Rabu, 27 Desember 2017

PERGAM, LANGAH PERTAMAKU

oleh Kidung Tyas S.

Jumat, 21 Oktober 2016 tanggal penting yang tercantum dalam agendaku. “PERGAM BIONIC”. Acara pertamaku dalam ranah ‘burung’. Seneng, deg-degan tapi juga bingung. Sejak minggu-minggu awal mendekati tanggal tersebut, aku sudah mulai menyiapkan untuk acara tersebut.

Pada 21 Oktober, pukul 22.15 WIB aku baru berangkat dari kampus menuju tempat PERGAM menyusul peserta-peserta yang lain. Kali pertama aku pergi malam-malam hanya berdua bersama Findya, temanku. Kebetulan diapun akan mengikuti PERGAM Bionic juga. Sesampainya di lokasi PERGAM, jam sudah menunjukkan sekitar pukul 23.45 WIB dan sudah menginjak acara istirahat. Akupun ikut serta merebahkan diri untuk memejamkan mata.

Pagi hari, agenda yang ditunggu-tunggu. Pengamatan burung pertamaku diluar kawasan kampus UNY. Pengamatan kali ini dibagi-bagi dalam kelompok-kelompok kecil, didampingi oleh pemandu kelompok. Dalam satu kelompok terdiri antara 6-10 orang dengan duan atau tiga pemandu. Sayangnya, aku lupa siapa saja anggota kelompokku, dan pemanduku. Yang aku ingat aku sekelompok dengan Alfian, Viola, dan didampingi oleh Mas Andri dan Mba Ulfia. Perjalanan kami diawali dengan medan yang agak mendaki. Dengan penuh semangat dan antusias kami menapaki medan selangkah demi selangkah. Hingga pada spot pertama, saya dan teman-teman menemukan empat ekor burung dengan hipotesis burung bondol jawa (Lonchura leucogastroides). Burung itulah yang pertama-tama kami temukann dalam pengamatan pagi itu. 

Semakin jauh kami berjalan, daerah yang kami lalui semakin menarik, sepi senyap, hanya terdengar suara-suara burung yang membuat kami terpana. Sesekali kami mencoba berfoto di jalan yang kami lalui. Kamipun menemukan burung kedua kami, yaitu burung cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster). Burung cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster) yang kami temukan berjumlah dua ekor. Lama sekali kami mengintai cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster), karena awalnya kami masih ragu itu burung apa. Setelah terpecahkan teka-teki burung kedua tersebut, kami melanjutkan perjalanan kami. Dan kamipun menemukan burung ketiga, yaitu dua ekor burung madu sriganti (Cinnyris jugularis).

Kamipun melanjutkan perjalanan kami. Ditengah-tengah perjalanan, kami mendengar suara burung, tapi kami tak mengetahui itu suara burung apa (mungkin pemandu kelompok kami sebenarnya sudah mengetahuinya). Kamipun menerobos semak-semak belukar didepan kami untuk mencari sumber suara. Namun sayangnya, burung-burung dengan suara tadi tidak terbang bebas, tetapi hanya berdiam diri di pohon besar dan pohon itu sangat tinggi. Semakin lama mengamati burung dengan suara tadi, kamipun tidak menemukan wujud burung tadi. Berhubung kami menggunakan baju warna gelap, kami malah dikerubungi nyamuk, akirnya kami menyerah mengintai burung tadi.

Kamipun melanjutkan perjalanan walau masih menyimpan rasa penasaran. Tak jauh dari tempat semula, kami mendengar suara burung kembali. Kami kembali menerobos semak-semak, mencari sumber suara. Menurut pemandu kami, Mas Andri, suara burung yang kami dengar adalah suara dari ayam hutan betina. Rasa penasaran kami semakin besar. Semakin menerobos ke dalam tetapi kami tak kunjung menemukan sosok dari ayam hutan betina. Berhubung waktu sudah menginjak siang, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan tanpa melihat ayam jantan betina tadi. Kamipun sempat merasa kecewa.

Kamipun terus berjalan, menyusuri rute yang telah ditentukan. Setelah berjalan agak lama, kami menemukan sembilan ekor burung. Setelah kami identifikasi, menurut kami ke sembilan burung tersebut merupakan burung sepah kecil (Pericrocotus cinnamomeus).. 

Waktu terus beranjak siang, matahari mulai memancarkan sinar teriknya. Kami terus berjalan, sekali-sekali bercanda, tapi kadang kami kelepasan suara hingga terlalu keras. Akibat tawa kami, kami mendapat teguran dari pemandu kami, untuk mengurangi suara, takutnya suara kami membuat burung takut dan terbang menjauh. Kamipun bertemu dengan kelompok-kelompok lain ditengah jalan. 

Perjalanan kami terhenti di pinggir sungai, kami berhenti sejenak untuk beristirahat dan turun ke sungai untuk bermain air. Kamipun berfoto-foto dipinggir sungai. sungai tempat kami singgah bernama Kali Oya. Kali Oya mengalir panjang, dengan airnya yang lumayan jernih. Setelah kami puas beristirahat dan berfoto-foto, kamipun melanjutkan perjalanan kami.

Masih di sekitar area sungai, kami menemukan burung yang menarik perhatian kami dengan warna tubuhnya yang cerah. Ternyata setalah kami identifikasi, burung tersebut adalah burung cekakak jawa (Halcyon cyanoventris) yang terbang melintas diatas sungai. cantik dan menawan. Di spot yang sama, kami juga menemukan burung yang melompat-lompat dipinggir sungai. dua ekor burung tersebut menurut kami adalah burung trinil pantai (Actitis hypoleucos). Kamipun menemukan dua ekor burung lagi ditempat itu, tapi sayangnya kami tak bisa mengidentifikasi itu termasuk burung apa.

Mengingat waktu yang terus beranjak siang, matahari semakin terik, kami melanjutkan perjalanan kami yang (katanya) tidak lama lagi akan sampai. Tak lama kami berjalan kami melihat seekor burung yang terbang berputar-putar. Menurut ciri-ciri yang terlihat, kami menyimpulkan bahwa itu adalah walet linci (Collocalia linchi). Ditempat yang sama, kamipun melihat seekor burung yang bertengger diranting pohon. Sayangnya tidak begitu terlihat karena cahaya yang ada memberikan efek siluet. Namun ciri khas dari burung ini masih terlihat, yaitu ekornya yang bercabang sepertin gunting. Menurut identifikasi kami dan diperkuat oleh pemandu kami, burung tersebut adalah kirik-kirik laut (Merops philippinus). Dan kamipun baru tahu, bahwa itu adalah burung legendaris di Bionic. Burung yang menjadi nama angakatan XII. Senang sekali bisa melihat secara langsung burung yang menjadi legenda dari angkatan XII.

Akhirnya kami melanjutkan perjalanan kami, hinga kami sampai di tempat peristirahatan kami. Sesampainya di tempat, kami melanjutkan dengan beriskusi, bertukar data dengan kelompok lain. Setelah didiskusikan terpecahlah teka-teki kami yang belum mengetahui jenis burung apa yang tak dapat kami identifikasi. Puas rasanya mendata, mengidentifikasi, sekaligus memecahkan teka-teki burung secara langsung dan terjun ke lapangan.

Kegiatan dilanjutklan beristirahat sekaligus berkemas sekaligus kembali lagi ke kampus. Pengalaman PERGAM ini sangat-sangat membekas, meninggalkan kenangan. PERGAM ini merupakan langkah awal yang membuatku ‘kecanduan’ birdwatching.

0 komentar:

Posting Komentar