Jumat, 29 Desember 2017

Lama Tak Berkunjung!

oleh Olivia Kurnia

Satu, bukan, dua, bukan juga, tiga, yaa hampir tiga tahun lalu menginjakkan kaki di sini (lagi). Masih dalam rangka yang sama, pengamatan burung. Tempat ini memang menjadi spot favorit pengamatan burung pantai migran, selain area persawahan seberang sana.

Jenis burung yang ditemui memang tak sebanyak waktu itu, tapi beberapa bisa terlihat jelas, bahkan cenderung burungnya mendekat ke kita. Bonus. Mengandalkan metode 'stay and wait'. Just for info, katanya kalo pagi kebanyakan burung lagi cari makan di area persawahan sono, nah sorenya baru ke tempat ini. buat sunsetan?. 

Burung pantai
Nah pengamatan ini pagi hari, jadi jenis burungnya cuma ditemui sedikit. Pengamatan kali ini bersama mas kir, mas wahab, mas hasbi, aghnan, andri, wicak, ika, miun, dan tentunya saya. Walaupun berangkat tidak bebarengan, tapi tujuan kita sama. Ahay. 
beberapa burung yang dijumpai

Burung pantai memang terkenal dengan penampakan yang cenderung sama. Jika dilihat sekilas saja, mungkin orang akan mengira burung itu sama semua. Beberapa jenis burung hanya dibedakan berdasarkan ukuran paruh, bentuk paruh, jenjang kaki, dll. Nah orang yang sekilas melihat, termasuk saya, akan menyangka semua burung itu merupakan jenis burung yang sama. 

Namun, karena pengamatan ini bersama mas kir dan mas wahab yang lebih expert tentang burung pantai, kami banyak diberitahu jadi lebih bisa membedakan jenis burung yang dilihat. Misalnya Cerek Pasir Besar dengan Cerek Pasir Mongolia. Cerek Pasir Besar memiliki paruh pendek tebal dengan tibia lebih panjang. Sementara, Cerek Pasir Mongolia memiliki paruh pendek tipis dengan tibia lebih pendek daripada Ceret Pasir Besar. Selain itu, ukuran tubuhnya pun lebih kecil. Tapi tetap saja, kalo burungnya yang muncul cuma satu dan nggak ada pembandingnya, aku mah bisa apa. Intinya, jam keker kudu tinggi!

Selalu dapet ilmu baru disetiap momen pengamatan burung. Kali ini (juga). Pengetahuan baru yang didapat dari mereka-mereka yang lebih expert didunia perburungan. 

Mode "Stay and Wait"
Sebab ilmu itu tanpa batas. Akan terus selalu bertambah dan begitu teramat luas. Yang terbatas hanyalah keinginan kita. Jika sudah merasa cukup maka cukup. Jika belum, maka barulah itu yang disebut dengan pencarian tanpa batas. (Panji Ramdana) 

Nb:
Sampai rumah ternyata saya membawa oleh-oleh dari pengamatan burung pantai ini. Ya, punggung saya gatel-gatel dan bentol-bentol. Sebenernya uda kerasa pas pengamatan, tapi cuek saja. Sampe rumah dilihat, ternyata ada bekas ulat yang mati di celana, mungkin ke'duduk'an. Beberapa hari masih merasakan gatelnya. Sepertinya lain waktu kudu lebih waspada lagi.

Rabu, 27 Desember 2017

PERGAM, LANGAH PERTAMAKU

oleh Kidung Tyas S.

Jumat, 21 Oktober 2016 tanggal penting yang tercantum dalam agendaku. “PERGAM BIONIC”. Acara pertamaku dalam ranah ‘burung’. Seneng, deg-degan tapi juga bingung. Sejak minggu-minggu awal mendekati tanggal tersebut, aku sudah mulai menyiapkan untuk acara tersebut.

Pada 21 Oktober, pukul 22.15 WIB aku baru berangkat dari kampus menuju tempat PERGAM menyusul peserta-peserta yang lain. Kali pertama aku pergi malam-malam hanya berdua bersama Findya, temanku. Kebetulan diapun akan mengikuti PERGAM Bionic juga. Sesampainya di lokasi PERGAM, jam sudah menunjukkan sekitar pukul 23.45 WIB dan sudah menginjak acara istirahat. Akupun ikut serta merebahkan diri untuk memejamkan mata.

Pagi hari, agenda yang ditunggu-tunggu. Pengamatan burung pertamaku diluar kawasan kampus UNY. Pengamatan kali ini dibagi-bagi dalam kelompok-kelompok kecil, didampingi oleh pemandu kelompok. Dalam satu kelompok terdiri antara 6-10 orang dengan duan atau tiga pemandu. Sayangnya, aku lupa siapa saja anggota kelompokku, dan pemanduku. Yang aku ingat aku sekelompok dengan Alfian, Viola, dan didampingi oleh Mas Andri dan Mba Ulfia. Perjalanan kami diawali dengan medan yang agak mendaki. Dengan penuh semangat dan antusias kami menapaki medan selangkah demi selangkah. Hingga pada spot pertama, saya dan teman-teman menemukan empat ekor burung dengan hipotesis burung bondol jawa (Lonchura leucogastroides). Burung itulah yang pertama-tama kami temukann dalam pengamatan pagi itu. 

Semakin jauh kami berjalan, daerah yang kami lalui semakin menarik, sepi senyap, hanya terdengar suara-suara burung yang membuat kami terpana. Sesekali kami mencoba berfoto di jalan yang kami lalui. Kamipun menemukan burung kedua kami, yaitu burung cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster). Burung cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster) yang kami temukan berjumlah dua ekor. Lama sekali kami mengintai cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster), karena awalnya kami masih ragu itu burung apa. Setelah terpecahkan teka-teki burung kedua tersebut, kami melanjutkan perjalanan kami. Dan kamipun menemukan burung ketiga, yaitu dua ekor burung madu sriganti (Cinnyris jugularis).

Kamipun melanjutkan perjalanan kami. Ditengah-tengah perjalanan, kami mendengar suara burung, tapi kami tak mengetahui itu suara burung apa (mungkin pemandu kelompok kami sebenarnya sudah mengetahuinya). Kamipun menerobos semak-semak belukar didepan kami untuk mencari sumber suara. Namun sayangnya, burung-burung dengan suara tadi tidak terbang bebas, tetapi hanya berdiam diri di pohon besar dan pohon itu sangat tinggi. Semakin lama mengamati burung dengan suara tadi, kamipun tidak menemukan wujud burung tadi. Berhubung kami menggunakan baju warna gelap, kami malah dikerubungi nyamuk, akirnya kami menyerah mengintai burung tadi.

Kamipun melanjutkan perjalanan walau masih menyimpan rasa penasaran. Tak jauh dari tempat semula, kami mendengar suara burung kembali. Kami kembali menerobos semak-semak, mencari sumber suara. Menurut pemandu kami, Mas Andri, suara burung yang kami dengar adalah suara dari ayam hutan betina. Rasa penasaran kami semakin besar. Semakin menerobos ke dalam tetapi kami tak kunjung menemukan sosok dari ayam hutan betina. Berhubung waktu sudah menginjak siang, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan tanpa melihat ayam jantan betina tadi. Kamipun sempat merasa kecewa.

Kamipun terus berjalan, menyusuri rute yang telah ditentukan. Setelah berjalan agak lama, kami menemukan sembilan ekor burung. Setelah kami identifikasi, menurut kami ke sembilan burung tersebut merupakan burung sepah kecil (Pericrocotus cinnamomeus).. 

Waktu terus beranjak siang, matahari mulai memancarkan sinar teriknya. Kami terus berjalan, sekali-sekali bercanda, tapi kadang kami kelepasan suara hingga terlalu keras. Akibat tawa kami, kami mendapat teguran dari pemandu kami, untuk mengurangi suara, takutnya suara kami membuat burung takut dan terbang menjauh. Kamipun bertemu dengan kelompok-kelompok lain ditengah jalan. 

Perjalanan kami terhenti di pinggir sungai, kami berhenti sejenak untuk beristirahat dan turun ke sungai untuk bermain air. Kamipun berfoto-foto dipinggir sungai. sungai tempat kami singgah bernama Kali Oya. Kali Oya mengalir panjang, dengan airnya yang lumayan jernih. Setelah kami puas beristirahat dan berfoto-foto, kamipun melanjutkan perjalanan kami.

Masih di sekitar area sungai, kami menemukan burung yang menarik perhatian kami dengan warna tubuhnya yang cerah. Ternyata setalah kami identifikasi, burung tersebut adalah burung cekakak jawa (Halcyon cyanoventris) yang terbang melintas diatas sungai. cantik dan menawan. Di spot yang sama, kami juga menemukan burung yang melompat-lompat dipinggir sungai. dua ekor burung tersebut menurut kami adalah burung trinil pantai (Actitis hypoleucos). Kamipun menemukan dua ekor burung lagi ditempat itu, tapi sayangnya kami tak bisa mengidentifikasi itu termasuk burung apa.

Mengingat waktu yang terus beranjak siang, matahari semakin terik, kami melanjutkan perjalanan kami yang (katanya) tidak lama lagi akan sampai. Tak lama kami berjalan kami melihat seekor burung yang terbang berputar-putar. Menurut ciri-ciri yang terlihat, kami menyimpulkan bahwa itu adalah walet linci (Collocalia linchi). Ditempat yang sama, kamipun melihat seekor burung yang bertengger diranting pohon. Sayangnya tidak begitu terlihat karena cahaya yang ada memberikan efek siluet. Namun ciri khas dari burung ini masih terlihat, yaitu ekornya yang bercabang sepertin gunting. Menurut identifikasi kami dan diperkuat oleh pemandu kami, burung tersebut adalah kirik-kirik laut (Merops philippinus). Dan kamipun baru tahu, bahwa itu adalah burung legendaris di Bionic. Burung yang menjadi nama angakatan XII. Senang sekali bisa melihat secara langsung burung yang menjadi legenda dari angkatan XII.

Akhirnya kami melanjutkan perjalanan kami, hinga kami sampai di tempat peristirahatan kami. Sesampainya di tempat, kami melanjutkan dengan beriskusi, bertukar data dengan kelompok lain. Setelah didiskusikan terpecahlah teka-teki kami yang belum mengetahui jenis burung apa yang tak dapat kami identifikasi. Puas rasanya mendata, mengidentifikasi, sekaligus memecahkan teka-teki burung secara langsung dan terjun ke lapangan.

Kegiatan dilanjutklan beristirahat sekaligus berkemas sekaligus kembali lagi ke kampus. Pengalaman PERGAM ini sangat-sangat membekas, meninggalkan kenangan. PERGAM ini merupakan langkah awal yang membuatku ‘kecanduan’ birdwatching.

Senin, 25 Desember 2017

Menyusuri Primadona Pantai Ngungap

oleh Noormalita Megarona

Heihoo.. ku awali cerita perjalanan dan pengamatan ini. Mungkin bagi sebagian orang cerita ini hanya cerita ga penting yang isinya hanya curhatan orang kurang kerjaan namun beda bagi saya, cerita ini merupakan pengalaman yang berharga dan berkesan untuk saya. Birding kali ini dilakukan di salah satu pantai di Gunung Kidul yaitu Ngungap dan dilaksanakan pada tanggal 1 Januari 2017. 

Awalnya rasanya masih ragu untuk ikut pengamatan karena masih ngantuk dan lelah setelah malam tahun baru yang tidur sampai pagi, apalagi ditambah harus kumpul di kampus pagi-pagi buta. Tetapi pada prinsipnya kesempatan tidak datang dua kali, So? Kapan lagi kalo bukan sekarang. Akhirnya saya memutuskan berangkat utuk melihat primadona pantai Ngungap yang banyak diperbincangkan itu. Jam 07.00 saya dan beberapa anggota Bionic lainnya berkumpul di depan kebun Biologi untuk persiapan perjalanan di Ngungap. Setelah menunggu dan terus menunggu kedatangan para lelaki yang masih tidur akhirnya kami memutuskan untuk berangkat duluan menju pantai sekitar jam 08.00.

Pantai Ngungap terletak kurang lebih 1km sebelah barat pantai Sadeng. Untuk menuju pantai ini awalnya lumayan nyaman dengan jalan yang sudah beraspal (dalam hati diriku bergumam, “tumben di pelosok gini jalannya sudah beraspal) namun setelah beberapa meter, Eh.. Jalannya kembali menunjukkan wujud aslinya. Jalan berbatu yang dapat menggoyang pantat dan bikin mata ngga ngantuk lagi. 

Akhirnya, sampai di Ngungap sekitar jam 10.00. Sesampainya di Ngungap saya disambut oleh bangunan pendopo yang sudah tidak terawat. Karena ini pertama kalinya saya ke Ngungap saya pikir pantai ini sama dengan pantai lainnya yang memiliki garis pantai berpasir, namun ternyata pantai ini hanyalah sebuah tebing tinggi. Walaupun begitu tetap tidak mengurangi pesona pantai ini. Rasa takjub langsung terasa saat melihat jejeran tebing karang yang seolah masih gagah perkasa setelah ribuan kali diterjang ombak. Jejeran tebing-tebing karang inilah yang menyimpan sang primadona pantai. 

Saat kami tiba, sepertinya sang primadona sedang malas dan malu untuk menampakkan dirinya. Akhirnya kami memutuskan untuk menunggu kemunculan sang primadona pantai ini sambil berfoto-foto ria dan melihat bagaimana cara penduduk sekitar memancing ikan diatas tebing yang sangat tinggi. Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya salah satu dari kami berteriak itu burungnya. Ya benar, sang primadona pantai Ngungap pun menunjukkan betapa cantiknya dirinya, sang primadona ini memiliki nama ilmiah Phaeton lepturus atau yang biasa disebut burung Buntut Sate. Burung buntut sate mengangkasa di atas ombak samudra Hindia dan seolah menunjukkan pesonanya. 

Burung ini memiliki bulu yang berwarna putih dengan ujung sayap yang berwarna hitam, paruh bewarna kuning dan memiliki ciri khas ekornya yang panjang yang membentu seperti tusuk sate. Karena ciri khas ini lah, burung ini disebut sebagai burung Buntut sate. Kami mengamati 4 burung Buntut Sate dalam ukuran tubuh yang berbeda 3 besar dan 1 kecil. Beberapa dari kami mengabadikan momen yang telah ditunggu itu dan beberapa menggambar serta menulis karakteristik burung ini. Selain sang primadona alias burung buntut sate ini, pantai Ngungap ini juga menyimpan burung walet. Burung-burung ini tinggal di celah-celah karang terbing, mereka tinggal di celah-celah tebing untuk menghindari predator yang mengancam keselamatan mereka. 

Setelah hasrat kami terpuaskan dengan kemunculan primadona pantai Ngungap ini akhirnya kami memutuskan untuk bergegas meninggalkan pantai dengan sejuta pesonanya ini. Kami pulang dari pantai sekitar jam 2. Sebelum kembali ke kampus maupun kerumah kami mampir dulu ke rumah salah satu kakak kelas kami untuk numpang makan siang hihi. Setelah Adzan Magrib berkumandang para anggota sholat dan setelah selesai sholat maka perjalanan pulang pun dimulai.

Jumat, 22 Desember 2017

Birdwatching for Kids at Purworejo

oleh Arif Rahman
24 Juli 2017

Alarm berbunyi tepat ketika pagi masih benar-benar ranum. Desiran jangkrik sawah masih terdengar jelas disekitar benda-benda berbayang yang ku lihat saat hendak mematikan alarm yang berbunyi dari ponsel. Tak selang waktu gema adzan yang menandakan subuh berkumandang memenuhi langit, bumi, dan mimpi-mimpi masyarakat desa yang masih tertidur pulas. Ku buka lagi ponsel adakah agenda untuk pagi hari ini, dan ternyata tertulis di note bahwa bionic ada agenda membantu proker kkn Mba Nia yang tempatnya di purworejo. 

Lalu setelah mengetahui bahwa pagi ini ada agenda yang harus ku jalankan, kakiku melangkah dengan meninggalkan bunyi srekkk...srekk..srekk bunyi khas orang bangun tidur, menuju kamar mandi untuk mengambil air wudlu lalu mengamalkan ibadah solat fajar dan solat subuh. Di penghujung solat subuh ku tangkupkan kedua tanganku dan di dalam keheningan ke merapalkan doa-doa untuk kesehatan,rejeki, dan kelancaran rejeki kepada keluarga juga teman-teman dekatku, tak lupa ku juga berdoa untuk kelancaran BW4K untuk pagi nanti.

Setelah jam dinding menunjukan pukul 5.30 ponselku berdering, kali ini notifikasi wassap. Diriku bertanya siapa gerangan yang chat diriku se pagi ini haha, “apa mungkin seseorang yang selalu tersemat di doa-doaku ya ?”. Dan setelah ku buka wassap tak lain dan tak bukan ternyata chat dari mas Wicak (Wcx) yang menkonfirmasi kedatangan untuk ikut BW4K. Mas wicak merupakan hokage bionic angkatan Merrops Filipinus setelah melengserkan hokage sebelumnya (Mas Aghnan) dengan dalih regenerasi haha. Setelah membalas pesan mas wicak seperlunya, diriku langsung bergegas untuk mandi lalu sarapan bersama bapak ibu yang kebetulan juga akan berangkat kerja pagi. Tidak lupa pada sebuah makan pagi yang khusyuk tersebut ku meminta restu buat perjalan ikut BW4K. 

Setelah semua benar-benar siap, ku tancap gas motor bersejarahku menuju kampus sebagai titik kumpul pertama yang ingin ikut BW4K. Hanya memakan waktu kurang lebih 25 menit diriku telah tiba di kampus, dan ternyata disana mas wicak telah stay menunggu kehadiranku, lalu diriku disuruh jemput Fia dikost an karena dia katanya mas wicak juga ingin ikut BW4K, karena menurutku perintah hokage mutlak maka diriku langsung menjalankannya. Dan setelah menjemput fia dan tiba di kebun biologi mas wicak kali ini stay bersama mas Kir yang konon katanya merupakan sesepuh bionic. Setelah semua kumpul kami memulai perjalanan ke purworejo tempat KKN mba Nia berada. Dengan bantuan GPS dan Maps motor kami melaju meninggalkan kampus dan jogja. Sebelum benar-benar meninggalkan jogja mas kir mampir membeli roti cakwe dan bolang-baling untuk bekal, sungguh mulia beliau tahu bahwa anak-anaknya ini tidak membawa setangkup bekal sekalipun kecuali air putih. 

Perjalan kami lanjutkan melalui jalan godean dengan melihat denah yang ada di google maps. Lalu sekitar 1 jam di perjalanan kami berhenti sebentar di kulonprogo bagian barat untuk meminta petunjuk warga dan tanpa sengaja rombongan kita bertemu dengan mas aghnan (hokage sebelum mas wicak) dan akhirnya memutuskan melanjutkan perjalanan bersama. Ada cerita lucu sekaligus perjuangan di balik perjalanan kami sampai ke posko KKN nya mba Nia yang alamatnya tertulis Jatirejo Kaligesing, Purworejo, Jawa Tengah. 

Sebelum benar-benar sampai di posko KKN mba nia kami melalui medan yang bisa saya katakan ekstrim, karena jalan yang ditunjukan GPS dan kita lalui masih benar-benar natural/asli mulai dari jalan dengan bebatuan yang tidak rata, jalanan berlempung, dan sampai jalanan yang aspalnya belum sempat rata. Perasaan takut karena diriku membawa boncengan cewek (Fia) jelas ada, tetapi mau bagaimana lagi sudah terlanjur jalan, dan untuk balik pun sudah terlanjur jauh juga. Dan kami diperjalanan hampir menghabiskan 3 jam lebih untuk bertanya dan mencari lokasi tempat kkn Mba Nia dan alhasil pun kami tiba poskonya tidak sesuai dengan apa yang diperkirakan kami tiba pukul kurang lebih 11.00.

Yaa sedih sebenernya, karena agenda BW4Knya pun hanya mba Nia sendiri yang memimpinnya sebelum kita sampai di poskonya. Lalu agar perjalanan nan jauh dimata tidak hanya berakir dalam sebuah kegabutan, mas kir pun mengusulkan untuk pengamatan sendiri. Walaupun waktu sudah siang tetapi mas Kir berpendapat tidak apalah daripada tidak sama sekali. Lalu kami (Aku, Fia, Mas Kir, Mas Aghnan, Mas Hasbi yang datangnya juga telat, dan Mas wicak) mulai melakukan pengamatan di puncak sekitar posko Mba Nia. 

Sempat kami mendengar kabar angin juga dari salah satu teman KKN Mba Nia bahwa di daerah desa Jatirejo Kaligesing masih banyak yang suka melakukan pemburuan burung. Meskipun begitu kami pun melanjutkan pengamatan, dan pada waktu itu memang kami hanya menemukan beberapa jenis burung seperti cucak kutilang, cabai jawa dan cinenen pisang terlebih hanya suara-suara seperti pelanduk semak dan elang ular bido. 

Namun ketika ku sedang berbincang dengan Fia dan mas Hasbi tentang sarang burung, tiba-tiba Mas Kir dengan naluri tajamnya yang siap membelah sebuah gunung, menangkap bahwa ada sekelebat burung Ceyx sp. yang katanya keberadaanya sampe sekarang ini masih menjadi primadona di mata pengamat burung. Karena keberadaanya yang sangat jarang dan sulit di jumpai. Pertama kali melihat gumam an Mas Kir tentang Ceyx diriku pun terengah lalu seperti apa penampakan burung yang katanya primadona tersebut. Lalu dengan tergopoh-gopoh karena ketidak sabaranku melihat seperti apa gambaran burung ceyx tanganku dengan angkuh menggagahi setiap halaman buku Mc.Kinon dan setelah ketemukan burung ceyx ternyata burung tersebut merupakan famili dari burung raja udang dan cekakak. Ada 2 jenis burung Ceyx sp. yaitu Ceyx erithacus dan Ceyx rufidorsa. Ciri dari kedua jenis burung tersebut secara kesuluruhan hampir sama yaitu berukuran sangat kecil (14cm) dan berwarna merah kekuningan, yang membedaknya pada Ceyx erithacus di bagian sayap terdapat warna biru sedangkan Ceyx rufidorsa berwarna merah muda.

Setelah mengenal si ceyx primadona tersebut lewat literatur hatikupun semakin terdedah dan melanjutkan pengamatan hingga siang untuk menemukannya. Namun apa dayaku yang masih belum cukup tangkas ini, sampai adzan dhuhur bergema hanya menemukan cucak kutilang. Karena telah teramat siang maka pengamatan kami diakhiri dan turun kembali ke posko KKN. Lalu mereview list burung yang di dapat dan membahas tentang sekelebat yang belum pasti tetapi mas Kir menduga sekelebatan tersebut merupakan sosok Ceyx si primadona. Ternyata mas Hasbi, mas Aghnan, dan mas Wicak yang lebih dulu menegnal burung juga hanya 1-2x saya menjumpai Si Ceyx tersebut sehingga mereka masih penasaran dengan gumam an Mas Kir waktu pengamatan di atas tadi. Setelah istirahat dan berdiskusi ringan di posko KKN mba Nia tersebut kami memutuskan untuk sholat dhuhur di masjid yang letaknya lumayan jauh dari Posko.

Selama perjalanan menuju masjid pikiranku benar-benar terganggu dengan kehadiran si Ceyx yang dikatakan Mas Kir tadi, rasa haus penasaranku semakin menggunung. Lalu tanpa sadar langkah kakiku terhenti dan ternyata sudah sampai pada masjid. Masjid tersebut kulihat tidak terlalu besar dan tidak juga terlalu kecil, dengan serambi-serambi yang terlihat malas karena terbayangi oleh beberapa pohon disekitarnya. Keran –keran tua di samping masjid yang mengucurkan anak-anak air menghasilkan suara bergemericik, juga derit bambu yang tumpang tendih menambah suasana masjid menjadi riuh. Di belakang masjid terdapat sungai yang waktu itu sedang kering, lalu setelah melihat sekilas gambaran masjid tersebut diriku langsung mengambil air wudlu, dan tak lama kemudian Mas Kir, Mas aghnan, Mas hasbi dan Mas Wicak juga ikut mengambil air wudlu.

Setelah diriku dan beberapa orang mengambil air wudlu lalu kita memasuki masjid, di masjid terdapat beberapa jendela kecil yang arah pandangan nya jika dilihat dari dalam akan jatuh ke sebuah sungai. Setelah memasuki masjid mas Hasbi berjalan-jalan sebentar mendekati jendela sebelah samping, dan tiba-tiba ada yang aneh dengan diri mas hasbi. Dia termenung dan menggerakan tangannya di belakang punggungnya seolah-olah memberi kode untuk mendekatinya. Lalu dengan heran ku mendekati mas hasbi dan dia berbisik 

“Cobo deloken lewat celah jendelo iki Man, ning godong empring kae kowe weruh ora ?” 

Entah mau ngomong apa lidahku mendadak kaku dan mataku benar-benar bersinar terang, semua isi kepalaku bekerja keras untuk memastikan apakah itu(burung) yang kulihat di literatur tadi dan yang digandrungi oleh beberapa pengamat karena keberadaanya yang mulai sulit ditemui ? yaa sebelum dhuhur yang benar-benar belum sempat kutunaikan sepasang mataku ini melihat Ceyx erithacus dengan sangat dekat hanya sekitar 2-3 meter di balik celah jendela masjid. Saya dan Mas Hasbi tidak henti-hentiya mengagumi kemolekan dan kemunculan Ceyx erithacus ini yang tidak sadar kemolekan tubuhnya itu di nikmati oleh 2 pasang mata, setelah kurang lebih 1 menit berlalu burung tersebut masih bertengger malas tanpa perasaan terganggu. Mas Aghnan yang selesai wudlu pun juga terperangah melihat kemunculan burung tersebut lewat jendela masjid. 

“Asem tenan cah, ketok jelass meloo melooo Ceyx e” ujar mas aghnan mengekspresikan ketakjubannya.

Sampai pada titik tertentu tiba-tiba Ceyx erithacus tersebut merasakan keberadaan kami karena terlalu gaduh mengaguminya, dan dengan cepat Ceyx tersebut terbang menghilang. Sedih rasanya belum meng-qatamkan keiindahan bulu-bulunya yang berwarna merah api tersebut, lalu tiba-tiba Mas Wicak dan Mas Kir masuk masjid setelah selesai wudlu. Sayang sekali keberuntungan belum berpihak kepada mereka berdua dan alhasil mereka hanya dapat mendengarkan kekagman dan cerita kami(aku, Mas Hasbi dan Mas aghnan). Dan yang disayangkan lagi bahwa tidak ada satupun dari kami tadi yang membawa kamera menuju masjid untuk mengabadikan moment langka tersebut, sedih rasanya. Namun setidaknya diriku menjadi terasa sangat istimewa karena bisa melihat Ceyx erithacus secara langsung dengan dekat dan itu merupakan yang pertama kalinya. Lalu setelah itu kami menunaikan sholat dhuhur secara berjamaah. Setelah sholat selesai kami meninggalkan masjid tersebut dengan rasa syukur dan bahagia kecuali mas wicak dan mas Kir dan kembali menuju posko KKN mba Nia.

Disana ternyata kami telah di buatin mie instan buat makan siang, dan tanpa penolakan kami lagsung memakanya dengan lahap karena mengingat dari pagi kita hanya makan makanan ringan (roti Cakwe) yang dibeli mas kir di pinggir jalan. Setelah selesai makan dan membereskan makanan maka kami segera pamit kepada mba Nia dan teman-temannya KKN karena telah merepotkan di sana. Namun sebelum benar-benar balik jogja Mas Kir masih penasaran dengan si Ceyx erithacus di masjid tadi, maka kami memutuskan untuk melakukan pengamatn lagi sebentar dan kali ini kamera juga telah disiapkan jika keberadaan si Ceyx muncul kembali. 

Namun setelah 30 menit kita nyepot di sekitar masjid si Ceyx tidak kunjung-kunjung kelihatan lagi, alhasil kita tidak berhasil melihatnya lagi dan hanya bisa membawa cerita serta pengalaman untuk kita sampaikan kepada rekan rekan bionic nantinya. Walaupun kita tidak berhasil membawakan foto Ceyx erithacus kepada rekan keluarga Bionic setidaknya kami menemukan lokasi yang keberadaan Ceyx erithacus masih dapat di jumpai. Terakhir kita pulang dengan membawa sebuah cerita yang menakjubkan yang siap dibagikan ke keluarga bionic tercinta.

Minggu, 05 November 2017

Memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional dengan Pengamatan Burung Raptor

Bertepatan dengan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) yang diperingati setiap tanggal 5 November, UKM-FMIPA KPB Bionic UNY menyelenggarakan Pengamatan Burung Raptor. Pengamatan Burung Raptor merupakan rangkaian kegiatan setelah Stadium General: Burung Raptor yang dilaksanakan dua hari sebelumnya. Sehari sebelumnya, Mas Kiir, Wahab Febri Andono, Aghnan Pramudihasan dari KPB Bionic UNY dan Ali dari Institut Pertanian Yogyakarta sempat melakukan pengamatan burung raptor di Watu Goyang Imogiri Bantul.

Di acara Stadium General: Burung Raptor, peserta sudah memperoleh pembekalan materi tentang identifikasi burung raptor. Pada kegiatan ini, ilmu identifikasi burung raptor akan diaplikasikan secara langsung di lapangan. Lokasi yang dipilih adalah Bukit Djarum, sebuah bukit yang berada di sebelah barat Museum Ulen Sentalu, Kaliurang.

Pesserta berangkat dari FMIPA UNY sekitar pukul 07:00 WIB. Tiba di lokasi, hamparan rumput hijau dan pepohonan menyambut rombongan peserta. Gunung Merapi dan dua bukit yang mengapitnya terlihat jelas sebelum kabut menutup pemandangan indah ini.

Teropong monokuler dan teropong binokuler segera dikeluarkan peserta untuk mengeksplor keberadaan burung raptor migran yang melintas. Peserta terlihat begitu antusias apalagi ketika dua ekor Elang-ular Bido (Spilornis cheela) soaring sambil bersuara saling bersahutan.

Peserta kegiatan Pengamatan Burung Raptor kali ini bukan hanya dari anggota Bionic dan mahasiswa UNY saja melainkan perwakilan dari beberapa instansi juga turut serta. Perwakilan dari KSSL FKH UGM dan Institut Pertanian Yogyakarta, bahkan ada yang jauh-jauh dari BBC Ardea UNAS Jakarta dan Pelatuk Unnes Semarang. Mas Asman Adi Purwanto dari Raptor Indonesia (RAIN) yang menjadi pemateri di SGBR datang bersama isteri dan anaknya. Datang juga Mas Okie Kristyawan alumni UKDW yang merupakan salah satu senior dalam pengamatan burung khususnya burung raptor.

Sebuah tantangan sempat dilontarkan oleh Mas Asman Adi Purwanto kepada Bionic pada sesi diskusi dan kesan pesan. KPB Bionic UNY sudah dikenal dalam setiap tahun rutin menggelar Festival Burung Pantai dan Festival Burung Raptor, bagaimana jika menyelenggarakan seminar nasional yang bertemakan burung migran. Semoga tahun depan bisa terwujud.

Cuaca yang sedikit berubah-ubah membuat beberapa kali pengamat memilih beristirahat di tempat yang telah disediakan panitia. Sekitar pukul 11:00 WIB kegiatan ditutup dengan foto bersama. Beberapa peserta kembali ke rumah masing-masing, sedangkan beberapa yang lainnya ingin meneruskan kegiatan pengamatan burung di Plawangan Taman Nasional Gunung Merapi. (Aghnan)

Sabtu, 04 November 2017

Stadium General: Burung Raptor

Setelah sukses dengan kegiatan Festival Burung Pantai 2017 kemarin, UKM-FMIPA Kelompok Pengamat Burung Bionic UNY menggelar acara Stadium General: Burung Raptor pada hari Jumat (2/11) di Laboratorium Astronomi FMIPA UNY. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan mahasiswa dan masyarakat umum tentang pengertian burung raptor, cara mengidentifikasi burung raptor serta distribusi raptor di Indonesia dan Yogyakarta. Kegiatan ini juga sebagai persiapan untuk monitoring atau pengamatan burung raptor migran di wilayah Yogyakarta.

Peserta pada acara Stadium General: Burung Raptor ini sebanyak 30 orang dari berbagai instansi, antara lain perwakilan dari Institut Pertanian Yogyakarta (INTAN), KSB Atma Jaya, Kelompok Studi Satwa Liar UGM, Biolaska UIN Sunan Kalijaga dan KPB Bionic UNY serta mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta.

Kegiatan ini dibuka oleh Alfiana Cahyaningrum selaku MC, kemudian sambutan dari Dwi Kurniasari selaku ketua panitia kegiatan. Memasuki acara penyampaian materi, Aghnan Pramudihasan selaku moderator memperkenalkan dua pembicara yang sudah berkecimpung di dunia perburungan daerah Yogyakarta khususnya burung raptor.

Pembicara yang pertama adalah Asman Adi Purwanto, anggota dari Raptor Indonesia (RAIN) dan juga anggota dari Asian Raptor Research and Conservation Network (ARRCN). Beliau juga penulis dari buku berjudul Panduan Lapang Burung Pemangsa di Kawasan Konservasi Balai Besar KSDA Jawa Timur. Dalam kesempatan ini, beliau memberikan materi tentang Burung Raptor dan Identifikasi Burung Raptor.

Pembicara yang kedua Rahmadiyono Widodo, anggota KPB Bionic UNY yang saat ini menjadi koordinator Paguyuban Pengamat Burung Jogja (PPBJ). Kegiatan survei elang migran dan survei populasi Elang Jawa sudah pernah dilakukan pembicara kedua ini. Materi tentang Distribusi Burung Raptor di Yogyakarta pun dipilih untuk disampaikan di acara Stadium General: Burung Raptor.

Setelah sesi tanya jawab yang berlangsung cukup menarik dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh peserta, panitia membuat kuis berhadiah poster burung karya Birdpacker. Ali Mustofa Saifudin dari Intitut Pertanian Yogyakarta dan Mega dari Universitas Negeri Yogyakarta berhak memperoleh poster setelah berhasil menjawab kuis dari panitia.

Follow up dari kegiatan ini adalah pengamatan burung raptor yang akan dilaksanakan di Bukit Jarum Kaliurang pada hari Minggu (5/11). Peserta yang sudah konfirmasi untuk acara pengamatan burung raptor migran ini sudah melebihi kuota sehingga ditutup demi keamanan dan kenyamanan berkegiatan. Panitia menyediakan opsi lain yaitu Sabtu (4/11) untuk pengamatan burung raptor migran di Watu Goyang Imogiri Bantul. (Aghnan)

Minggu, 15 Oktober 2017

Festival Burung Pantai 2017 - Kuota Full

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki habitat pantai potensial bagi burung-burung pantai baik lokal maupun migran. Sejauh ini telah banyak lokasi-lokasi di Indonesia yang teridentifikasi sebagai tempat singgah burung-burung pantai migran. Salah satunya di Muara Sungai Progo, Yogyakarta yang berada di perbatasan antara Kabupaten Bantul dan Kabupaten Kulonprogo.

Pada tanggal 14-15 Oktober 2017, KPB Bionic UNY mengadakan event Festival Burung Pantai 2017. Acara ini merupakan kegiatan tahunan yang rutin digelar dengan tujuan awal untuk melatih anggota baru khususnya dan mahasiswa atau masyarakat pada umumnya dalam mengenal burung pantai terutama burung pantai migran. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ajang bertemunya para kelompok pengamat burung dari berbagai instansi untuk bertukar informasi tentang burung pantai migran khususnya yang singgah di Muara Sungai Progo.

Festival Burung Pantai kali ini lebih meriah dengan banyaknya peserta yang berasal dari berbagai instansi baik dari Yogyakarta maupun luar Yogyakarta seperti Pelatuk BSC UNNES dari Semarang, Sayap Sadar USD dari Yogyakarta, BBC Ardea UNAS dari Jakarta, KSHL Comata UI dari Jakarta, Institut Pertanian INTAN dari Yogyakarta, Kepak Sayap UNS dari Solo, Imabio Universitas Jambi, Universitas Gadjah Mada, KSB Universitas Atma Jaya dan dari Universitas Negeri Yogyakarta dengan total sekitar 50 peserta.

Rangkaian acara dimulai dengan pemberangkatan peserta pada Sabtu (14/10) siang menuju tempat menginap dilanjutkan pengamatan burung pantai migran sore sampai menjelang petang. Meskipun hujan sempat beberapa kali turun, antusias peserta untuk melakukan pengamatan burung pantai tidak berkurang.

Setelah ishoma, kegiatan dimulai dengan sambutan dari Ketua Bionic 2017, Wicak Aji Pangestu kemudian dilanjutkan dengan penyampaian dua materi yang sudah dipesiapkan oleh panitia. Materi I tentang Identifikasi Burung Pantai disampaikan oleh Panji Gusti Akbar dan Materi II tentang Pengenalan Pantai Trisik disampaikan oleh Aghnan Pramudihasan dilanjutkan oleh Imam Taufiqurrahman.

Sebelum materi kedua disampaikan, terdapat kuis untuk menebak jenis burung pantai dimana 10 peserta dengan jawaban benar terbanyak akan mendapatkan hadiah dari Birdpacker selaku salah satu sponsor berupa kaos dan poster ditambah topi dari Hamba Allah.

Minggu pagi, peserta berangkat ke Muara Sungai Progo untuk melakukan pengamatan burung pantai migran. Jumlah peserta semakin banyak pada sesi pengamatan pagi ini, beberapa peserta menyusul. Salah satu tamu undangan, Bapak Agung Wijaya Subiantoro, M.Pd. selaku Dosen Pendidikan Biologi UNY datang dan bergabung untuk melakukan pengamatan burung pantai migran di Muara Sungai Progo.

Pembagian hadiah pemenang kuis dilakukan di Muara Sungai Progo. Teriknya panas matahari tidak mengurangi antusias peserta. Dalam kesempatan ini, tiap instansi diminta untuk menyampaikan kesannya selama mengikuti kegiatan ini.

Salah satu perwakilan dari Kepak Sayap UNS menyampaikan bahwa sebenarnya dia dan teman-temannya masih tahap belajar dalam mengenal jenis-jenis burung pantai, mereka sangat terbantu dengan adanya kegiatan ini.

Kegiatan ditutup oleh ketua panitia kegiatan, Ika Nur Rahma dilanjutkan dengan packing dan kembali ke tempat masing-masing. Semoga kegiatan ini dapat diselenggarakan kembali tahun depan dan dapat menjadi perhatian bagi para take holder untuk lebih melestarikan tempat singgah burung-burung pantai migran khususnya di Muara Sungai Progo. (Aghnan)

Sabtu, 07 Oktober 2017

PERGAM XV Bionic 2017

PERGAM XV merupakan kegiatan KPB Bionic UNY untuk merekrut calon anggota baru. Nama PERGAM sendiri sebenarnya merupakan nama dari salah satu jenis burung keluarga Columbidae atau merpati, kemudian diutak-atik menjadi singkatan Perekrutan Anggota Muda.

Kegiatan ini dilaksanakan di Tahura Bunder Gunungkidul pada tanggal 30 September – 1 Oktober 2017. Sebanyak 40an peserta dari berbagai program studi mengikuti kegiatan ini.

Kegiatan diawali dengan registrasi peserta dan pemberangkatan menuju lokasi Tahura Bunder, Gunungkidul. Setelah istirahat beberapa saat, peserta diberikan pembekalan materi tentang Pengenalan Burung dan Habitatnya, dilanjutkan games andalan Bionicers yaitu melukis wajah seperti burung yang sebelumnya dalam bentuk puzzle.

Materi selanjutnya tentang Pengenalan Pengamatan Burung dilanjutkan kumpul dengan pemandu dan teman sekelompok. Setelah Ashar, pengamatan burung pada sore hari dimulai sampai menjelang petang.

Di malam hari, dilaksanakan diskusi hasil pengamatan dan perkenalan dari seluruh peserta dan anggota Bionic yang ikut meramaikan acara ini, mulai dari yang baru lulus study sampai yang senior-senior dari berbagai angkatan. Para senior berkesempatan berbagi cerita tentang Bionic pada jamannya.

Paginya, setelah melakukan senam pagi peserta secara berkelompok bersama pemandu masing-masing melakukan pengamatan burung sesuai track yang sudah ditentukan. Menjelang siang hari, setelah diskusi hasil, panitia membuat tantangan kepada peserta yang bisa menjelaskan jenis burung terbanyak akan memperoleh hadiah berupa watercolor illustration dari Ratih Dewanti selain itu hasil sketsa peserta juga akan dinilai dan 3 sketsa terbaik akan memperoleh kaos Birdpacker.

Sebelum penutuapn, peserta dikumpulkan untuk menyaksikan inagurasi yang berisi foto maupun video hasil dokumentasi panitia dilanjutkan penentuan nama angkatan dan koordinator. Setelah berdebat sebentar, diputuskanlah nama Keluarga Bionic Angkatan XV adalah Cekakak Jawa dengan alasan selalu bahagia (versi cowok) dan cantik warnanya (versi cewek).

Semoga kalian bisa menetas sampai Gelatik (Gelar Pelantikan).

Rabu, 20 September 2017

KPB Bionic UNY Rebut 3 Juara Nasional dalam Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Birdwatching Competition 2017

Kelompok Pengamat Burung BIONIC Universitas Negeri Yogyakarta (KPB Bionic UNY) kembali menorehkan prestasi dalam ajang lomba pengamatan burung. Kali ini dalam event nasional Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Birdwatching Competition 2017 yang diselenggarakan untuk pertama kalinya, dari tanggal 15-17 September 2017 di Ranu Darungan (Ranu Linggo Rekisi) TNBTS.

Ketua Panitia kegiatan, Koestriadi Nugra Prasetya atau biasa dipanggil Ibung menjelaskan tujuan dari kegiatan ini antara lain sebagai ajang promosi dan publikasi minat wisata khusus sehingga menarik minat pemerhati burung untuk berkunjung ke TNBTS; menambah database perjumpaan burung di kawasan TNBTS; meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap konservasi burung di habitat alaminya; sarana kampanye konservasi keanekaragaman hayati di TNBTS; sekaligus untuk memperingati Hari Konservasi Alam Nasional.

Sebelum perlombaan birdwatching, peserta memperoleh beberapa pembekalan materi antara lain Tentang Taman Nasional Bromo Tengger Semeru oleh Bapak Ahmad Susdjojo, S.Sos. selaku Kepala Bidang PTN Wilayah II TNBTS dan materi tentang Etika Fotografi Satwa Liar oleh Budi Hermawan dari Wildlife Photographer. Setelah perlombaan, peserta juga mendapatkan materi tentang Burungnesia oleh Waskito Kukuh Wibowo dari Birdpacker dan Atlas Burung Indonesia oleh Imam Taufiqurrahman selaku koordinator ABI.

Juri dalam event TNBTSBC 2017 ini merupakan pakar dalam dunia burung dan sudah berkompeten dalam penjurian lomba birdwatching, adalah Imam Taufiqurrahman dari Yayasan Kutilang Yogyakarta; Swiss Winnasis dari Taman Nasional Baluran; dan Karyadi Baskoro yang merupakan Dosen Biologi Universitas Diponegoro.

Peserta TNBTS Birdwtching Competition 2017 sebanyak 60 tim berasal dari Yogyakarta 12 tim, Semarang 13 tim, Malang 11 tim, Jakarta 9 tim, Surabaya 4 tim, Situbondo 2 tim, Solo 1 tim, Kediri 1 tim, Lumajang 1 tim, Bali 1 tim, Lombok 2 tim dan Campuran 2 tim. Tim-tim ini berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa dan umum. KPB Bionic UNY mengirimkan 8 tim dimana 3 tim diantaranya berhasil memperoleh juara dalam event nasional ini.

Hasil penilaian dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Birdwatching Competition 2017 adalah sebagai berikut: Kategori Pengamatan Burung, Juara Pertama diraih oleh Tim Pelatuk 2 dari Pelatuk BSC UNNES; Juara Kedua diraih oleh Tim Bionic WSATJC dari KPB Bionic UNY yang beranggotakan Muhamad Hasbi Ashidiqi, Ahmad Saiful Abid dan Panji Gusti Akbar; dan Juara Ketiga diraih oleh Tim Birdpacker dari Malang yang salah satu personilnya adalah Kurnia Ahmadin lulusan Biologi UNY dan anggota KPB Bionic UNY.

Kategori Fotografi Burung, Juara Terbaik Pertama diraih oleh Tim Calon Jemaah Haji dari Malang yang salah dua personilnya adalah Ahmad Zulfikar Abdillah dan Raden Arif Alfauzi lulusan Biologi UNY dan anggota KPB Bionic UNY; Juara Terbaik Kedua diraih oleh Tim Ardea 1 dari BBC Ardea Universitas Nasional Jakarta; dan Juara Terbaik Ketiga diraih oleh Tim Bionic Rade dari KPB Bionic UNY yang beranggotakan Ratih Dewanti, Ahmad Arif dan Rahmadiyono Widodo.

Selain itu, juri juga mengumumkan Tim Berpotensi Kategori Pengamatan Burung yang Juara Pertama diraih oleh Tim PPB dari Biolaska UIN Suka; Juara Kedua diraih oleh Tim Bionic A.K.A Familia dari KPB Bionic UNY yang beranggotakan Aghnan Pramudihasan, Kiryono dan Andri Nugroho; dan Juara Ketiga diraih oleh Tim GC Mamen dari Green Community Biologi UNNES. (Aghnan)

Minggu, 09 April 2017

Birdwatching for Kids di Sedayu Bantul

Banyak cara dan teori tentang konservasi, namun tindakan jauh lebih dibutuhkan daripada hanya sekedar mendefinisikan teori tentang konservasi. Kelompok Pengamat Burung Bionic Universitas Negeri Yogyakarta (KPB Bionic UNY) memiliki program yang disebut dengan Birdwatching for Kids, dimana kegiatan ini biasanya dilakukan di tempat KKN sebagai program kerja individu.

Tujuan dari Birdwatching for Kids adalah supaya anak-anak yang mengikuti kegiatan ini dapat belajar peduli lingkungan, mencintai alam dan rekreasi. Manfaat dari kegiatan ini antara lain sebagai upaya pelestarian alam terutama burung, menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan dan cara lain belajar di lam yang mengasyikkan.

Pada KKN semester genap ini, setidaknya ada 3 mahasiswa yang melaksanakan Birdwatching for Kids di lokasi KKN mereka. Mereka adalah Desi Dwi Ariyanti, Fitria Permatasari dan Ika Nur Rahma yang berlokasi di Sedayu, Bantul.

Kegiatan yang pertama pada hari Minggu (2/4), berada di dua lokasi sekaligus yaitu di Gunung Polo dan Dusun Kepuhan Argomulyo Sedayu Bantul. Peserta yang mengikuti kegiatan ini total sebanyak 26 anak dengan pemandu dari KPB Bionic UNY sebanyak 7 orang. Di akhir kegiatan, anak-anak diminta menceritakan burung-burung yang berhasil mereka amati. Beberapa jenis burung yang dijumpai antara lain Bondol jawa / Javan Munia, Kuntul kerbau / Cattle Egret, Elang-ular bido / Crested Serpent Eagle, Cekakak jawa / Javan Kingfisher, Burung-madu sriganti / Olive-backed Sunbird.

Kegiatan yang kedua dilaksanakan pada hari Sabtu (8/4) di Surobayan Argomulyo Sedayu Bantul dengan peserta sebanyak 64 anak dan pemandu sebanyak 7 orang dari KPB Bionic UNY. Kegiatan Birdwatching for Kids kali ini dikombinasikan dengan games yang salah satunya adalah menyusun puzzle bergambar burung.

Salah satu pemandu, Aghnan Pramudihasan mengatakan bahwa KPB Bionic UNY akan menyiapkan materi berupa booklet pengamatan burung dan pemandu untuk membantu mengkondisikan anak-anak yang mengikuti kegiatan Birwatching for Kids. Kendala yang dialami dalam kegiatan ini adalah jumlah teropong binokuler yang dimiliki KPB Bionic UNY masih terbatas sehingga harus meminjam dari kampus lain.

“Anak-anak terlihat antusias saat mendengarkan penjelasan mengenai cara menggunakan teropong binokuler dan cara mengamati burung. Mereka juga terlihat antusias ketika memprektekkan langsung menggunakan teropong binokuler meskipun terkadang bingung sendiri karena belum terbiasa,” tambahnya.

Booklet yang dibuat KPB Bionic UNY berisi penjelasan tentang birdwatching, cara mengamati burung, tabel pengamatan yang disediakan tempat untuk menggambar burung dan halaman mewarnai gambar burung. Di halaman akhir, terdapat semacam soal dimana anak-anak diminta untuk mencocokkan bentuk paruh burung dengan makanannya dan berbagai macam bentuk kaki burung dengan jenis burungnya. (Aghnan)

Selasa, 07 Maret 2017

Launching Buku Burung Kampus UNY Karangmalang

Kelompok Pengamat Burung Bionic Universitas Negeri Yogyakarta (KPB Bionic UNY) berhasil melangsungkan acara Launching Buku Burung Kampus UNY Karangmalang pada hari Sabtu (4/3) yang bertempat di Gedung Laboratorium Astronomi FMIPA UNY. Acara ini sudah menjadi cita-cita Bionicers, yaitu Bionic dapat membuat satu karya yang dapat bermanfaat. Bentuk nyatanya yaitu terbentuknya buku Burung Kampung UNY Karangmalang yang berisi jenis-jenis burung yang ada di kampus UNY Karangmalang.

Acara launching buku ini dihadiri oleh pembina KPB Bionic UNY yaitu bapak Sukiya, M.Si. dan Wakil Dekan III FMIPA UNY, Ir. Suhandoyo, M.S yang memberikan sambutan sekaligus membuka acara ini. Peresmian acara launching buku dengan cara penandatanganan buku Burung Kampus FMIPA UNY oleh kedua penulis buku tersebut yaitu Zulqarnain Assiddiqi, S.Pd, Zulfikar Abdullah, S.Pd, bapak Sukiya, M.Si dan bapak Suhandoyo, M.S.

Setelah sesi pengenalan kedua penyusun, peserta dipersilahkan menikmati coffe break dan hiburan dari panitia. Acara berikutnya sesi bedah buku yang dimoderatori oleh Raden Arif Alfauzi dan Aghnan Pramudihasan. Sebelum dimulai, Bapak Sukiya, M.Si. dan Bapak Dr. Hartono, M.Si. selaku Dekan FMIPA UNY memberikan sedikit pengantar dan apresiasi.

Pembina Bionic, Bapak Sukiya, M.Si. menyampaikan bahwa buku ini sudah bagus tetapi masih bisa dikembangkan lagi melihat list jenis burung yang didata di kampus setiap tahunnya. Data jenis burung bisa ditambah dengan jenis pohon yang digunakan apakah hanya sebagai tempat hinggap, tempat makan atau tempat bersarang. Sehingga arahnya bisa ke koonservasi atau menjaga keberadaan mereka di kampus ini.

Menurut Zulqarnain Assiddiqi, S.Pd atau yang lebih sering disapa dengan nama Zuqi, alasan awal pembuatan buku Burung Kampus UNY Karangmalang adalah setiap tahun KPB Bionic melakukan pendataan burung kampus UNY dan diperoleh data, namun data yang diperoleh hanya menjadi data yang tidak ada artinya karena beluma ada tindak lanjut dari kegiatan tersebut. Oleh karena itu, terpikirlah oleh mereka untuk mebuat data burung yang sudah terkumpul menjadi buku.

Ahmad Zulfikar Abdullah, S.Si. menambahkan, "Kami hanya menyusun saja, bukan menulis karena barangnya sudah ada tinggal disusun. Awalnya belum terbesit mau dikeluarkan dalam bentuk buku, tetapi hanya sebatas softfile saja."


Sekitar 50 orang peserta yang hadir pada acara launching buku antara lain dari BIOLASKA UIN, KPALH CARABINER FT UNY, KP3 Burung UGM, Kepak Sayap UNS, Binobio UAD, KSB UAD dan beberapa perwakilan Ormawa yang ada di FMIPA UNY. Perwakilan setiap organisasi yang hadir mendapat satu buku untuk menanmbah pengetahuan mereka dan sebagai salah satu bentuk publikasi. (Nurul/Aghnan)

Forum Diskusi #1 Paguyuban Pengamat Burung Jogja

Kelompok Pengamat Burung Bionic Universitas Negeri Yogyakarta (KPB Bionic UNY) termasuk anggota dari Paguyuban Pengamat Burung Jogja (PPBJ) bersama Biolaska UIN Sunan Kalijaga, Silvagama UGM, KP3Burung UGM, KSSL UAJY, Binobio UAD, BSC UAD dan kelompok lainnya. Pada hari Kamis (2/3) kemarin, PPBJ mengadakan Forum Diskusi #1 dimana Silvagama UGM sebagai tuan rumah memilih Ruang V Lantai 2 Gedung A Fakultas Kehutanan UGM sebagai tempat diskusi.

Agenda Forum Diskusi #1 ini berisi tentang sharing hasil seminar Konferensi Peneliti dan Pemerhati Burung Indonesia 3 Bali dan sharing Asian Waterbird Census. Kegiatan yang dimulai pukul 19:00 WIB ini diawali dengan perkenalan singkat dari peserta dilanjutkan sharing hasil seminar KPPBI 3 Bali yang diwakili oleh Rahmadiyono Widodo dari KPB Bionic UNY dan Robert Fernando dari KSSL UAJY.

Koordinator PPBJ, Rahmadiyono Widodo menjelaskan bahwa topik utama yang diangkat dalam KPPBI 3 Bali ini tidak jauh berbeda dengan KPPBI 2 Jogja. Topik utama yang diangkat adalah 1) Burung di habitat alaminya, 2) Burung di habitat yang dimodifikasi, 3) Topik khusus tentang konservasi Curik Bali dan 4) Scientific Journalism. Sedangkan untuk workshop, topik yang disediakan adalah 1) Fotografi untuk studi burung, 2) Percincinan burung, 3) Konservasi burung pemangsa dan 4) Peran medik konservasi untuk pelestarian burung.

Acara berikutnya sharing Asian Waterbird Census yang dilakukan Silvagama UGM, KPB Bionic UNY dan PPBJ. Perwakilan dari Silvagama UGM menceritakan pengambilan data Asian Waterbird Census yang mereka lakukan di Laguna Segara Anakan pada tanggal 3-4 Januari 2017. Mereka menggunakan perahu untuk mendata jenis-jenis burung air di sana.

KPB Bionic UNY diwakili Aghnan Pramudihasan mempresentasikan kegiatan AWC yang dilakukan di dua tempat yaitu Waduk Mulur Sukoharjo dan Pagak Purworejo. AWC Waduk Mulur dilaksanakan pada tanggal 17 Januari 2017 dengan jumlah 27 jenis burung yang teramati, sedangkan AWC Pagak Purworejo pada tanggal 23 Januari 2017 dengan jumlah 38 jenis burung yang teramati.


Kegiatan Asian Waterbird Census yang dilakukan PPBJ dipresentasikan oleh Rahmadiyono Widodo dan Zulaima Rakhmatiar dari KP3Burung Fakultas Kehutanan UGM. Kegiatan yang disampaikan meliputi AWC di Arboretum UGM dan AWC di Delta Sungai Progo. Di akhir acara disampaikan agenda PPBJ terdekat adalah Jogja Bird Walk dengan penanggung jawab dari KSSL UAJY. (Desi/Aghnan)

Ikut Meru Betiri Sercive Camp XVIII

Tidak kurang dari 135 peserta yang didominasi oleh mahasiswa pecinta alam datang dari berbagai penjuru kota untuk mengikuti MBSC (Meru Betiri Service Camp) XVIII yang diselenggarakan selama 5 hari terhitung mulai tanggal 3-7 Februari 2017 berlokasi di Sukamade, Taman Nasional Meru Betiri.

KPB Bionic UNY mendelegasikan Wicak Aji Pangestu dan Arma Abdul Malik untuk mengikuti kegiatan ini. Mereka berangkat bersama dengan delegasi KS Odonata, KS Herbiforus dan BSO Arwana dari Jurusan Pendidikan Biologi UNY.

Meru Betiri Service Camp merupakan salah satu bentuk pendidikan kader konservasi dalam memasyarakatkan kesadaran akan pentingnya nilai konservasi sumber daya alam di masyarakat. Kegiatan MBSC ke-18 ini sendiri merupakan salah satu program kerja dari Taman Nasional Meru Betiri.

Meru Betiri Service Camp XVIII mengusung tema “Satu Gerakan Berjuta Aksi Melalui Konservasi Untuk Negeri”, hal ini dimaksudkan bahwa MBSC XVIII bertujuan untuk mencetak kader konservasi yang peka terhadap lingkungan, karena hal ini merupakan kewajiban kita semua sebagai motivator, katalisator dan dinamisator dalam upaya pembangunan yang berwawasan lingkungan.

Ketua Bionic 2017, Wicak Aji Pangestu menceritakan alasan dia mengikuti kegiatan ini adalah banyaknya materi yang diberikan pada kegiatan ini yang salah satunya adalah tentang pengamatan burung. Di dalam pamflet juga disebutkan bahwa perlengkapan yang perlu dibawa peserta antara lain tenda, binocular, kompas dan buku MacKinnon sehingga dia sangat tertarik.


Sebanyak 13 materi diberikan kepada peserta MBSC XVIII, yaitu: Kehutanan Umum, KSDAHE, Herbarium dan Analisis Vegetasi, Flora dan Fauna Indonesia, Flora dan Fauna Taman Nasional Meru Betiri, Hitung Karbon, Pengamatan Burung, Ekologi, Karnivor Besar dan Plestercast, Global Warming, Ekowisata dan Enterpretasi, Pengamatan Masyarakat, dan Advokasi Lingkungan. (Aghnan)

Selasa, 28 Februari 2017

Simulasi Lomba Pengamatan Burung di Taman Nasional Gunung Merapi

Kelompok Pengamat Burung Bionic Universitas Negeri Yogyakarta pada hari Minggu (26/2) kemarin baru saja menyelenggarakan kegiatan simulasi lomba pengamatan burung di Taman Nasional Gunung Merapi. Kegiatan ini bertujuan untuk memberdayakan dan meningkatkan kemampuan anggota KPB Bionic UNY dalam kegiatan eksplorasi burung dan habitatnya serta meningkatkan kepedulian mahasiswa terhadap keanekaragaman hayati di Indonesia terutama jenis burung. Selain itu, kegiatan ini dapat menjadi ajang tukar pengalaman dari yang pernah mengikuti lomba pengamatan burung kepada anggota baru KPB Bionic UNY.
 
Bidang Operasional Bionic, Aghnan Pramudihasan mengatakan bahwa kegiatan pengamatan kali ini dibuat seperti lomba pengamatan burung. Peserta dibagi menjadi kelompok-kelompok yang beranggotakan maksimal 3 orang. Setiap kelompok diwajibkan membuat sketsa burung yang dijumpai dan tidak diperbolehkan membuka buku panduan identifikasi. Masing-masing kelompok dibebaskan memilih jalur pengamatan.

Pukul 11:00 WIB, peserta diwajibkan kembali ke titik kumpul untuk mempresentasikan hasil pengamatan masing-masing. Di akhir diskusi, Panji Gusti Akbar menyampaikan beberapa tips dan trik dalam mengikuti lomba pengamatan burung agar mendapatkan hasil yang maksimal.

"Kalau dalam lomba diharuskan membuat sketsa burung, kita harus bisa membagi waktu untuk fokus pengamatan dan waktu untuk fokus membuat sketsa. Selain itu, jangan meremehkan kuis yang biasanya berupa pengetahuan tentang lokasi pengamatan, gambar burung dan suara burung", kata Panji Gusti Akbar yang menjuarai event Bali Bird Watching Race 2016 dan juara kedua Lomba Bird Watching Merapi 2014.

Sebanyak 16 peserta terlihat antusias mengikuti kegiatan ini, mulai dari pengamatan burung, diskusi hasil pengamatan dan share pengalaman tips dan trik lomba pengamatan burung. Setelah kegiatan ini, harapannya peserta memperoleh gambaran tentang lomba pengamatan burung karena akan ada beberapa event di tahun 2017 ini. (Aghnan)

Rabu, 08 Februari 2017

KPPBI III di Bali

Konferensi Peneliti dan Pemerhati Burung di Indonesia (KPPBI) ke-3 telah usai, kegiatan tahunan yang selalu ditunggu-tunggu oleh para peneliti dan pemerhati burung untuk saling bertukar informasi tentang burung-burung di Indonesia. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Program Studi Magister Ilmu Biologi FMIPA Universitas Udhayana ini berlangsung mulai tanggal 2-5 Februari 2017.

Sebanyak 134 list abstrak penelitian tentang burung di Indonesia diterima dengan rincian 84 list untuk presentasi oral dan 50 list untuk presentasi poster. Sebanyak 250 peneliti dan pemerhati burung di Indonesia hadir dalam konferensi ini, selain peserta dari Indonesia kegiatan ini juga dihadiri oleh peserta dari Belanda, Jerman, Australia dan Amerika Serikat.

Beberapa Bionicers, sebutan bagi anggota KPB Bionic UNY mengirimkan hasil penelitian mereka dan berhasil lolos untuk dipresentasikan dalam KPPBI III. Beberapa hasil penelitian dari Bionicers yang lolos antara lain: 1) Keanekaragaman Burung di Jalur Pendakian Selatan Hutan Adat Wonosari Gunung Kidul DIY oleh Rahmadiyono Widodo, Ratih Dewanti, Lanna Murpi P dan Triajeng Nur Amalia; 2) Studi Burung-burung yang diperdagangkan di Pasar Tradisional Gawok Sukoharjo Jawa Tengah oleh Rahamadiyono Widodo dan Ahmad Arif; dan 3) Pelatihan Pengamatan Burung di Kampus FMIPA UNY untuk Meningkatkan Sikap Peduli Lingkungan pada Siswa SMA oleh Rio Christy Handziko, Aghnan Pramudihasan, Andri Nugroho dan Bowo Prakoso.
Ketua Panitia KPPBI III Bali, Luh Putu Eswaryanti Kusuma Yuni menjelaskan bahwa egiatan di koferensi ini dibagi menjadi dua yaitu simposium dan workshop. Topik utama dalam simposium antara lain: 1) Burung di habitat alaminya, 2) Burung di habitat yang dimodifikasi, 3) Topik khusus tentang konservasi Curik Bali dan 4) Scientific Journalism. Sedangkan untuk workshop, topik yang disediakan adalah 1) Fotografi untuk studi burung, 2) Percincinan burung, 3) Konservasi burung pemangsa dan 4) Peran medik konservasi untuk pelestarian burung. (Aghnan)

Senin, 30 Januari 2017

Bionic Melaksanakan Jogja Bird Walk di Jurang Jero

Kelompok Pengamat Burung Bionic Universitas Negeri Yogyakarta berkoordinasi dengan dengan anggota Paguyuban Pengamat Burung Jogja (PPBJ) melaksanakan kegiatan Jogja Bird Walk di Jurang Jero, Minggu (29/1). Jogja Bird Walk merupakan agenda pengamatan burung setiap bulan yang dikoordinasi langsung oleh PPBJ untuk mendata keanekaragaman jenis burung di suatu lokasi tertentu.


Jurang Jero terletak di Desa Ngagosuko Kecamatan Srumbung Kabupaten Magelang dan termasuk bagian dari Taman Nasional Gunung Merapi. Lokasi ini dipilih karena potensi satwa khususnya burung cukup tinggi meskipun tutupan vegetasinya cukup jarang dan didominasi oleh pohon Pinus merkusii serta Imperata cylindrica di bawah tegakannya.

Kegiatan ini diikuti oleh anggota Paguyuban Pengamat Burung Jogja yang terdiri dari berbagai kelompok pengamat seperti KPB Bionic dari FMIPA UNY sebanyak 16 orang; KP3Burung dari Fakultas Kehutanan UGM sebanyak 3 orang; KSSL dari Fakultas Kedokteran Hewan sebanyak 1 orang; dan KSB Atma Jaya sebanyak 2 orang.

Peserta berangkat dari FMIPA UNY pukul 06:45 WIB. Tiba di lokasi, peserta dibagi menjadi 3 kelompok dan melakukan pengamatan burung sesuai jalur pengamatan yang disepakati. Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi hasil pengamatan dari masing-masing kelompok.


Dari hasil diskusi, tercatat terdapat 34 jenis burung di Jurang Jero. Beberapa jenis burung yang mendominasi di kawasan ini antara lain Cucak kutilang, Bondol peking, Perling kumbang dan Cica koreng jawa. (Aghnan)

Sabtu, 28 Januari 2017

AWC Kedua KPB Bionic UNY di Pagak Purworejo

Melanjutkan kegiatan Asian Waterbird Census yang sudah dilakukan di beberapa lokasi, KPB Bionic UNY pada hari Senin (23/1) kembali melakukan kegiatan pendataan burung air di Pagak, Purworejo. Beberapa lokasi yang sudah dilakukan pendataan burung air pada bulan Januari 2017 antara lain Arboretum UGM; Waduk Mulur, Sukoharjo; dan Delta Sungai Progo.

Ketua Bionic 2017, Wicak aji Pangestu menerangkan bahwa pemilihan lokasi Pagak, Purworejo karena melihat list jenis burung tiga tahun yang lalu di lokasi ini dimana masih terdapat jenis-jenis burung air yang melimpah. Tempat pengamatan berada di sekitar aliran sungai yang masih terdapat tanaman rawa.

Peserta pada kegiatan ini antara lain Aghnan Pramudihasan, Arma Abdul Malik, Wicak Aji Pangestu, Fadholi Yudha Alif Furqon, Isdini Ganishwardhani, Dwi Pawestri, Rika Pratiwi, Elsa Aviventi, Kidung Tyas Sumekar, Kiryono (KPB Bionic UNY) dan Asman Adi Purwanto (Raptor Indonesia).

Pengamatan dimulai pukul 08:00-11:00 WIB di sekitar jembatan. Burung Kareo padi, Mandar batu dan Raja-udang biru dapat diamati dengan mudah menggunakan teropong monokuler. Bergeser ke sisi yang lain, teramati burung Bondol oto-hitam sedang mondar-mandir membawa material sarang. Memasuki daerah dekat tambak dan persawahan, burung Bondol oto-hitam dengan jumlah yang cukup banyak berada dalam satu flok.

Hasil pengamatan di Pagak, Purworejo ini tercatat terdapat 38 jenis burung dimana 14 diantaranya adalah burung air. Catatan menarik lainnya adalah Bondol oto-hitam dan Layang-layang batu yang membuat sarang. (Aghnan)

Minggu, 22 Januari 2017

Asian Waterbird Census di Delta Sungai Progo, Yogyakarta

Setelah kegiatan Asian Waterbird Census di Arboretum UGM dan Waduk Mulur Sukoharjo, Sabtu (21/1) kemarin Bionic bersama Paguyuban Pengamat Burung Jogja melakukan kegiatan pendataan burung air di Delta Sungai Progo. Kegiatan ini adalah program AWC kedua dari PPBJ.

Wicak Aji Pangestu selaku ketua Bionic 2017 menerangkan bahwa kegiatan Asian Waterbird Census bersama PPBJ yang kedua ini dilaksanakan di Delta Sungai Progo pada sore hari pukul 15:30 – 17:30 WIB. Peserta pada kegiatan ini antara lain Aghnan Pramudihasan, Rika Pratiwi dan Arma Malik dari KPB Bionic UNY, Afrizal Maula Alfarisi dan Zulaima Rakhmatiar dari KP3Burung FKT UGM; dan Dea Aprilan Berkam dari Kelompok Studi Satwa Liar FKH UGM.

Jalur menuju lokasi pengamatan kurang baik karena masih berupa tanah dan bekas dilewati truk penambang pasir. Di beberapa titik terdapat cekungan yang terisi genangan air sehingga perlu hati-hati dalam mengendarai sepeda motor, tambahnya.

Tiba di lokasi, pengamat sempat terkejut karena daratan di sekitar delta sungai semakin sedikit. Daratan yang dulu masih berupa pasir hitam kini berubah menjadi bebeatuan kecil di tengah aliran sungai. Empat gubuk kecil didirikan di sekitar delta sungai yang mungkin dihuni oleh penambang pasir.

Burung air dan burung pantai yang dijumpai di lokasi hanya tercatat beberapa saja. Satu flok gerombolan Dara-laut jambul, Cerek jawa dan Trinil pantai masih teramati di beberapa tepi sungai. Sesekali terlihat Cangak abu dan Blekok sawah terbang di sekitar delta sungai. Burung lain yang teramati adalah Layang-layang asia, Walet linci, Cici padi dan Raja-udang biru.

Data hasil kegiatan Asian Waterbird Census kedua ini akan direkap dan dikirimkan ke Wetland Indonesia. Data ini akan dianalisis dan digunakan untuk menentukan spesies-spesies burung, khususnya burung air yang perlu dilindungi karena populasinya yang menurun atau terancam.


Kegiatan Asian Waterbird Census selanjutnya adalah di Pagak, Purworejo pada hari Senin (23/1) besok. Semoga burung-burung air di lokasi ini masih mudah dijumpai seperti tiga tahun yang lalu. (Aghnan)

Selasa, 17 Januari 2017

Bionic Berpartisipasi dalam Asian Watebird Census

Setiap bulan Januari, ribuan sukarelawan pengamat burung di Asia dan Asia mengunjungi wetland atau lahan basah di sekitar kota dan melakukan pendataan burung air. Kegiatan ini selanjutnya disebut Asian Waterbird Census (AWC), yang mana menjadi bagian dari program monitoring burung air dari International Waterbird Census (IWC), dikoordinatori oleh Wetlands International.

Di tahun 2016, Bionicers melakukan kegiatan pendataan burung air di Rawa Jombor, Klaten. Tahun ini, KPB Bionic UNY turut serta dalam event Asian Waterbird Census (AWC) berkoordinasi dengan Paguyuban Pengamat Burung Jogja (PPBJ). PPBJ mengagendakan kegiatan pendataan burung air di Arboretum UGM pada tanggal 10 dan 11 Januari 2017.

Kegiatan AWC PPBJ di Arboretum UGM dilakukan pada pagi dan sore hari, dimana pada pagi hari dimulai pada pukul 05:00-07:30 WIB sedangkan pada sore hari dimulai pada pukul 16:00-18:30 WIB. Kelompok pengamat burung yang tergabung dalam PPBJ dan iut berpartisipasi pada kegiatan ini antara lain Biolaska UIN SUKA, KP3Burung UGM, Silvagama, KSB UAD, Binobio UAD dan KSB Atma Jaya. Masing-masing perwakilan dari tiap lembaga diminta mengisi 4 titik pengamatan yang sudah ditentukan sebelumnya.

Selain kegiatan AWC bersama PPBJ, Bionic juga sudah mengagendakan kegiatan pendataan burung air di Waduk Mulur, Surakarta. Kegiatan ini telah dilaksanakan pada tanggal 17 Januari 2017 kemarin. Peserta kegiatan ini tidak hanya dari anggota Bionic saja melainkan dari instansi luar. Mereka adalah Raditya Anjar, Danu dan Agus dari Binobio UAD serta Wisnu Aji dari Kepak Sayap UNS.

Dari kegiatan ini, tercatat sebanyak 11 jenis burung air dari total 27 jenis burung yang berada di Waduk Mulur, Surakarta. Jenis burung air yang dijumpai antara lain Cangak merah, Titihan australia, Mandar batu dan Bambangan kuning. List jenis burung ini selanjutnya akan direkap oleh Bidang Opersional Bionic, selanjutnya data akan dikirim ke koordinator Atlas Burung Indonesia simpul Jogja.


Kegiatan Asian Waterbird Census selanjutnya adalah pada tanggal 21 Januari 2017 di Pantai Trisik, Kulon Progo. Kegiatan ini merupakan serangkaian acara AWC dari Paguyuban Pengamat Burung Jogja. (Aghnan)

Minggu, 15 Januari 2017

SUSUNAN PANITIA LAUNCHING BUKU “BURUNG KAMPUS UNY”

Bissmillahirrahmanirrahim
Dengan menyebut Asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Susunan Panitia Launching Buku "Burung Kampus UNY Karangmalang"

Ketua Panitia              : Fadholi Yuda Alif Furqon
Sekertaris                    : Fianti Putri Ningrum
Bendahara                   : Rika Pratiwi

Koord Acara               : Arma Abdul Malik
Staff                            : Dwi Kurniasari
  Rahmadiyono Widodo
                                      Ika Nur Rahma
                                      Alfiana Cahyaningrum
                                      Puti Alifia Artalani
                                      Kidung Tyas Sumekar

Koord Humas             : Anisa Maulidiya
Staff                            : Andriyani Dinar
                                      Sekar Limonggi
                                      Findya Eprita Rimanada

Koord Konsumsi         : Husnadian Niken Nurmalitasari
Staff                            : Ulfia Nurul Hikmah
                                      Olivia Kurnia Hatami
                                      Eppy Subhekti

Koord Perkap              : M. Luqmanul Hakim
Staff                            : Aghan Pramudihasan
                                      Ahmad Arif
                                      Damar Milani
                                      Alfian Surya Fathoni
                                   
Koord PDD                : Agung Nur Nugroho
Staff                            : Varadilla Nur ‘Aini Putri
                                      Ratih Dewanti
                                      Hakiki Nurul
                                      Ishadianto Salim
                                      Dwi Pawestri
                                     
Koord Keamanan        : Isdini Ganishwardhani
Staff                              Andri Nugroho
                                      Anisa Setya Hidayah
                                      Havid Apriliano

Koord KSK                : Maryatul Qibtiyah
Staff                              Desi Dwi Ariyanti
                                      Suci Hidayati

                                      Retno Novitasari

Selamat menjalankan amanah

Kepedulian di hari ini, kelestarian dimasa depan