminal Ubung Denpasar, lalu kami mendapatkan info dari panitia bahwa kami harus menunggu dijemput. Sembari menunggu, kami memilih untuk beristirahat di salah satu warung makan di sekitar Terminal Ubung. Oma Zara, sang pemilik warung banyak bercerita tentang kisah hidupnya. Kami mengambil banyak pelajaran dari beliau, pengalaman beliau menjadi ilmu tambahan yang kami dapatka secara gratis.

Satu jam kemudian, panitia yang menjemput kami pun telah tiba. Dengan menyusuri jalanan Kota Denpasar yang menurut kami sangatlah rumit. Banyak jalanan searah yang membuat kami geleng-geleng kepala. Jalanan yang macet menambah lama perjalanan kami, hingga sekitar 30 menit kemudian kami masuk by pass dan menuju Pulau Serangan. Sekitar pukul 2 siang kami tiba di lokasi yang berada di Pantai Malasti. Lalu kami mendirikan tenda untuk menyimpan barang-barang kemudian kami berkumpul ke pendopo untuk acara pembukaan secara resmi oleh panitia.

Bersambung………

Senin, 20 Juni 2016

Mendata Burung Genus Arachnothera di Kiskendo

Kulon Progo, 18 – 19 Juni 2016
Adalah hari dimana kami (Tim PKM 70 Judul KPB BIONIC UNY) melakukan pengambilan data yang dilakukan di Desa Wisata Jatimulyo, Girimulyo, Kulon Progo. Tim PKM terdiri dari 4 judul proposal penelitian yang berbeda namun pengambilan data dilakukan secara bersamaan. Salah satu judul proposal kami adalah mengenai Studi Popuasi dan Persebaran Genus Arachnothera di Dusun Kembang Soka. Pengambilan data dimulai sejak tanggal 18 Juni 2016 – 19 Juni 2016 pukul 08.30 WIB – 11.00 WIB. Genus Arachnothera terdiri dari 8 spesises burung, namun yang teramati di dusun Kembang Soka adalah 3 spesies yaitu Pijantung Kecil (Arachnothera longirostra), Pijantung Gunung (Arachnothera robusta), dan Pijantung Besar (Arachnothera affinis). Dari ketiga spesies yang ditemukan tersebut tim PKM Genus Arachnothera hanya dapat mengamati burung Pijantung Kecil saja sebanyak 4 individu pada hari pertama dan 7 individu di hari kedua. Sedangkan untuk data burung Pijantung Besar dan Pijantung Gunung kami dapatkan dari tim PKM yang lain dan dengan metode wawancara dengan warga setempat (Mas Kelik).

Selain burung dari Genus Arachnothera, kami juga banyak menemukan burung jenis lainnya yaitu burung Sikep Madu Asia (Pernis ptilorhynchus), burung Kadalan Birah (Phaenicophaeus curvirostris), burung Udang Punggung Merah (Ceyx rufidorsa), burung Madu Sriganti (Nectarinia jugularis) jantan dan betina, burung Cabai Bunga Api (Dicaeum trigonostigma) jantan dan betina, burung Madu Kelapa (Anthreptes malacensis), burung Cinenen Pisang (Orthotomus sutorius), burung Bondol Jawa (Lonchura leucogastroides) dan burung Madu Jawa (Aethopyga mystacalis) jantan dan betina. Ada pengalaman unik saat melihat burung Madu Jawa yang jaraknya hanya 2 meter dari kami, awalnya kami mengidentifikasi bahwa burung tersebut termasuk dalam spesies burung Madu Ekor Merah (Aethopyga temminckii) karena ciri – cirinya sangat mirip yaitu kepala berwarna Merah cerah sampai ke leher dengan warna ungu di atas kepalanya, punggungnya juga berwarna merah cerah, ekornya panjang lancip berwarna ungu, dan perutnya berwarna putih bersih. Kami awalnya sangat terpesona dengan burung tersebut betapa beruntungnya kami dapat melihat burung Madu Ekor Merah. Namun setelah ditanyakan kepada Mas Kir yang lebih tahu mengenai burung, Mas Aghnan, Yudha, Luqman, dan saya (Desi) sedikit kecewa ternyata burung yang sangat cantik itu adalah burung Madu Jawa yang memang ciri – cirinya hampir mirip dengan burung Madu Ekor Merah. “Yaaahh…..ternyata kami salah iden...” begitulah kataku setelah mengetahui nama burung yang sebenarnya.

Banyak sekali pengalaman pengamatan burung yang hanya dilaksanakan selama dua kali pengambilan data kemarin yang berbeda dari biasanya yaitu pengamatan kali ini dilaksanakan pada bulan puasa dan otomatis kami juga dalam keadaan berpuasa. Selain itu juga ada kendala yaitu kendala cuaca yang tidak mendukung yaitu hujan deras sehingga tidak memungkinkan bagi Tim PKM untuk mengambil data pada sore hari. Rasa kekeluargaan yang luar biasa sangat kami rasakan selama dua hari berada di Rumah Bapak Isno. Hujan deras disertai hawa dingin dan listrik padam ditambah lagi tidak ada sinyal justru membuat kami selalu berkumpul, bermain kartu UNO sesekali dan bercanda gurau menciptakan suasana yang begitu hangat dan nyaman. Betapa menyenangkan melakukan hal – hal demikian. Satu kalimat untuk menutup cerita pengalaman ini adalah “Terima Kasih Bionic telah memberikan pengamalan yang luar biasa yang tidak bisa di dapat kecuali di KPB BIONIC UNY" (Desi).

Senin, 23 Mei 2016

KPB BIONIC FMIPA UNY MEMPERINGATI WORLD MIGRATORY BIRD DAY

World Migratory Bird Day (WMBD) atau Hari Migrasi Burung Sedunia adalah suatu hari yang ditetapkan untuk mengkampanyekan konservasi burung-burung migran dan habitatnya. WMBD diinisiasi pada Mei 2006 oleh pengurus AEWA (African-Eurasian Migratory Waterbirds) dan CMS (Conservation of Migratory Species of Wild Animals) di Kenya, dari kegiatan awal tersebut ditetapkan setiap pekan ke-2 bulan Mei menjadi Hari Migrasi Burung Sedunia. Tahun ke tahun kegiatan WMBD semakin merambah negara-negara di luar Kenya tidak terkecuali Indonesia. Dan dari tahun ke tahun, WMBD selalu mengganti tema kegiatannya. Tema WMBD 2016 adalah “Stop the Illegal Killing, Taking and Trade of Migratory Birds”. Di Indonesia, kegiatan WMBD 2016 dilaksanakan dibeberapa provinsi, salah satunya di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Salah satu panitia, Widodo, menjelaskan, WMBD 2016 di Yogyakarta tersusun atas 2 kegiatan. Pertama adalah kampanye konservasi burung dan yang kedua adalah edukasi anak-anak. Kegiatan pertama yang dikoordinatori oleh Gahar Ajeng (KPB Bionic UNY) dilaksanakan di titik km 0 (10/5). Kegiatan pertama dilakukan ditempat umum dengan tujuan supaya masyarakat umum mengetahui dampak negatif dari perburuan burung-burung migran. Kegiatan pertama juga dimeriahkan dengan pameran foto burung-burung liar hasil bidikan anggota PPBJ (Paguyuban Pengamat Burung Jogja).

“Kegiatan kedua adalah edukasi anak-anak di SD N 2 Sokomoyo Kulon Progo. Kegiatan edukasi anak-anak yang dikoordinatori oleh Matalabiogama UGM dilaksanakan pada tanggal 14 Mei 2016 bersamaan dengan Jogja Bird Walkedisi Mei. Kegiatan diawali dengan membagi siswa kelas IV dan V menjadi 5 kelompok. Masing-masing kelompok dipandu oleh 3-5 anggota PPBJ untuk melakukan pengamatan burung disekitar SD N 2 Sokomoyo”, terangnya.

Tujuan dari pengamatan burung, lanjut Widodo, supaya anak-anak lebih mengenal burung sebagai biodiversitas di desa mereka. Harapan lebih lanjutnya adalah supaya mereka dapat melindungi burung-burung didaerah mereka dari perburuan. Setelah melakukan pengamatan burung, anak-anak berkumpul dihalaman masjid barat sekolah untuk berdiskusi mengenai burung-burung yang dapat mereka amati.

Setelah berdiskusi, anak-anak dan pemandu kembali menuju SD N 2 Sokomoyo. Sesampainya di sekolah, anak-anak istirahat sambil menonton video konservasi yang dikemas dalam bentuk kartun. Selepas nonton bareng, Afrizal Maula Alfarisi (Ketua PPBJ) berdiskusi bersama anak-anak tentang burung-burung migran. Saat berdiskusi, anak-anak sangat antusias menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh Afrizal. Kegiatan edukasi siang itu diakhiri dengan foto bersama dihalaman sekolah. (R. Widodo/witono)

http://uny.ac.id/berita/kpb-bionic-fmipa-uny-memperingati-world-migratory-bird-day.html

Rabu, 18 Mei 2016

Jogja Bird Walk edisi April

Kelompok Pengamat Burung Bionic FMIPA UNY melaksanakan kegiatan Jogja Bird Walk (JBW) bersama Paguyuban Pengamat Burung Jogja (PPBJ). Kegiatan JBW merupakan salah satu ajang berkumpulnya pengamat burung untuk melakukan kegiatan pengamatan burung dan diskusi antarpengamat burung se-Yogyakarta.

Jogja Bird Walk edisi April dilaksanakan di Hutan Turgo (30/4). Hutan Turgo terletak di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi, tepatnya di dusun Tritis, Purwobinangun, Pakem, Sleman atau sekitar 6 km dari puncak Gunung Merapi.

Ketua Kelompok pengamat burung Bionic, Aghnan, menjelaskan, kegiatan Jogja Bird Walk diawali dengan pengamatan burung. Peserta yang berjumlah total 37 orang, dibagi menjadi tiga kelompok. Masing-masing kelompok selanjutnya menyusuri jalan setapak untuk mengumpulkan data jenis burung di lokasi pengamatan.

Pengamatan burung diakhiri sekitar pukul 11.00 WIB. Setelah melakukan pengamatan burung, peserta menuju rumah Pak Musimin, salah satu pembudidaya anggrek di Tritis.

“Di rumah Pak Musimin, masing-masing kelompok mendiskusikan hasil pengamatan buung yang teramati. Berdasarkan hasil diskusi, dijumpai 29 jenis burung. Beberapa diantaranya adalah Sepah hutan, Serindit jawa, Tepus pipi perak, Srigunting kelabu dan Cikrak daun,”papar Aghnan.

Senin, 16 Mei 2016

Cerita Bionicers : “Pengamatan Burung atau Mencari Jalan Pulang ?”

Sabtu, 30 April 2016. Pagi yang indah untuk memulai pengalaman baru. Hari itu, adalah kali pertamanya aku mengikuti kegiatan JBW atau Jogja Bird Walk. JBW adalah kegiatan pengamatan burung dan diskusi antarpengamat burung se-Yogyakarta yang dikoordinasi oleh PPBJ (Paguyuban Pengamat Burung Jogja). JBW kali ini dilaksanakan di Hutan Tritis dan diikuti oleh sekamir 37 peserta yang kebanyakan adalah anggota KPB Bionic.
Kami tiba di lokasi pengamatan sekamir pukul 08.00 WIB. Dalam pengamatan kali ini, kami dibagi menjadi 3 kelompok dengan rute yang berbeda. Aku dan temanku, Fianti berada dalam kelompok yang sama, kelompok 2. Selain kami berdua, ada Mas Hasbi, Mas Bima, Mas Praja, Mbak Ulfia, Mbak Nia, Mbak Iin, dan Mbak Diva di kelompok kami. Sempat minder juga karena hanya kami cikalang di kelompok ini dan harus bersanding dengan para senior yang sudah hebat. Tapi itu tidak menjadi masalah, karena aku malah bisa menggali banyak ilmu dari mereka.
Singkat cerita, kami memulai perjalanan dan mengambil rute belok kiri dari jalan utama dan mulai memasuki Hutan Tritis. Pada awal perjalanan kami menemukan beberapa burung, diantaranya Kacamata biasa, Sepah kecil, Wallet linchi, dan Bondol jawa. Kami melanjutkan perjalanan, masuk lebih dalam lagi ke dalam hutan. Kami masih saja asik mengamati burung dan menjumpai beberapa burung lagi, yaitu Jinjing batu dan Munguk beledu. Tak lupa juga kami berfoto-foto hits di tempat-tempat yang spot fotonya bagus. Iya, mungkin itu salah satu kebiasaan yang sudah membudaya dan tidak bisa ditinggalkan. Karena saking asiknya selfie, kami – Aku, Fianti, Mbak Ulfia, Mbak Nia, Mbak Iin, dan Mbak Diva- hampir saja ditinggalkan oleh Mas Praja, Mas Bima, dan Mas Hasbi. Selain megamati burung, hari itu, saya juga belajar banyak hal khususnya dari Mas Praja. Beliau menjelaskan kepada kami berbagai hal, mulai dari pohon anggrek sampai pohon bambu.
Kami terus melanjutan perjalanan dan sempat sesekali kebingungan di persimpangan jalan. Seperti “Mau pilih belok kanan, belok kiri, atau lurus?” Kami sempat beberapa kali bingung arah juga tetapi akhirnya kami bisa bertemu dengan kelompok lain, yaitu kelompok 1.
Setelah bertemu dengan kelompok 1, kami tidak bergabung dengan mereka, tetapi malah memilih rute yang berlawanan. Makin masuk dan naik ke dalam hutan lagi. Karena di jalan kami menemukan spot foto yang bagus lagi, kami pun berhenti dan berfoto-foto (lagi). Cukup lama juga kami berfoto pada beberapa spot dan dengan berbagai gaya. Ini salah foto kami sebelum beberapa menit kemudian kami bingung nyari jalan pulang. Foto kami pas kami masih bahagia.



Kelompok kami jadi tinggal tersisa 7 orang karena Mas Praja dan Mas Bima sudah berjalan terlebih dahulu. Kami ditinggalkan, tapi itu juga karena kesalahan kami yang terlalu lama dan asik berfoto. Kami, dengan dipimpin Mas Hasbi, mulai masuk lagi ke dalam hutan. Awalnya, semua baik-baik saja sebelum negara api menyerang. Jalan yang kami tempuh seakan-akan bukan menuju arah pulang, tetapi malah semakin jauh ke dalam hutan. Jalan setapak yang kami lalui pun seakan tidak pernah terinjak. Kami mulai takut dan panik. Akan tetapi, kami masih berusaha tenang dan mencari jalan kembali. Rasanya, setiap jalan setapak yang kami lalui hanya berujung pada sebuah jurang. Hal itu sempat kami alami kurang lebih 3 kali. Bahkan sebenarnya, jalan setapak yang kami lalui itu berada di pinggir jurang dan melintas di sepanjang tepi jurang. Udara di hutan pun terasa pengap. Sinar matahari hanya bisa masuk sangat sedikit melalui celah-celah pohon bambu yang berdaun sangat rimbun. Kami mulai panik tak terkendali. Mulai berpikir yang tidak-tidak, seperti “Gimana kalau kami nggak bisa keluar dari hutan ini?” juga pikiran dari mbak Ulfia “Gimana kalo kami ketemu hantu?”juga Fianti yang malah berpikir akan ada headline di surat kabar yang menyebutkan bahwa “Mahasiswa Pengamat Burung UNY Hilang di Hutan Tritis”. Kebingungan yang sama sekali tidak menambah baik suasana. Selain itu, kami juga malah sempat saling menyalahkan dan menyesali “Kenapa tadi nggak gabung kelompok 1 aja?” juga dikuti asumsi tentang feeling masing-masing. Itu tidak lain karena kami sudah tidak bisa berfikir jernih dan tenang lagi.
Kami pun sadar bahwa berdebat dan panik tidak akan membuat kami keluar secara ajaib dari hutan ini. Kami pun memilih melanjutkan perjalanan. Beruntungnya, kami bertemu dengan seorang bapak yang sepertinya warga desa pinggir hutan. Kami bertanya apakah jalan keluar dari hutan masih jauh. Beliau menjawab bahwa tinggal sebentar lagi kami bisa keluar dari hutan. Kami pun merasa senang dan mulai tenang. Terus berjalan dengan kecepatan penuh menyambut jalan keluar. Tidak ada lelah yang kami rasakan, yang ada tinggal bagaimana agar kami bisa cepat pulang. Mas Hasbi pun sempat menggoda dengan berkata “Eh bagus lho spot fotonya di sini.” tapi kami hanya menjawab dengan “Udah nggak mood foto mas, yang penting pulang.”
Kurang lebih 15 menit kami berjalan, namun jalan keluar yang katanya sudah dekat tadi belum kami temui juga. Kami pun mulai panik lagi. Namun, kepanikan tersebut tidak berlangsung lama karena beberapa menit kemudian jalan utama yang kami lalui saat berangkat tadi mulai terlihat. Herannya, ternyata kami keluar dari arah sebelah kanan hutan. Arah yang berlawanan dengan arah awal kami masuk hutan tadi. Jadi, kami tadi muterin hutan?
Akan tetapi, Alhamdulillah kami bisa keluar dari Hutan Tritis dengan sehat dan selamat tak kurang suatu apapun dan malah nambah pengalaman, pengalaman nyasar. J

Inilah kami, kelompok 2, kelompok “Macan Nyasar”........


--------
Terimakasih,
Rika Pratiwi (Pendidikan Kimia UNY 2015)

Sabtu, 06 Februari 2016

ONE TREE FOR ONE BIRD FOR ONE PEOPLE FOR ECOSYSTEM

oleh: Ahmad Arif

Konservasi merupaka tindakan pelestarian dan perlindungan terhadap flora dan fauna yang ada di lingkungan dan di alam. Konservasi ini sangat bermanfaat terutama untuk memperbaiki ekosistem yang rusak. Kerusakan lingkungan sebagian besar karena perbuatan manusia, sedangkan kerusakan oleh alam sendiri sangat lah jarang terjadi, kerusakan lingkungan dan ekosisem yang disebabkan oleh manusia sifatnya cenderung permanen dan membutuhkan waktu lama untuk memperbaikinya. Kerusakan yang terjadi secara alamiah bersifat mudah diperbaiki oleh alam itu sendiri. Sebagai contoh kerusakan oleh manusia yakni pemanasan global itu sendiri yang sampai sekarang belum ada ujungnya dan entah kapan akan selesai. Sedangkan kerusakan yang terjadi secara alamiah seperti letusan gunung merapai, dalam jangka beberapa bulan atau tahun akan tampak tanaman yang membentuk ekosistem baru.
Burung merupakan fauna yang sangat sensitif terhadap perubahan- perubahan iklim, alam dan lingkungan. Perilaku dan tindakan yang tidak tepat seperti penakaran, penangkapan, dan perburuan yang dilakukan dialam liar menyebabkan berkurangnya atau punahnya spesies tertentu. Dulu di daerah pedesaan banyak burung- burung dengan mudah dijumpai namun sekarang sangat sulit dijumpai, seperti Burung Gagak, Burung Hantu, Burung Berparuh Bengkok, Kadalan Birah dan masih banyak lagi. Sekarang banyak pedesaan yang mulai berubah karena pemanfaatan lahan untuk pembangunan dan perkembangan tanpa dibarengi dengan penanaman pohon baru. Pohon merupakan komponen yang paling utama untuk menunjang kehidupan dari burung itu sendiri, seperti tempat mencari makan dan tempat tinggal. Semakin banyak pohon yang terdapat di suatu ekosistem maka semakin pula banyak fauna yang terdapat di dalamnya termasuk burung itu sendiri misalnya Pohon Beringin, Pohon Talok, Pohon murbei, Pohon Pisang dan Pohon Pepaya yang menghasilkan buah- buahan banyak dijumpai burung- burung pemakan buah. Burung di ekosistem itu sendiri perananya sangatlah penting, miasalnya burung berperan dalam penyerbukan bunga, penyebaran biji, predator, dan pengendalian suatu populasi.

Tidakan konservasi di alam sendiri dapat dilakukan dengan pemantauan secara intensif flora dan fauna yang ada di dalamya, tidakan manusia sendiri di alam bukan sebagai peran utama namun dapat membantu pelesatarian seperti mengambil dan merawat binatang yang sakit kemudian melepaskanya kembali ke alam. Tindakan konservasi dapat membantu menyeimbangkan kelengkapan komponen ekosistem itu sendiri. Tindakan konservasi di lingkungan sekitar kita dapat diawali dengan hal- hal kecil seperti penanaman pohon pada area yang terbuka dan di sekitar rumah. Lingkungan rumah yang hijau membuat nyaman ditempati oleh manusia itu sendiri dan hewan- hewan yang terdapat di dalamnya. Seperti pohon talok yang ditanam di sekitar rumah mampu menyerap karbon dioksida yang ada di atmosfer dengan kata lain mampu mengurangi pemanasan global. Pohon Talok sendiri menghasilkan buah yang tidak kenal engan musih, dan ada disetiap saat, burung seperti Cucak Kutilang, Merbah Crucuk, Cabai, dan perling kumbang sangat menyukai buah dari Pohon taloh tersebut. Pohon Beringin selain berfungsi sebagai pohon perindang di tepi jalan juga keberadaanya sangat penting bagi burung pemakan buah- buahan, seperti burung Punai Gading (pada foto diatas), Cucak Kutilang, Merbah Cerucuk, dan Takur ungkut- unglkut Dan masih banyak lagi pohon- pohon yang bermanfaat dalam lingkungan kita, senantiasalah menjaga alam dan lingkunagan kita, sesungguhnya “ one tree for one bird for one people”

Sabtu, 30 Januari 2016

Festival Burung Pantai


Festival burung pantai merupakan salah satu acara rutin tahunan KPB Bionic FMIPA UNY. Festival ini diselenggarakan pada Jumat-Minggu, 16-18 Oktober 2015 dan diikuti oleh Kepak Sayap UNS, Biolaska UIN Suka, Mapala Silvagama, Kaysan (peserta termuda yang sudah lumayan sering ikut pengamatan burung), Banyumas Wildlife, dll. Festival burung pantai ini terfokus pada burung yang sedang bermigrasi.

Rangkaian acara dimulai pada hari Jumat dengan Pelatihan Burung Pantai oleh Mas Wahab dilanjutkan perjalanan menuju tempat menginap di salah satu rumah warga di daerah Pantai Trisik. Karena biasanya pengamatan berangkat pada pagi hari, dan kali ini saya juga mengira berangkat menuju daerah pengamatan pada keesokan harinya, saya tidak membawa baju ganti dan perlengkapan lainnya. Namun ternyata untuk pengamatan kali ini berangkat pada sore hari. Teman saya, Ratih, juga sepemikiran dengan saya, dan akhirnya kami pun memutuskan untuk menyusul pada Sabtu pagi.

Sedikit banyak tahu mengenai daerah Pantai Trisik karena dulu lumayan sering diajak ke Pantai Trisik, membuat saya agak PeDe untuk mencari tempat menginap teman-teman yang lain, selain sudah diberi ancer-ancer oleh Aghnan. “Kalo ada tulisan TUTOP belok kiri, ngikutin jalan jelek, belok kiri, rumahnya rumah warna pink.”Saya dan Ratih janjian ketemu di jembatan Srandakan pukul 6.30 WIB. Kami kemudian berangkat menuju arah Pantai Trisik. Sudah mendekati tempat yang dituju, terdengar suara yang memanggil kami. Dan itu adalah Yono, dan kawan-kawan yang sedang menunggu sarapan. Kami datang disaat yang tepat, saat sarapan. Yeayy.

Setelah sarapan selesai, kami mulai berbaris dan berhitung untuk membagi kelompok pengamatan. Saya, desi, mbak Ratih, mbak Tria dipandu mas EP sama mbak Arel menjadi satu kelompok saat pengamatan pagi itu. Pengamatan dilakukan di area persawahan. Pengamatan juga dilakukan pada Sabtu sore di muara Sungai Progo dan Minggu pagi di muara Sungai Progo yang dilanjutkan ke laguna Pantai Trisik (baru tahu kalo Pantai Trisik ada lagunanya).
Pengamatan Minggu Pagi
Beberapa burung yang teramati yaitu Terik Australi (Stiltia isabella), Cerek Jawa (Charadrius javanicus), Trinil Semak (Tringa glareola), Kuntul Kerbau (Bubulcus ibis), Kuntul Kecil (Egretta garzetta), Blekok Sawah (Ardeola speciosa), Cerek Kernyut (Pluvialis fulva), Trinil Pantai (Tringa hypoleucos), Cangak Abu (Ardea cinerea), Dara Laut (Sterna hirundo), Cerek Kalung Kecil (Charadrius dubius), Gemak Loreng (Turnix suscitator), Trinil Kaki Hijau (Tringa nebularia), dan Cerek Pasir Mongolia (Charadrius mongolus). Kesulitan yang dihadapi yaitu dalam membedakan spesies burung pantai yang satu dengan yang lain karena berbeda ‘coretan’ sudah beda spesies. 
“Menikmati Sunset” sisi lain saat pengamatan burung



Minggu, 24 Januari 2016

Pengurus UKMF KPB Bionic UNY 2016

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

DENGAN MENYEBUT ASMA ALLAH YANG MAHA PENGASIH LAGI MAHA PENYAYANG
SUSUNAN KEPENGURUSAN UKMF KPB BIONIC UNY
MASA ABDI 2016

No
Amanah
Nama
PENGURUS HARIAN
1
Ketua
Aghnan Pramudihasan
2
Wakil Ketua
Andri Nuroho
3
Sekertaris
Desi Dwi Ariyanti
4
Bendahara
Ulfia Nurul Khikmah
BIDANG PEMBERDAYAAN ANGGOTA
5
Koordinator
Rahmadiyono Widodo
6
Staf
Nia Widiastuti
7
Staf
Tri Widayanti
BIDANG OPERASIONAL
8
Koordinator
Bima Gana Pradana
9
Staf
Ahmad Arif
10
Staf
Insiwi Purwianshari
11
Staf
Muhammad Hasbi Ashidiqi
BIDANG MEDIA DAN INFORMASI
12
Koordinator
Ratih Dewanti
13
Staf
Nurul Hakiki
14
Staf
Gahar Ajeng Prawesthi
BIDANG HUMAS
15
Koordinator
Maryatul Qibtiyah
16
Staf
Diva Aprilia Afifah
17
Staf
Prasetyo Adi Nugroho
18
Staf
Ahmad Saiful Abid
BIDANG KERUMAHTANGGAAN
19
Koordinator
Olivia Kurnia Hatami
20
Staf
Anggun Fitria Agung
21
Staf
Christianti Ellis Rahayu
22
Staf
Rizky Wulandari


Panitia Pergam 2016

PANITIA PERGAM 2016
Penanggungjawab
Aghnan Pramudihasan
Ketua Panitia
Nia Widiastuti
Sekertaris
Desi Dwi Ariyanti
Bendahara
Ulfia Nurul Khikmah
Sie Acara
Nurul Hakiki
Maryatul Qibtiyah
Rahmadiyono Widodo
Ratih Sukmaresi
Sie Perlengkapan
Prasetyo Adi Nugroho
Katon Waskito Aji
Muhammad Hasbi A.
Sie Humas
Ahmad Arif
Andri Nugroho
Riky Wulandari
Devi Ratna Sari
Ahmad Saiful Abid
Sie Konsumsi
Anggun Fitria Anggun
Olivia Kurnia Hatami
Insiwi Purwianshari
Puput Tri Ambarwati
Sie PDD
Ratih Dewanti
Gahar Ajeng Prawesthi
Bima Gana Pradana
Sie KSK
Tri Widayanti
Diva Aprilia Afifah

Temu Perdana Diinformasikan Menyusul