Header Ads

KPB Bionic UNY
  • Breaking News

    CELEPUK: PERGAM XVI



    Cerita Selepas Pulang Kegiatan - Pergam Hari Ke-2
    oleh: Maya Rachmayani

    Rasa kantuk menjadi sebuah perjuangan untuk  mata saya pagi ini, 4 jam tidur rasanya tidak cukup untuk membuat mata ini segar. Tentunya udara pagi yang sejuk membuat saya ingin tidur kembali. Yap, pagi ini saya berada di desa Sladi, Gunung Kidul. Waktu yang sangat langka bagi saya untuk melakukan sebuah aktivitas diluar rumah, yaitu pengamatan. . Hari minggu biasanya, saya menghabiskan waktu dengan tugas-tugas, leyeh-leyeh, laporan praktikum, kegiatan kampus, dan sebagainya. Lingkungan yang itu-itu saja. Kegiatan yang itu-itu saja. Sehingga berada disini adalah sebuah kenikmatan dan rasa syukur karena bisa –sejenak melupakan kesibukan kuliah. Saya merasa sangat berterimakasih kepada kakak-kakak bionic yang telah memberikan kami kesempatan untuk mengikuti pengamatan, dan tentunya mengikuti Pergam ini.

    Pukul 05.30 kami sudah berkumpul di Homestay laki-laki untuk diberi arahan kemana kami akan melakukan pengamatan. Kelompok kami mendapatkan rute naik terlebih dahulu. “Dibawa binonya, dilihat burungnya, coba dicatat ciri-cirinya dan digambar sketsanya” Kata salah satu pembandu kami saat kami sedang siap-siap untuk keberangkatan. Hari ini adalah pengamatan kedua setelah kemarin sore. Rute pengamatan kemarin lumayan mudah, meskipun harus naik bukit berbatu tetapi jarak tempuhnya tidak terlalu jauh. Dengan ditemani 3 orang pemandu yaitu Mas Bodrex (Alfian), Mbak Lita, Mbak Risma dan 5 orang teman yaitu, Azmi, Yuning, Ayu, Nadya, Reza,  kami pun mulai berangkat untuk pengamatan.

    Hal pertama yang kami temui adalah 2 ekor Merpati Batu. Burung yang memang sudah biasa ada di desa-desa. Kami mulai mengamati ciri-cirinya menggunakan binokuler agar terlihat lebih jelas. Selama saya hidup, saya belum pernah mengamati burung seperti ini -kecuali kemarin. Pergam merupakan acara perdana saya untuk melakukan pengamatan dalam lingkup perburungan. Melihat dan mencoba mengamati fisik serta tingkah lakunya sedekat itu –meskipun menggunakan binokuler merupakan pengalaman baru yang luar biasa bagi saya.

    Setelah mencoba men-sketsa burung tersebut, kami pun berlanjut menyusuri jalanan untuk mencari burung-burung yang lain. Jalan yang berbatu dan menanjak membuat kami memburu nafas  dan terengah-engah lebih dari biasanya. Dengan sajian keindahan alam seperti ini rasanya hati saya tidak berhenti tersenyum, kantuk saya ternyata sudah menghilang entah dari kapan. Segar sekali, menghirup udara di alam tanpa penuhnya asap polusi kota. Masyaallah. Saya sangat takjub, pemandangan dan suasana alam yang indah membuat saya ingin terus berlama-lama berdiam diri agar dapat meresapi setiap detiknya.

    Setelah berjalan cukup lama, kami beristirahat sekalian makan pagi alias sarapan. Yaa mengamati burung juga tentu butuh makan. Hehe. Sarapan tidak membuat kami hanya makan saja, kami juga sarapan sambil mengamati burung. Beberapa burung kami temui, ada yang sedang terbang dan ada juga yang sedang asik bertengger diatas pohon. Ternyata mengamatinya tidak semudah yang saya kira. Susah sekali. Arahan mata telanjang dan binokuler tidak selalu tepat sasaran, Burung kecil yang seakan-akan berkamuflase dengan pepohonan membuat mata kita harus ekstra jeli dalam melihat. Tapi, disitulah menariknya, melatih kesabaran kami yang masih baru dalam hal ini. Merelakan mata tak berkedip, leher yang terus mendongak, matahari yang tak  segan membakar wajah, hanya untuk memperhatikan ‘si kecil’ yang asik dengan aktivitasnya tanpa tahu kami sedang susah payah mengamatinya.

    “Nah itu suara burung apa yah, coba deh dengerin” kata salah satu teman kami.  Duduk diam melihat alam seluas itu dengan kicauan burung yang entah darimana membuat saya lagi lagi takjub. Oh Tuhan, sungguh kuasaMu hebat sekali. Selama ini ketika berada di alam, hiking, dan sebagainya, yang saya nikmati hanya keindahan alamnya saja tanpa memperhatikan spesies yang hidup di dalamnya, yaa seperti burung-burung itu. Sebelumnya saya tidak pernah memperhatikan banyaknya spesies atau spesies burung apa yang ada di alam, yang saya tahu hanya burung gereja depan pekarangan rumah. Hahaha. Dan dengan pengamatan burung ini, saya merasa bahwa seekor burung semakin diperhatikan semakin menarik. Apalagi jika tubuhnya memiliki perpaduan warna yang bagus, unik sekali. Takjub juga. Perawakannya yang kecil tidak membuatnya takut untuk berkelana di alam  luas. Sejauh apapun ia terbang, ia tahu kemana harus pulang.

    Kami pun berjalan untuk melanjutkan pengamatan, menemukan beberapa burung yang belum diketahui apa namanya dan hanya sekedar menuliskan ciri-cirinya saja. Lalu, ditengah perjalanan, kami menemukan sebuah gua. Gua nya berada di puncak. Saya dan teman-teman pun mengalahkan rasa penasaran dengan naik menuju kesana. Sungguh, guanya indah sekali. Ini kali pertama saya melihatnya. Kaan, coba hitung sudah berapa kali saya takjub. Serius, saya tidak tahu bagaimana mengekspresikan peraasaan takjub dalam kata-kata. Intinya itu. Dan tentunya momen ini tidak kami sia-siakan, kami mengambil beberapa potret foto sebagai sebuah tanda pernah berkunjung kesana. Kami melanjutkan perjalanan sampai akhirnya tiba di Waduk. Kami pun berkumpul dan mengidentifikasi burung-burung yang kami temui selama pengamatan. Setelah berhasil menemukan nama burung-burung tersebut kami pun kembali ke homestay.  Dengan begitu, pengamatan kedua pun selesai. Terimakasih Tuhan atas segala nikmat alam ini, takjubnya membuat saya lupa laprak yang harus dikumpulkan esok – yang belum saya kerjakan sama sekali. Hehe.


    Tidak ada komentar